Dear Parents,
By: Karimah Umar Aidid
Tulisan ini dibuat, untuk memberikan
gambaran kepada para orang tua, yang mengalami dilema dan kebingungan dalam
mendidik anak, terutama terhadap pergaulan anak remaja nya, yang mana tulisan
ini di tulis dari sudut pandang seorang ibu dan juga dari kacamata islam, namun artikel ini ditulis oleh seorang anak yang sudah melalui masa remajanya
dan mulai memahami kekhawatiran seorang ibu. Kenapa tulisan ini dibuat? Karena
ternyata, selama ini kurang tepatnya cara mendidik seorang anak sebagian besar
diakibatkan karena kurangnya komunikasi antara anak pada usia remaja dan orang
tua, sehingga orang tua tidak dapat mengerti benar keinginan, pemikiran dan
juga perasaan anaknya. Kurangnya komunikasi ini dapat disebabkan oleh berbagai
macam hal, sedangkan sebenarnya inilah kunci keberhasilan dari mendidik anak,
disamping juga terus memberinya arahan hidup yang tepat dan pengetahuan agama
yang benar. Dan mengapa tulisan cara mendidik anak ini justru ditulis oleh
seorang anak? Karena tidak ada yang lebih mengetahui benar cara menyelesaikan
masalah, lebih dari orang yang menciptakan masalah itu sendiri dan tidak ada
yang lebih bisa memahami seorang anak kecuali juga orang yang masih memilki pemikiran
dan perasaan yang tidak jauh beda dengan mereka.
Sebagai orang tua, anak adalah segala-galanya. Apapun akan
kita lakukan demi kesejahteraan dan kebahagiaan anak kita. Namun terkadang,
dalam mendidik anak terutama di usia remaja, kita banyak mengalami kendala yang
akhirnya benar-benar menimbulkan kekhawatiran, atau lebih parahnya lagi ketika
kita tidak menyadari bahwa kita sudah salah didik. Usia remaja, adalah usia
yang sangat sensitif. Kenapa bisa begitu ? karena pada usia ini, seseorang
mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa remaja ini,
anak-anak tidak lagi mudah dikendalikan dan menuruti semua keinginan orang tua
seperti sebelumnya, karena pada usia ini anak akan mulai mencari jati dirinya
sendiri yang akan dibawa seterusnya menjadi sebuah karakter. Oleh karena itu, sering
kali timbul berbagai macam masalah. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan
anak kita menjadi pemuda ataupun pemudi yang baik. Baik akhlaknya, prestasi, agamanya
dan semua-muanya. Kita ingin anak kita taat dalam beragama, mampu menjaga batas
dengan lawan jenisnya, berprestasi dengan baik di sekolahnya, memiliki
perilaku/akhlak yang baik, tidak bergantung pada televisi ataupun gadget
terutama pada hal-hal negatifnya dan lain-lain.
Masalah yang sering dihadapi para orang tua, karena anak
remaja nya diantaranya yaitu : masalah pergaulan mereka dengan lawan jenis,
masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah, masalah ketergantungan
/ kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi, dan terkadang juga masalah
mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya dalam
beragama. Disini akan dibahas poin demi poin dari masalah tersebut, mengenai
apa penyebabnya dan juga bagaimana kira-kira solusinya.
Masalah yang pertama yaitu masalah
pergaulan dengan lawan jenis. Sebelum menanamkan hal ini kepada anak kita,
sebagai orang islam kita harus mengerti benar batasan-batasan yang islam
berikan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Seharusnya, sejak kecil kita
sudah mendidik dan menanamkan pada mereka mengenai batasan-batasan ini dengan
jelas, sehingga pada usia remaja nya sudah otomatis terbentuk prinsip dari diri
anak itu sendiri. Dalam menjaga pergaulan anak terutama dengan lawan jenisnya,
tidak dapat dilakukan dengan hanya memberi pengertian ataupun hanya dengan
membatasi ruang geraknya saja, namun kedua hal ini harus berjalan beriringan.
Hal utama yang harus ada yaitu komunikasi yang baik dan keterbukaan antara anak
dan ibu, kita harus dapat membuat mereka selalu menjadikan kita tempat untuk
curahan hati mereka, karena tanpa adanya ini maka akan terbentuk penghalang
besar yang membuat mereka menolak semua nasehat dan arahan dari kita. Jika kita
memiliki seorang putri, masalah pergaulan ini akan menjadi sangat lebih
berbahaya, terutama jika usia nya sudah akil baligh. Di sekolah, jika ia
bersekolah di negeri dimana laki-laki dan perempuan di campur dalam satu ruang
kelas, berbeda pembatasannya dengan anak yang bersekolah di sekolah dimana
laki-laki dan perempuan di pisahkan dalam ruang kelas yang berbeda. Kita tidak bisa melarang begitu saja mereka
untuk bergaul, tanpa memberi tahu dengan jelas alasannya dan tanpa memberikan
pengertian. Kepada putri kita, kita harus selalu tanamkan bahwa mereka sebagai
seorang muslimah itu diibarakan sebagai sebuah mutiara yang harus di jaga
dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka harus menjaga batasan yang jelas pada
pergaulan dengan lawan jenisnya. Penjagaan dan pembatasan ini harus seketat
mungkin, yaitu dengan memberi pengertian pada mereka mengenai tidak perlunya
komunikasi kepada lawan jenis kecuali benar-benar diperlukan. Karena dimulai
dari hal dasar seperti ini, mereka akan terhindar dari hal-hal yang lebih
besar, seperti bercanda dengan lawan jenis ataupun hingga berpacaran. Namun,
apabila penanaman prinsip ini pada mereka tidak dilakukan dengan tepat, maka
bisa jadi mereka justru menjadi minder dan kuper dalam pergaulannya, dan ini
juga bukan hal yang baik. Karena yang kita harapkan untuk terjadi adalah mereka
tetap dapat bergaul dengan luwes dengan teman-teman sesama wanita nya tetapi
juga dapat menjaga batas dengan teman lawan jenisnya. Disamping itu, kita juga
perlu memberi tahunya bahwa ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang wajar
namun tidak perlu di ekspresikan, karena tanpa memberi pengertian kepada mereka
mengenai hal ini, mereka akan menjadi malu dan takut untuk curhat kepada orang
tua nya, sedangkan hal ini justru dapat memicu hilangnya kendali kita atas
mereka. Kita harus dapat membuat anak kita mau dan mampu menceritakan seluruh
kegiatannya, dan juga isi hatinya pada kita, karena hanya dengan begitu kita
dapat mengetahui jika adanya masalah dan dapat menanganinya. Bersikap keras,
galak dan terlalu tegas sama sekali bukan solusinya, karena hal ini justru
dapat menghilangkan kenyamanan mereka pada kita, dan membuat mereka mencari
tempat lain untuk mencurahkan isi hati dan salah-salah dengan jalan berpacaran.
Pada usia remaja, baik pada anak laki-laki maupun perempuan, terkadang yang
menjadikan mereka salah bergaul dengan
lawan jenis bukan hanya karena ketertarikan tetapi juga karena lingkungan.
Terkadang, mereka berada pada lingkungan yang mayoritas tidak memiliki batasan
seperti yang mereka miliki, maka anak kita bisa saja merasa terkucilkan dan
malu akan hal itu. Oleh karena itu, kita harus terus memberi dukungan, dan hal
ini bukan dilakukan sekali saja, tetapi terus menerus secara intensif. Kita
juga harus mengerti benar dengan siapa anak kita bergaul, dan untuk hal ini
relasi juga sangat dibutuhkan untuk dapat terus mengawasi anak kita. Pengawasan
karena kekhawatiran kita itu wajar, tetapi jangan terlalu ditunjukkan kepada
anak kita, karena sikap overprotektif, justru menimbulkan keinginan besar pada
diri seorang anak untuk melawan atau memberontak bahkan membangkang dengan cara
sembunyi-sembunyi. Jika kita sudah mampu menanamkan hal tersebut pada anak
kita, maka seiring berjalannya waktu hal tersebut akan tumbuh menjadi prinsip
yang telah mendarah daging pada diri mereka, yang secara otomatis akan timbul
rasa risih dan perlindungan terhadap diri mereka sendiri dalam bergaul dengan
lawan jenis. Lama kelamaan mereka sendiri akan merasa tidak nyaman jika harus
berkomunikasi dan berurusan dengan lawan jenis, dan selalu berusaha melindungi
diri mereka dengan sebaik-baiknya. Pada anak yang sekolah di sekolah islam yang
memisahkan antara laki-laki dan perempuan, tentu masalah komunikasi sehari-hari
di dalam kelas dengan lawan jenis tidak ada. Namun masalah lain yang biasa
timbul itu rasa penasaran. Rasa penasaran inilah yang menyebabkan mereka
mencoba untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan lawan jenis di luar
lingkungan sekolah atau kegiatan pelajaran. Dan biasanya, mereka akan merasa
jauh lebih tertarik, karena ini merupakan hal baru bagi mereka. Dan masalah
yang biasa timbul yaitu karena sudah adanya sosmed yang dapat menghubungkan
satu orang dengan lainnya tanpa harus bertemu. Mengenai hal ini, akan dibahas
lebih lanjut pada poin kecanduan televisi maupun gadget. Intinya, kita sebagai
orang tua harus menaruh perhatian besar mengenai pergaulan anak kita, baik
pergaulan dengan teman-temannya yang bisa saja merupakan anak nakal maupun
pergaulan dengan lawan jenis yang dalam islam harus sangat dibatasi, komunikasi
dan penanaman nilai-nilai harus terus dilakukan yang diikuti pengawasan dan
tidak menampakkannya secara berlebihan, keterbukaan anak pada kita merupakan
kunci penting yang harus dipertahankan untuk tetap memegang kendali atas
mereka, kesalahan didik dalam hal ini sangat mungkin menjadi masalah yang sangat
serius di masa mendatang.
Masalah kedua yang juga sering timbul
yaitu masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah. Sebagai orang tua,
tentu akan menginginkan anaknya sukses dan berprestasi di sekolah, karena
dengan begitu anak kita akan lebih mudah mencapai cita-cita nya dan dapat duduk
di perguruan tinggi favorit sehingga kelak akan mendapat pekerjaan yang layak
dan hidup sejahtera. Semua orang tua tentu juga akan bangga apabila dapat
melihat anaknya berprestasi. Oleh sebab itu, para orang tua tidak
bosan-bosannya mendorong anak-anak mereka agar dapat berprestasi. Namun
ternyata, tidak sedikit dari mereka menempuh jalan yang salah sehingga hal
tersebut gagal dan dicapai dan anak mereka justru merasa tertekan. Hal dasar
yang perlu setiap ibu ketahui adalah bahwa setiap anak memilki minat, bakat dan
kecerdasan yang berbeda. Ya, memang benar bahwa pada dasarnya tidak ada anak
yang bodoh, tetapi pernyataan ini bukan berarti dapat menjamin bahwa setiap
anak dapat beprestasi di sekolahnya. Biasanya untuk dapat mendorong agar
anaknya dapat berprestasi, orang tua lebih memilih untuk terus menutun mereka dan
memerintahkan anak-anak mereka untuk belajar ini itu, dan juga mengikutkan
mereka ke berbagai macam pelajaran tambahan baik privat maupun bimbel. Sejak
duduk di sekolah dasar, seorang anak seharusnya sudah diberi tanggung jawab
untuk mengurus urusan sekolahnya sendiri. Mereka harus mampu menjadikan belajar
mereka merupakan suatu kebutuhan yang akan mereka jalani bukan karena
keterpaksaan. Tetapi orang tua yang cenderung ambisius dan kurang mengerti
anaknya, biasanya mereka takut unuk melepaskan anak mereka untuk dapat mandiri,
mereka berasumsi bahwa anak mereka tidak dapat berprestasi dengan baik tanpa
tuntunan seutuhnya dari mereka. Asumsi-asumsi seperti inilah yang justru
membuat seorang anak tidak dapat maju dengan kaki mereka sendiri. Mungkin pada
awalnya mereka akan sedikit terpeleset-terpeleset, tapi lama kelamaan mereka
dapat berjalan sendiri bahkan berlari dengan kedua kaki mereka sendiri, tanpa
kita harus menuntunnya secara berlebihan. Tingkat kesadaran dan rasa
tanggungjawab dari tiap anak terhadap pendidikan memang tidak sama, tetapi bukan
berarti tidak dapat diusahakan. Dan kenyataannya, inilah yang sering terjadi.
Seorang anak begitu malas belajar, tetapi orang tua terus memaksa mereka
belajar, sehingga terkadang mereka sudah mengahadapi buku selama berjam-jam,
namun tidak ada hasilnya. Kemudian orang tua mereka memberkan fasilitas belajar
tambahan di luar jam sekolah/les, dimana kebanyakan anak sudah sangat lelah
dengan sekolah mereka, akhirnya mereka tetap tidak fokus, dan sia-sia saja
pelajaran tambahan tersebut. Seperti yang kita ketahui, bahwa sistem pendidikan
di Indonesia belum lah efektif, dimana ada begitu banyak mata pelajaran yang
diberikan bahkan sejak sekolah dasar, selain itu juga jam belajar yang juga sangat
lama yaitu hingga lewat dari tengah hari. Pada dasarnya ini bukanlah hal yang
baik untuk tumbuh kembang mereka, sehingga seharusnya kita meminimalisir beban
mereka bukan justru menambah lagi beban mereka dengan memaksa mereka mengikuti
les setelah pulang sekolah, dan masih dipaksa belajar lagi pada malam harinya.
Orang tua seharusnya dapat mengenali anak mereka dengan baik, dan memahai cara
belajar yang efektif bagi anak mereka. Karena belajar yang baik itu bukan
dilihat dari kuantitas lamanya belajar, tetapi kualitas dari belajar tersebut.
Jadi untuk dapat membuat anak kita mampu belajar dengan baik, hal yang
terpenting adalah menumbuhkan kesadaran pada diri mereka akan pentingnya
belajar, dan mencarikan cara belajar yang efektif bagi mereka. Jangan pernah
memaksa seorang anak untuk belajar, karena jujur itu sangat menjengkelken bagi
mereka. Tidak semua anak ekspresif dan dapat meluapkan betapa lelah dan
tersiksanya mereka dengan serangkaian kegiatan sekolah tersebut, oleh karena
itu pengertian dan maklum orang tua sangatlah dibutuhkan. Jangan sampai, untuk
berusaha memberi masa depan yang baik bagi mereka, kita justru memporak-porandakan
masa kecilnya. Bahkan kesuksesan pun tidak hanya dapat ditempuh melalui jalan
itu. Dan nyatanya, jika seorang anak telah sadar mengenai pentingnya belajar
dan prestasi bagi mereka, dan telah menemukan cara belajar yang efektif bagi
mereka, hanya dengan mendengarkan guru menerangkan di sekolah, mereka sudah
dapat menguasai lebih dari 90% materi, hal ini sama sekali tidak mustahil.
Bahkan jika diperlukan lagi belajar di rumah ketika menjelang ujian, seorang anak
dapat belajar kurang dari satu jam saja, namun efektif dan dapat menguasai materi
dengan baik. Dengan begitu, mereka tidak perlu terbebani dengan omelan orang
tua mereka setiap hari, atau terbebani karena takut dimarahi jika mendapat
nilai jelek. Pada masa remaja khususnya,
kebanyakan anak akan lebih fokus pada pergaulan, fashion, dll, yang juga dapat mengurangi fokus mereka untuk
belajar. Selain itu, masa remaja juga merupakan masa-masa seorang anak gemar
berontak, sehingga akan lebih sulit untuk menyuruh mereka belajar. Tetapi
seorang anak bukanlah robot, tidak ada yang tidak dapat diselesaikan dengan
bicara dari hati ke hati, dan berusaha mengerti dan memaklumi setiap kedilemaan
mereka. Pendidikan memanglah penting, tetapi kebahagian dan kenyamanan anak
kita juga sama sekali tidak kalah penting. Selain itu untuk dapat menumbuhkan
semangat belajar anak, kita juga memacunya dengan “reward and punishment “ atau
“penghargaan dan hukuman”. Maksudnya yaitu kita dapat menumbuhkan semangat
belajar anak dengan memberi mereka penghargaan atas apa yang dicapainya dan
juga hukuman apabila mereka tidak mampu. Tetapi, akan jauh lebih baik jika
hanya berfokus pada penghargaan saja, karena nyatanya hukuman apalagi yang
berlebihan akan sangat menyulitkan anak dan membuat mereka merasa tertekan bahkan
trauma. Meskipun mereka sudah menginjak usia remaja, dan tidak lagi tertarik
kepada hadiah seperti anak kecil pada umumnya, namun cara ini masih sangat bisa
digunakan. Kembali lagi pada seberapa jauh kita mampu mengenal anak kita, karena
pada usia tersebut tentu anak remaja juga masih memiliki keinginan-keinginan.
Kita dapat menjanjikan untuk memenuhinya, selama apa yang diinginkannya itu
tidak bersifat negatif. Sebagai ibu yang baik, kita juga harus mulai
mengarahkan anak kita sejak remaja, tentang apa yang ingin dicapai nya. Dengan
begitu, strategi dalam belajar juga dapat ditempuh secara opimal. Karena
nyatanya, tidak semua anak berbakat dan memiliki minat pada bidang pelajaran
formal. Seorang anak dengan otak kanan yang lebih dominan, dapat memilki
ketertarikan yang berbeda. Dan bukan berarti mereka tidak akan sukses, karena
banyak juga anak yang memilki ketertarikan seperti menjadi seorang designer,
dan dengan tidak memaksa mereka bersekolah pada sekolah umum, tetapi lebih ke
sekolah yang sesuai dengan bakat dan minatnya, tidak menutup kemungkinan bahwa
ia akan menjadi sukses besar.
Masalah yang ketiga yaitu ketergantungan
/ kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi. Di era globalilsasi ini
dimana kemajuan teknologi dan komunikasi semakin menignkat, hampir semua
kalangan dari berbagai lapisan masarakat sudah merasakan dampaknya. Dampak dari
kemajuan ini, dapat berupa hal negatif maupun positif. Hal ini juga tidak hanya
dirasakan oleh anak-anak muda saja, tetapi orang dewasa pun juga merasakannya.
Efek dari kemajuan teknologi dan komunikasi yang dapat dengan mudah diamati
yaitu semakin meningkat dan menjamurnya penggunaan gadget dan juga konsumsi
siaran televisi. Tidak sedikit dari masyarakat yang sudah benar-benar mengalami
kecanduan terhadap gadget maupun televisi, karena kecanggihan dan hiburan yang
ditawarkan oleh kedua hal tersebut memanglah menggiurkan. Namun, tentu saja
efek yang terjadi karena kecanduan tersebut berbeda antara anak-anak dengan
orang dewasa. Orang dewasa pada umumnya tentu lebih bijak dalam menyaring hal-hal negatif yang
diberikan oleh televisi maupun gadget. Fungsi utama dari gadget dan televisi
adalah sebagai hiburan dan juga alat komunikasi, tetapi penyalahgunaannya akan
menjadi hal yang mengkhawatiran khusunya bagi anak-anak.
Hampir setiap anak dari usia dini sudah dibiarkan menonton
televisi. Hal ini tidak terlalu menjadi masalah jika tayangan yang dilihat
dapat dikontrol, seperti kartun yang mendidik. Dan ini juga tidak mudah, karena
nyatanya banyak dari kartunpun amat sangat tidak mendidik. Membiarkan mereka
melihat tv sebagai selingan atau hiburan bukanlah kesalahan, namun akan menjadi
salah besar jika kita tidak mengawasi. Pada anak usia remaja, mereka akan mulai
menyukai tanyang-tanyangan seperti drama-drama percintaan, sinetron, dll.
Banyak dari para orang tua yang mengabaikan dan membiarkan anak-anak mereka
untuk mengonsumsi tayangan-tayangan tersebut baik sendiri atau bersama orang
tua. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik, karena memang ada masa untuk segala
sesuatu. Masa remaja adalah masa peralihan. Ketika mereka melihat suatu tayangan
atau adegan, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan merasa penasaran untuk
meniru, tidak masalah jika itu tanyangan yang positif, tetapi jika negatif? Ada
baiknya anak pada usia remaja, tidak sering dibiarkan melihat tv, karena
akhirnya akan tumbuh menjadi kebiasaan. Karena pada dasarnya tv sifatnya adalah
hiburan, dan jika berlebih maka akan membuang waktu bahkan merusak seorang anak.
Tidak sedikit dari anak yang menjadi malas belajar dan beribadah karena asyik
menonton tv. Untuk tidak membiasakan hal ini, tentu kita sebagai orang tua juga
tidak boleh terbiasa. Karena kadang kita melarang mereka untuk menonton tv dan
menyuruh mereka belajar, tetapi kita justru menonton tv keras-keras hingga mengganggu
mereka. Wajar jika kita ingin mencari hiburan dengan melihat tv, tetapi ada
baiknya jika dilakukan ketika anak-anak sedang sekolah atau sedang tidur, agar
mereka tidak ikut tertarik. Atau kita juga dapat mencarikan mereka film-film
khusus yang mendidik agar mereka tidak harus mencari hiburan di tv yang memilki
tanyangan berbagai macam.
Kenyataan yang lain saat ini, hampir seluruh anak usia remaja
memiliki gadget mereka masing-masing bahkan sejak dari sekolah dasar. Handphone
memang memiliki peran yang sangat penting jika diberikan kepada anak, karena
hal tersebut akan memudahkan orang tua untuk dapat terus berkomunikasi kepada
mereka dengan tujuan untuk dapat terus memantau dan menjaga keamanan mereka.
Namun, fitur yang ada di hanphone-handphone yang dimiliki anak-anak zaman sekarang
ini, jelas tidak hanya sebatas untuk komunikasi, tetapi juga memfasilitasi
koneksi ke internet. Nah, internet inilah yang merupakan hal yang amat sensitif
bagi anak remaja. Seperti yang kita ketahui, bahwa internet memilki banyak
sekali manfaat, dalam hal ini khususnya bagi anak remaja. Bagi anak sekolah,
internet seolah membuka jendela yang lebar bagi berbagai informasi dan juga
pengetahuan yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun di
samping itu, intenet juga memiliki dampak negatif yang tidak kalah banyak bagi
anak remaja. Banyak anak yang kecanduan gadget, dan kita tahu pasti bahwa makna
kecanduan disini tentu berkonotasi negatif, karena memang kenyataannya banyak
anak remaja yang ketagihan gadget bukan untuk dimaksimalkan penggunaannya
secara positif tetapi justru sebaliknya. Apa sih sebenarnya yang membuat mereka
terus memegang gadgetnya? Lalu kenapa itu dapat membuat semangat belajar nya
menurun dan sikapnya juga menjadi beurubah? Mengapa anak remaja sekarang tidak
ingin gadget mereka di pegang kedua orang tuanya? Pertanyaan-pertanyan ini
sudah seharusnya timbul di benak setiap orang tua, karena melarang saja tanpa
mengetahui benar apa yang terjadi, justru dapat memperburuk keadaan.
Ketika seorang anak begitu lekat dengan gadgetnya, ini dapat
di sebabkan karena beberapa hal, bisa jadi karena mereka senang chatting dengan
kawannya, atau karena mereka yang eksis di media sosialnya, bisa juga karena
mereka sudah kecanduan dengan situs-situs yang dilarang. Biasanya, ketika anak
di usia remaja terus bermain dengan gadgetnya ini disebabkan karena mereka begitu
asyik dengan aplikasi-aplikasi chatting. Hal ini berbeda antara satu anak
dengan lainnya, ada yang hanya asik dengan teman-teman sesama wanita atau
sesama laki-lakinya dan aja juga yang lebih asyik untuk berkomunikasi dengan
lawan jenisnya, baik dengan status pacaran maupun tidak. Meskipun di dunia
nyata anak-anak sudah memiliki teman dan dapat berkomunikasi, tentu sensasi
yang ditawarkan berbeda dengan melalui dunia maya. Di dalam dunia maya, semua
menjadi lebih fleksible, yang jauh menjadi dekat, yang sulitpun juga menjadi
lebih mudah. Hal ini yang menyebabkan banyak dari anak remaja lebih banyak
menghabiskan waktu di balik layar gadgetnya ketimbang berinteraksi dengan
sesama secara langsung. Akhirnya, hal ini terkadang membuat mereka justru
terasing dari dunia nyatanya dan tidak jarang juga kelewat batas karena memang
keluasan komunikasi yang diberikan oleh adanya internet. Dan memang terdapat
beberapa tipe anak yang kurang baik dalam komunikasi secara langsung, sehingga
mereka sangat nyaman ketika dapat bersembunyi di balik tulisan. Selain itu,
media sosial yang tidak hanya dapat digunakan sebagai wadah untuk berkomunikasi
tetapi juga unjuk diri, membuat banyak anak merasa sangat senang. Meraka dapat
benar-benar berekspresi dengan adanya fasilitas ini. Status, post foto dan
video, moment, dll, membuat banyak anak menjadi begitu tertarik. Dan
kenyataannya, orang-orang yang aktif di media sosial nya, terkadang jadi lebih dramatis,
kurang realistis dan tidak sedikit yang menjadi lebih banyak bermasalah. Terutama
bagi anak-anak, penggunaan media sosial ini pada umumnya belum ke arah yang
positif. Karena anak pada usia remaja, belum benar-benar menemukan jati dirinya
dan emosinya pun belum stabil. Jadi tidak sedikit dari mereka yang mengumbar
perasaannya secara berlebihan dan tentu ini sama sekali bukan hal yang positif.
Dan yang tidak kalah penting adalah fakta bahwa banyak sekali anak-anak remaja
bahkan di bawah usia remaja yang kecanduan situs porno dan mayoritas orang tua
tidak mengetahuinya.
Kecanduan adalah kata yang tepat digunakan ketika seseorang
terus menginginkan sesuatu sedangkan sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah hal
yang buruk. Pada dasarnya, yang kita butuhkan untuk mereka adalah alat
komunikasi dan akses internet untuk belajar. Maka sebenarnya tidak perlu
memberikan smartphone kepada anak sekolah dasar bahkan sampai sekolah menegah
pertama. Jika memang mereka harus ada alat komunikasi karena memilki banyak
kegiatan di luar, maka cukup memberikan handphone yang sebatas untuk alat
komunikasi. Sedangkan untuk akses internet, kita dapat meminjamkan gadget kita
kepada mereka, sehingga jauh lebih aman dan terawasi. Namun, jika hal ini tidak
dilakukan bersamaan dengan memberikan kepada mereka pengertian yang tepat, maka
bisa saja mereka justru berontak untuk meminta gadget atau lebih parahnya lagi
jika diam-diam mengakses internet di belakang kita seperti ke warnet tanpa
izin. Karena sangat mungkin bagi mereka akan merasa malu, dengan teman-teman
mereka yang mayoritas sudah memegang gadget mereka sendiri. Disinilah peran
komunikasi dari orang tua sangat diperlukan, kita harus dapat meyakinkan anak
kita bahwa yang kita lakukan ini adalah keputusan yang tepat, dan juga
membiarkan alasan tersebut transparan bagi anak kita. Namun, apabila anak-anak
tersebut sudah terlanjur kecanduan tentu penanganannya berbeda.
Untuk anak-anak yang lebih terarik kepada chatting, kita
harus mengerti benar dengan siapa dan apa yang membuatnya begitu tertarik.
Apakah karena mereka berpacaran, atau karena mereka ternyata sulit bersosialisasi
di dunia nyata, mungkin juga karena keasyikan mereka mendapat teman-teman bar.
Kita harus mampu membuat mereka mengerti bahwa kita memiliki hak untuk dapat
mengakses ke handphone mereka dan membatasi waktu mereka bermain handphone.
Kita harus membuat mereka disibukkan dengan kegiatan positif yang menyenangkan
sehingga pembatasan ini tidak justru menimbulkan berontak. Disamping itu, kita
juga terus memberi pengertian kepada mereka tentang baik buruknya hal yang
sedang mereka gemari tersebut.
Lalu bagi anak yang kecanduan untuk berkspresi di dunia maya,
hal ini biasa nya lebih bagi anak-anak remaja yang merasa kesepian dan kurang bisa
menyalurkan emosi mereka. Mereka merasa puas dengan berekspresi di media
sosial, yang akhirnya justru buruk ketika melanggar batas privacy mereka. Disini
juga karena kesalahan orang tua dan kurang dekatnya mereka dengan anak. Ketika
kita tidak mampu menjadi tempat curahan hati yang baik dan nyaman bagi anak
kita, tentu mereka akan mencari tempat yang jauh lebih nyaman, dan akhinya
justru kita yang kewalahan. Kita harus punya waktu untuk benar-benar
mendengarkan mereka, keluhan dan keinginan mereka, dan membuat mereka bahwa ada
dan selalu ada kita disini yang siap mendengarkan mereka.
Dan untuk kecanduan situs negatif yang berbau pornografi, memang
ternyata telah dinyatakan memilki efek candu dan dapat merusak otak bahkan
lebih dari pecandu minuman keras. Selain buruk bagi otak, hal ini tentu sangat
dilarang dalam islam. Para orang tua, ketahuilah hal ini..anak-anak kalian
sangat membutuhkan pengawasan kalian, karena nyatanya mereka membutuhkan
jaringan internet, jangan buta melarang mereka untuk sama sekali tidak menggunakan
internet, tetapi kenalkan dan dampingilah di awal-awal penggunaan mereka itu.
Karena nyatanya saat ini, bahkan ketika kita membuka situs pendidikan tetap
saja dapat muncul laman-laman yang menawarkan tentang situs-situs yang berbau
pornografi. Anak-anak remaja memilki rasa penasaran yang tinggi, mereka tidak
sepenuhnya salah. Banyak dari mereka yang awalnya memang ingin belajar, tetapi
kemudian timbullah rasa penasaran, dan yang bermula dari rasa penasaran ini
maka jadilah kecanduan. Sebagai orang tua, kita harus dan sangat wajib memberikan
gambaran kepada mereka mengenai hal-hal buruk apa saja yang mungkin ada di
internet, karena meskipun kita telah berusaha mengawasi tetap ada kemungkinan
mereka lepas dari pengawasan kita. Namun, jika kita telah memberi gambaran ada
mereka tentu rasa penasaran itu sudah jauh lebih tertutup dan memperkecil
kemungkinan buruk. Anak-anak kalian akan malu mengatakan hal ini kepada kalian,
karena bisa jadi sebenarnya mereka juga terbebani akan hal ini, dimana mereka
ingin berhenti tetapi belum mampu.
Jangan bersikap kasar dan berlebihan dengan anak yang
kecanduan gadget, toh ini juga merupakan kesalahan orang tua. Namun, peluk dan
bimbinglah mereka, karena tidak ada yang tidak akan luluh dengan kasih sayang
dan perhatian. Bicaralah baik-baik, salurkan hobi positif mereka sehingga tidak
banyak menganggur. Dan kunci dari semua ini, tentu pendidikan moral dan agama.
Jadikan mereka anak-anak yang bukan hanya memilki agama, tetapi juga hidup
dengan agama, sehingga akan sangat lebih mungkin mereka terhindar dari hal-hal
yang tidak kita inginkan. Dan semua ini, juga tidak akan terwujud jika kita
sebagai orang tua belum mampu bahkan enggan untuk memberikan tauladan yang baik
bagi anak-anak kita. Karena kita adalah cermin yang paling lebar bagi seorang
anak.
Masalah terakhir yang akan dibahas
yaitu mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya
terutama dalam beragama. Masalah yang terakhir ini adalah yang paling penting
dan sudah seharusnya menjadi perhatian setiap orang tua, karena kurang
tertanamnya nilai-nilai agama pada diri seorang anak merupakan akar dari setiap
masalah yang dihadapinya dalam mengarungi hidup di dunia ini. Yang dimaksud dengan
penanaman nilai agama kepada seorang anak, bukan hanya memberinya pengetahuan
tetapi juga membuat hal tersebut benar-benar tertanam pada diri dan menyatu
dalam setiap hembusan nafasnya. Terlahir sebagai seorang muslim adalah suatu
anugerah dan nikmat yang sangat besar, bahkan paling besar. Oleh karena itu,
sudah seharusnya kita menjaga nikmat tersebut dengan memaksimalkan pengamalan
dalam hidup dengan islam. Semua hal baik yang akan kita tanamkan pada diri
seorang anak, tentu terlebih dahulu sudah ada pada diri kita, khususnya
mengenai agama ini. Mustahil anak kita akan solat lima waktu dengan teratur
jika kita saja belum mampu, begitu juga dengan hal-hal keagamaan lainnya. Agama
islam memiliki banyak aspek, yang semuanya harus diusahakan untuk dapat
dijalankan semaksimal mungkin. Hubungan baik dengan manusia dan hubungan baik
dengan Sang Pencipta adalah dua kunci utama dalam berislam. Hubungan yang baik
dengan manusia akan di dapat jika seseorang memilki akhlak yang baik dan
ketulusan di dalam hatinya, dan hal ini juga tidak akan di dapat dengan serta
merta melainkan harus terus diusahakan, dibiasakan dan dididik hatinya. Lalu hubungan
dengan Sang Pencipta tidak akan terjalin sempurna jika kita tidak mengetahui
dan tidak mematuhi perintahNya dan juga tidak mengetahui dan tidak menjauhi
laranganNya, dan tentu saja pengetahuan dan pengamalan ini tidaklah akan
didapat kecuali dengan berguru.
Untuk mendidik anak menjadi bertanggung jawab terhadap
agamanya, tidak dapat dilakukan dengan serta
merta. Memang semua beban kewajiban dalam islam, jatuh di pundak
seseorang ketika mereka sudah mencapai usia akil baligh. Tetapi bukan berarti
mereka dapat mempelajarinya dan langsung baru memulainya hanya ketika sudah
mencapai usia tersebut. Orang tua sudah seharusya mengenalkan anak-anaknya
dengan Sang Pencipta sejak usia dini, dengan cara-cara yang tentu dapat
dipahamai oleh mereka. Penanaman ini tidak dapat hanya dilakukan dengan cara
memaksa, karena dapat membuat seorang anak tumbuh dengan menjalankan syariat
agama penuh keterpaksaan. Setiap orang tua, sudah semestinya memahami setiap
anaknya dengan baik, dan penanaman nilai-nilai agama ini sangat bergantung
dengan karakter masing-masing anak, sehingga para orang tua harus memiliki
metode khusus untuk mendidiknya.
Ketika seorang anak remaja sudah memilki nilai-nilai dan
prinsip agama yang kuat, mereka akan jauh lebih mudah terhindar dari pengaruh
negatif apapun dari lingkungan luar. Sehingga para orang tua akan dapat merasa
jauh lebih tenang, meskipun itu juga bukan berarti dapat membebaskan mereka
dari berbagai bentuk pengawasan. Namun, jika ternyata hal ini belum ada pada
seorang anak yang berusia remaja, dimana dia masih mengabaikan dan menganggap
remeh kewajiban-kewajibannya dalam beragama, ini akan menjadi lebih sulit. Karena
pada usia ini, seorang anak akan menjadi lebih kritis dan tidak akan menerima
arahan dan nasehat orang tua semudah sebelumnya. Sehingga untuk mengarahkan
mereka dibutuhkan pendekatan yang jauh lebih dari sebelumnya. Dalam hal ini,
tidak ada cara yang lebih efektif dari meletakkannya pada lingkungan yang baik
dan mendukung. Dan jika memang mungkin, seorang anak juga bisa dimasukkan ke
asrama agama (yang jelas kualitasnya) apabila orag tua memang sudah tidak lagi merasa
mampu untuk mendidik mereka dan merasa tidak cukup memilki pengetahuan agama
yang baik untuk dapat membimbing mereka menjadi anak yang berkarakter baik.
Intinya, bagaimana seorang anak akan hidup dengan agamanya
sangat bergantung dari bagaimana arahan dan didikan dari orang tuanya. Dimana hal
ini sangat menetukan kualitas hidup dari seorang anak. Pada usia remaja, dimana
seorang anak menjadi lebih rentan dan lebih mudah terkena pengaruh buruk, hal
ini tidak akan mengkhawatirkan bagi anak-anak yang telah memiliki prinsip yang
jelas dan kuat dalam beragama. Jadi, jangan sampai kita terlalu meributkan
bagaimana pendidikan umum dan sekolah anak kita, hingga kita mengabaikan
pendidikan karakter dan juga agamanya. Karena sejatinya hidup di dunia ini
hanyalah sementara, sehingga tidak ada yang lebih penting selain hidup dan
melakukan segala sesuatu di jalanNya dan hanya karenaNya. Jangan sampai kita
sebagai orang tua, justru mempersulit anak-anak kita untuk dapat menjalankan
syariat agama dengan lebih sempurna. Kita harus mengerti benar, bahwa orang tua
tidak selalu benar, karena nyatanya memang sangat mungkin anak kita mengetahui
apa yang belum kita ketahui dan menjalankan sesuatu lebih benar dari kita. Jangan
sampai, hanya karena menjaga gengsi dan wibawa kita, kita menjadi buta dalam
membedakan mana yang memang benar dan mana yang ternyata memang buruk. Karena sejatinya,
kebaikan tetaplah kebaikan dan kebenaran pun tetaplah kebenaran, tidak peduli
siapa yang membawanya. Anak-anak adalah amanah dari Allah SWT, dan juga dapat
menjadi amal jariyah kita jika kita mampu menjadikannya anak yang soleh ataupun
solehah. Tetapi seorang anak juga dapat mencelakakan kita, jika kita tidak
mampu mendidiknya dengan benar, karena kelak kita pasti dimintai pertanggung
jawaban. Jadi, para orang tua, jangan pernah berhenti belajar bagaimana cara
mendidik anak yang baik dan benar, karena tidak ada kata terlambat untuk
belajar. Dan juga kita tidak boleh lupa untuk selalu mendoakan anak kita,
karena tanpa bimbingan dan anugerah dariNya, mustahil segala hal baik dapat
terwujud.
Terimakasih telah membaca artikel ini, sekali lagi, artikel
ini ditulis bukan oleh seorang ibu, melainkan oleh seorang anak. Karena sudut
pandang yang terbaik untuk dapat mengetahui bagaimana cara mendidik yang benar
bukanlah dari sesama orang tua saja, tetapi dengan mengetahui keluhan seorang
anak dan bagaimana sebenarnya perasaan seorang anak,sehingga semua akan menjadi jauh lebih jelas dan lebih
pasti. Semoga Allah SWT senatiasa melindungi anak-anak kita dan menjadikan
mereka semua anak-anak yang sukses dunia akhirat. Dan semoga Allah SWT juga
selalu menjadikan kita anak yang berbakti pada orang tua kita, dan selalu
memuliakan mereka atas semua jasa dan usaha mereka yang luar biasa dalam
mendidik kita. Amiiiiin :)