Wednesday, January 25, 2017

Dear Parents,


Dear Parents,

By: Karimah Umar Aidid

Tulisan ini dibuat, untuk memberikan gambaran kepada para orang tua, yang mengalami dilema dan kebingungan dalam mendidik anak, terutama terhadap pergaulan anak remaja nya, yang mana tulisan ini di tulis dari sudut pandang seorang ibu dan juga dari kacamata islam, namun artikel ini ditulis oleh seorang anak yang sudah melalui masa remajanya dan mulai memahami kekhawatiran seorang ibu. Kenapa tulisan ini dibuat? Karena ternyata, selama ini kurang tepatnya cara mendidik seorang anak sebagian besar diakibatkan karena kurangnya komunikasi antara anak pada usia remaja dan orang tua, sehingga orang tua tidak dapat mengerti benar keinginan, pemikiran dan juga perasaan anaknya. Kurangnya komunikasi ini dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, sedangkan sebenarnya inilah kunci keberhasilan dari mendidik anak, disamping juga terus memberinya arahan hidup yang tepat dan pengetahuan agama yang benar. Dan mengapa tulisan cara mendidik anak ini justru ditulis oleh seorang anak? Karena tidak ada yang lebih mengetahui benar cara menyelesaikan masalah, lebih dari orang yang menciptakan masalah itu sendiri dan tidak ada yang lebih bisa memahami seorang anak kecuali juga orang yang masih memilki pemikiran dan perasaan yang tidak jauh beda dengan mereka.

Sebagai orang tua, anak adalah segala-galanya. Apapun akan kita lakukan demi kesejahteraan dan kebahagiaan anak kita. Namun terkadang, dalam mendidik anak terutama di usia remaja, kita banyak mengalami kendala yang akhirnya benar-benar menimbulkan kekhawatiran, atau lebih parahnya lagi ketika kita tidak menyadari bahwa kita sudah salah didik. Usia remaja, adalah usia yang sangat sensitif. Kenapa bisa begitu ? karena pada usia ini, seseorang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa remaja ini, anak-anak tidak lagi mudah dikendalikan dan menuruti semua keinginan orang tua seperti sebelumnya, karena pada usia ini anak akan mulai mencari jati dirinya sendiri yang akan dibawa seterusnya menjadi sebuah karakter. Oleh karena itu, sering kali timbul berbagai macam masalah. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan anak kita menjadi pemuda ataupun pemudi yang baik. Baik akhlaknya, prestasi, agamanya dan semua-muanya. Kita ingin anak kita taat dalam beragama, mampu menjaga batas dengan lawan jenisnya, berprestasi dengan baik di sekolahnya, memiliki perilaku/akhlak yang baik, tidak bergantung pada televisi ataupun gadget terutama pada hal-hal negatifnya dan lain-lain.

Masalah yang sering dihadapi para orang tua, karena anak remaja nya diantaranya yaitu : masalah pergaulan mereka dengan lawan jenis, masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah, masalah ketergantungan / kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi, dan terkadang juga masalah mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya dalam beragama. Disini akan dibahas poin demi poin dari masalah tersebut, mengenai apa penyebabnya dan juga bagaimana kira-kira solusinya.

Masalah yang pertama yaitu masalah pergaulan dengan lawan jenis. Sebelum menanamkan hal ini kepada anak kita, sebagai orang islam kita harus mengerti benar batasan-batasan yang islam berikan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Seharusnya, sejak kecil kita sudah mendidik dan menanamkan pada mereka mengenai batasan-batasan ini dengan jelas, sehingga pada usia remaja nya sudah otomatis terbentuk prinsip dari diri anak itu sendiri. Dalam menjaga pergaulan anak terutama dengan lawan jenisnya, tidak dapat dilakukan dengan hanya memberi pengertian ataupun hanya dengan membatasi ruang geraknya saja, namun kedua hal ini harus berjalan beriringan. Hal utama yang harus ada yaitu komunikasi yang baik dan keterbukaan antara anak dan ibu, kita harus dapat membuat mereka selalu menjadikan kita tempat untuk curahan hati mereka, karena tanpa adanya ini maka akan terbentuk penghalang besar yang membuat mereka menolak semua nasehat dan arahan dari kita. Jika kita memiliki seorang putri, masalah pergaulan ini akan menjadi sangat lebih berbahaya, terutama jika usia nya sudah akil baligh. Di sekolah, jika ia bersekolah di negeri dimana laki-laki dan perempuan di campur dalam satu ruang kelas, berbeda pembatasannya dengan anak yang bersekolah di sekolah dimana laki-laki dan perempuan di pisahkan dalam ruang kelas yang berbeda.  Kita tidak bisa melarang begitu saja mereka untuk bergaul, tanpa memberi tahu dengan jelas alasannya dan tanpa memberikan pengertian. Kepada putri kita, kita harus selalu tanamkan bahwa mereka sebagai seorang muslimah itu diibarakan sebagai sebuah mutiara yang harus di jaga dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka harus menjaga batasan yang jelas pada pergaulan dengan lawan jenisnya. Penjagaan dan pembatasan ini harus seketat mungkin, yaitu dengan memberi pengertian pada mereka mengenai tidak perlunya komunikasi kepada lawan jenis kecuali benar-benar diperlukan. Karena dimulai dari hal dasar seperti ini, mereka akan terhindar dari hal-hal yang lebih besar, seperti bercanda dengan lawan jenis ataupun hingga berpacaran. Namun, apabila penanaman prinsip ini pada mereka tidak dilakukan dengan tepat, maka bisa jadi mereka justru menjadi minder dan kuper dalam pergaulannya, dan ini juga bukan hal yang baik. Karena yang kita harapkan untuk terjadi adalah mereka tetap dapat bergaul dengan luwes dengan teman-teman sesama wanita nya tetapi juga dapat menjaga batas dengan teman lawan jenisnya. Disamping itu, kita juga perlu memberi tahunya bahwa ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang wajar namun tidak perlu di ekspresikan, karena tanpa memberi pengertian kepada mereka mengenai hal ini, mereka akan menjadi malu dan takut untuk curhat kepada orang tua nya, sedangkan hal ini justru dapat memicu hilangnya kendali kita atas mereka. Kita harus dapat membuat anak kita mau dan mampu menceritakan seluruh kegiatannya, dan juga isi hatinya pada kita, karena hanya dengan begitu kita dapat mengetahui jika adanya masalah dan dapat menanganinya. Bersikap keras, galak dan terlalu tegas sama sekali bukan solusinya, karena hal ini justru dapat menghilangkan kenyamanan mereka pada kita, dan membuat mereka mencari tempat lain untuk mencurahkan isi hati dan salah-salah dengan jalan berpacaran. Pada usia remaja, baik pada anak laki-laki maupun perempuan, terkadang yang menjadikan mereka salah  bergaul dengan lawan jenis bukan hanya karena ketertarikan tetapi juga karena lingkungan. Terkadang, mereka berada pada lingkungan yang mayoritas tidak memiliki batasan seperti yang mereka miliki, maka anak kita bisa saja merasa terkucilkan dan malu akan hal itu. Oleh karena itu, kita harus terus memberi dukungan, dan hal ini bukan dilakukan sekali saja, tetapi terus menerus secara intensif. Kita juga harus mengerti benar dengan siapa anak kita bergaul, dan untuk hal ini relasi juga sangat dibutuhkan untuk dapat terus mengawasi anak kita. Pengawasan karena kekhawatiran kita itu wajar, tetapi jangan terlalu ditunjukkan kepada anak kita, karena sikap overprotektif, justru menimbulkan keinginan besar pada diri seorang anak untuk melawan atau memberontak bahkan membangkang dengan cara sembunyi-sembunyi. Jika kita sudah mampu menanamkan hal tersebut pada anak kita, maka seiring berjalannya waktu hal tersebut akan tumbuh menjadi prinsip yang telah mendarah daging pada diri mereka, yang secara otomatis akan timbul rasa risih dan perlindungan terhadap diri mereka sendiri dalam bergaul dengan lawan jenis. Lama kelamaan mereka sendiri akan merasa tidak nyaman jika harus berkomunikasi dan berurusan dengan lawan jenis, dan selalu berusaha melindungi diri mereka dengan sebaik-baiknya. Pada anak yang sekolah di sekolah islam yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan, tentu masalah komunikasi sehari-hari di dalam kelas dengan lawan jenis tidak ada. Namun masalah lain yang biasa timbul itu rasa penasaran. Rasa penasaran inilah yang menyebabkan mereka mencoba untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan lawan jenis di luar lingkungan sekolah atau kegiatan pelajaran. Dan biasanya, mereka akan merasa jauh lebih tertarik, karena ini merupakan hal baru bagi mereka. Dan masalah yang biasa timbul yaitu karena sudah adanya sosmed yang dapat menghubungkan satu orang dengan lainnya tanpa harus bertemu. Mengenai hal ini, akan dibahas lebih lanjut pada poin kecanduan televisi maupun gadget. Intinya, kita sebagai orang tua harus menaruh perhatian besar mengenai pergaulan anak kita, baik pergaulan dengan teman-temannya yang bisa saja merupakan anak nakal maupun pergaulan dengan lawan jenis yang dalam islam harus sangat dibatasi, komunikasi dan penanaman nilai-nilai harus terus dilakukan yang diikuti pengawasan dan tidak menampakkannya secara berlebihan, keterbukaan anak pada kita merupakan kunci penting yang harus dipertahankan untuk tetap memegang kendali atas mereka, kesalahan didik dalam hal ini sangat mungkin menjadi masalah yang sangat serius di masa mendatang.

Masalah kedua yang juga sering timbul yaitu masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah. Sebagai orang tua, tentu akan menginginkan anaknya sukses dan berprestasi di sekolah, karena dengan begitu anak kita akan lebih mudah mencapai cita-cita nya dan dapat duduk di perguruan tinggi favorit sehingga kelak akan mendapat pekerjaan yang layak dan hidup sejahtera. Semua orang tua tentu juga akan bangga apabila dapat melihat anaknya berprestasi. Oleh sebab itu, para orang tua tidak bosan-bosannya mendorong anak-anak mereka agar dapat berprestasi. Namun ternyata, tidak sedikit dari mereka menempuh jalan yang salah sehingga hal tersebut gagal dan dicapai dan anak mereka justru merasa tertekan. Hal dasar yang perlu setiap ibu ketahui adalah bahwa setiap anak memilki minat, bakat dan kecerdasan yang berbeda. Ya, memang benar bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh, tetapi pernyataan ini bukan berarti dapat menjamin bahwa setiap anak dapat beprestasi di sekolahnya. Biasanya untuk dapat mendorong agar anaknya dapat berprestasi, orang tua lebih memilih untuk terus menutun mereka dan memerintahkan anak-anak mereka untuk belajar ini itu, dan juga mengikutkan mereka ke berbagai macam pelajaran tambahan baik privat maupun bimbel. Sejak duduk di sekolah dasar, seorang anak seharusnya sudah diberi tanggung jawab untuk mengurus urusan sekolahnya sendiri. Mereka harus mampu menjadikan belajar mereka merupakan suatu kebutuhan yang akan mereka jalani bukan karena keterpaksaan. Tetapi orang tua yang cenderung ambisius dan kurang mengerti anaknya, biasanya mereka takut unuk melepaskan anak mereka untuk dapat mandiri, mereka berasumsi bahwa anak mereka tidak dapat berprestasi dengan baik tanpa tuntunan seutuhnya dari mereka. Asumsi-asumsi seperti inilah yang justru membuat seorang anak tidak dapat maju dengan kaki mereka sendiri. Mungkin pada awalnya mereka akan sedikit terpeleset-terpeleset, tapi lama kelamaan mereka dapat berjalan sendiri bahkan berlari dengan kedua kaki mereka sendiri, tanpa kita harus menuntunnya secara berlebihan. Tingkat kesadaran dan rasa tanggungjawab dari tiap anak terhadap pendidikan memang tidak sama, tetapi bukan berarti tidak dapat diusahakan. Dan kenyataannya, inilah yang sering terjadi. Seorang anak begitu malas belajar, tetapi orang tua terus memaksa mereka belajar, sehingga terkadang mereka sudah mengahadapi buku selama berjam-jam, namun tidak ada hasilnya. Kemudian orang tua mereka memberkan fasilitas belajar tambahan di luar jam sekolah/les, dimana kebanyakan anak sudah sangat lelah dengan sekolah mereka, akhirnya mereka tetap tidak fokus, dan sia-sia saja pelajaran tambahan tersebut. Seperti yang kita ketahui, bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum lah efektif, dimana ada begitu banyak mata pelajaran yang diberikan bahkan sejak sekolah dasar, selain itu juga jam belajar yang juga sangat lama yaitu hingga lewat dari tengah hari. Pada dasarnya ini bukanlah hal yang baik untuk tumbuh kembang mereka, sehingga seharusnya kita meminimalisir beban mereka bukan justru menambah lagi beban mereka dengan memaksa mereka mengikuti les setelah pulang sekolah, dan masih dipaksa belajar lagi pada malam harinya. Orang tua seharusnya dapat mengenali anak mereka dengan baik, dan memahai cara belajar yang efektif bagi anak mereka. Karena belajar yang baik itu bukan dilihat dari kuantitas lamanya belajar, tetapi kualitas dari belajar tersebut. Jadi untuk dapat membuat anak kita mampu belajar dengan baik, hal yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran pada diri mereka akan pentingnya belajar, dan mencarikan cara belajar yang efektif bagi mereka. Jangan pernah memaksa seorang anak untuk belajar, karena jujur itu sangat menjengkelken bagi mereka. Tidak semua anak ekspresif dan dapat meluapkan betapa lelah dan tersiksanya mereka dengan serangkaian kegiatan sekolah tersebut, oleh karena itu pengertian dan maklum orang tua sangatlah dibutuhkan. Jangan sampai, untuk berusaha memberi masa depan yang baik bagi mereka, kita justru memporak-porandakan masa kecilnya. Bahkan kesuksesan pun tidak hanya dapat ditempuh melalui jalan itu. Dan nyatanya, jika seorang anak telah sadar mengenai pentingnya belajar dan prestasi bagi mereka, dan telah menemukan cara belajar yang efektif bagi mereka, hanya dengan mendengarkan guru menerangkan di sekolah, mereka sudah dapat menguasai lebih dari 90% materi, hal ini sama sekali tidak mustahil. Bahkan jika diperlukan lagi belajar di rumah ketika menjelang ujian, seorang anak dapat belajar kurang dari satu jam saja, namun efektif dan dapat menguasai materi dengan baik. Dengan begitu, mereka tidak perlu terbebani dengan omelan orang tua mereka setiap hari, atau terbebani karena takut dimarahi jika mendapat nilai  jelek. Pada masa remaja khususnya, kebanyakan anak akan lebih fokus pada pergaulan, fashion, dll, yang juga dapat mengurangi fokus mereka untuk belajar. Selain itu, masa remaja juga merupakan masa-masa seorang anak gemar berontak, sehingga akan lebih sulit untuk menyuruh mereka belajar. Tetapi seorang anak bukanlah robot, tidak ada yang tidak dapat diselesaikan dengan bicara dari hati ke hati, dan berusaha mengerti dan memaklumi setiap kedilemaan mereka. Pendidikan memanglah penting, tetapi kebahagian dan kenyamanan anak kita juga sama sekali tidak kalah penting. Selain itu untuk dapat menumbuhkan semangat belajar anak, kita juga memacunya dengan “reward and punishment “ atau “penghargaan dan hukuman”. Maksudnya yaitu kita dapat menumbuhkan semangat belajar anak dengan memberi mereka penghargaan atas apa yang dicapainya dan juga hukuman apabila mereka tidak mampu. Tetapi, akan jauh lebih baik jika hanya berfokus pada penghargaan saja, karena nyatanya hukuman apalagi yang berlebihan akan sangat menyulitkan anak dan membuat mereka merasa tertekan bahkan trauma. Meskipun mereka sudah menginjak usia remaja, dan tidak lagi tertarik kepada hadiah seperti anak kecil pada umumnya, namun cara ini masih sangat bisa digunakan. Kembali lagi pada seberapa jauh kita mampu mengenal anak kita, karena pada usia tersebut tentu anak remaja juga masih memiliki keinginan-keinginan. Kita dapat menjanjikan untuk memenuhinya, selama apa yang diinginkannya itu tidak bersifat negatif. Sebagai ibu yang baik, kita juga harus mulai mengarahkan anak kita sejak remaja, tentang apa yang ingin dicapai nya. Dengan begitu, strategi dalam belajar juga dapat ditempuh secara opimal. Karena nyatanya, tidak semua anak berbakat dan memiliki minat pada bidang pelajaran formal. Seorang anak dengan otak kanan yang lebih dominan, dapat memilki ketertarikan yang berbeda. Dan bukan berarti mereka tidak akan sukses, karena banyak juga anak yang memilki ketertarikan seperti menjadi seorang designer, dan dengan tidak memaksa mereka bersekolah pada sekolah umum, tetapi lebih ke sekolah yang sesuai dengan bakat dan minatnya, tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan menjadi sukses besar.

Masalah yang ketiga yaitu ketergantungan / kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi. Di era globalilsasi ini dimana kemajuan teknologi dan komunikasi semakin menignkat, hampir semua kalangan dari berbagai lapisan masarakat sudah merasakan dampaknya. Dampak dari kemajuan ini, dapat berupa hal negatif maupun positif. Hal ini juga tidak hanya dirasakan oleh anak-anak muda saja, tetapi orang dewasa pun juga merasakannya. Efek dari kemajuan teknologi dan komunikasi yang dapat dengan mudah diamati yaitu semakin meningkat dan menjamurnya penggunaan gadget dan juga konsumsi siaran televisi. Tidak sedikit dari masyarakat yang sudah benar-benar mengalami kecanduan terhadap gadget maupun televisi, karena kecanggihan dan hiburan yang ditawarkan oleh kedua hal tersebut memanglah menggiurkan. Namun, tentu saja efek yang terjadi karena kecanduan tersebut berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa. Orang dewasa pada umumnya tentu lebih  bijak dalam menyaring hal-hal negatif yang diberikan oleh televisi maupun gadget. Fungsi utama dari gadget dan televisi adalah sebagai hiburan dan juga alat komunikasi, tetapi penyalahgunaannya akan menjadi hal yang mengkhawatiran khusunya bagi anak-anak.

Hampir setiap anak dari usia dini sudah dibiarkan menonton televisi. Hal ini tidak terlalu menjadi masalah jika tayangan yang dilihat dapat dikontrol, seperti kartun yang mendidik. Dan ini juga tidak mudah, karena nyatanya banyak dari kartunpun amat sangat tidak mendidik. Membiarkan mereka melihat tv sebagai selingan atau hiburan bukanlah kesalahan, namun akan menjadi salah besar jika kita tidak mengawasi. Pada anak usia remaja, mereka akan mulai menyukai tanyang-tanyangan seperti drama-drama percintaan, sinetron, dll. Banyak dari para orang tua yang mengabaikan dan membiarkan anak-anak mereka untuk mengonsumsi tayangan-tayangan tersebut baik sendiri atau bersama orang tua. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik, karena memang ada masa untuk segala sesuatu. Masa remaja adalah masa peralihan. Ketika mereka melihat suatu tayangan atau adegan, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan merasa penasaran untuk meniru, tidak masalah jika itu tanyangan yang positif, tetapi jika negatif? Ada baiknya anak pada usia remaja, tidak sering dibiarkan melihat tv, karena akhirnya akan tumbuh menjadi kebiasaan. Karena pada dasarnya tv sifatnya adalah hiburan, dan jika berlebih maka akan membuang waktu bahkan merusak seorang anak. Tidak sedikit dari anak yang menjadi malas belajar dan beribadah karena asyik menonton tv. Untuk tidak membiasakan hal ini, tentu kita sebagai orang tua juga tidak boleh terbiasa. Karena kadang kita melarang mereka untuk menonton tv dan menyuruh mereka belajar, tetapi kita justru menonton tv keras-keras hingga mengganggu mereka. Wajar jika kita ingin mencari hiburan dengan melihat tv, tetapi ada baiknya jika dilakukan ketika anak-anak sedang sekolah atau sedang tidur, agar mereka tidak ikut tertarik. Atau kita juga dapat mencarikan mereka film-film khusus yang mendidik agar mereka tidak harus mencari hiburan di tv yang memilki tanyangan berbagai macam.

Kenyataan yang lain saat ini, hampir seluruh anak usia remaja memiliki gadget mereka masing-masing bahkan sejak dari sekolah dasar. Handphone memang memiliki peran yang sangat penting jika diberikan kepada anak, karena hal tersebut akan memudahkan orang tua untuk dapat terus berkomunikasi kepada mereka dengan tujuan untuk dapat terus memantau dan menjaga keamanan mereka. Namun, fitur yang ada di hanphone-handphone yang dimiliki anak-anak zaman sekarang ini, jelas tidak hanya sebatas untuk komunikasi, tetapi juga memfasilitasi koneksi ke internet. Nah, internet inilah yang merupakan hal yang amat sensitif bagi anak remaja. Seperti yang kita ketahui, bahwa internet memilki banyak sekali manfaat, dalam hal ini khususnya bagi anak remaja. Bagi anak sekolah, internet seolah membuka jendela yang lebar bagi berbagai informasi dan juga pengetahuan yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun di samping itu, intenet juga memiliki dampak negatif yang tidak kalah banyak bagi anak remaja. Banyak anak yang kecanduan gadget, dan kita tahu pasti bahwa makna kecanduan disini tentu berkonotasi negatif, karena memang kenyataannya banyak anak remaja yang ketagihan gadget bukan untuk dimaksimalkan penggunaannya secara positif tetapi justru sebaliknya. Apa sih sebenarnya yang membuat mereka terus memegang gadgetnya? Lalu kenapa itu dapat membuat semangat belajar nya menurun dan sikapnya juga menjadi beurubah? Mengapa anak remaja sekarang tidak ingin gadget mereka di pegang kedua orang tuanya? Pertanyaan-pertanyan ini sudah seharusnya timbul di benak setiap orang tua, karena melarang saja tanpa mengetahui benar apa yang terjadi, justru dapat memperburuk keadaan.

Ketika seorang anak begitu lekat dengan gadgetnya, ini dapat di sebabkan karena beberapa hal, bisa jadi karena mereka senang chatting dengan kawannya, atau karena mereka yang eksis di media sosialnya, bisa juga karena mereka sudah kecanduan dengan situs-situs yang dilarang. Biasanya, ketika anak di usia remaja terus bermain dengan gadgetnya ini disebabkan karena mereka begitu asyik dengan aplikasi-aplikasi chatting. Hal ini berbeda antara satu anak dengan lainnya, ada yang hanya asik dengan teman-teman sesama wanita atau sesama laki-lakinya dan aja juga yang lebih asyik untuk berkomunikasi dengan lawan jenisnya, baik dengan status pacaran maupun tidak. Meskipun di dunia nyata anak-anak sudah memiliki teman dan dapat berkomunikasi, tentu sensasi yang ditawarkan berbeda dengan melalui dunia maya. Di dalam dunia maya, semua menjadi lebih fleksible, yang jauh menjadi dekat, yang sulitpun juga menjadi lebih mudah. Hal ini yang menyebabkan banyak dari anak remaja lebih banyak menghabiskan waktu di balik layar gadgetnya ketimbang berinteraksi dengan sesama secara langsung. Akhirnya, hal ini terkadang membuat mereka justru terasing dari dunia nyatanya dan tidak jarang juga kelewat batas karena memang keluasan komunikasi yang diberikan oleh adanya internet. Dan memang terdapat beberapa tipe anak yang kurang baik dalam komunikasi secara langsung, sehingga mereka sangat nyaman ketika dapat bersembunyi di balik tulisan. Selain itu, media sosial yang tidak hanya dapat digunakan sebagai wadah untuk berkomunikasi tetapi juga unjuk diri, membuat banyak anak merasa sangat senang. Meraka dapat benar-benar berekspresi dengan adanya fasilitas ini. Status, post foto dan video, moment, dll, membuat banyak anak menjadi begitu tertarik. Dan kenyataannya, orang-orang yang aktif di media sosial nya, terkadang jadi lebih dramatis, kurang realistis dan tidak sedikit yang menjadi lebih banyak bermasalah. Terutama bagi anak-anak, penggunaan media sosial ini pada umumnya belum ke arah yang positif. Karena anak pada usia remaja, belum benar-benar menemukan jati dirinya dan emosinya pun belum stabil. Jadi tidak sedikit dari mereka yang mengumbar perasaannya secara berlebihan dan tentu ini sama sekali bukan hal yang positif. Dan yang tidak kalah penting adalah fakta bahwa banyak sekali anak-anak remaja bahkan di bawah usia remaja yang kecanduan situs porno dan mayoritas orang tua tidak mengetahuinya.

Kecanduan adalah kata yang tepat digunakan ketika seseorang terus menginginkan sesuatu sedangkan sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah hal yang buruk. Pada dasarnya, yang kita butuhkan untuk mereka adalah alat komunikasi dan akses internet untuk belajar. Maka sebenarnya tidak perlu memberikan smartphone kepada anak sekolah dasar bahkan sampai sekolah menegah pertama. Jika memang mereka harus ada alat komunikasi karena memilki banyak kegiatan di luar, maka cukup memberikan handphone yang sebatas untuk alat komunikasi. Sedangkan untuk akses internet, kita dapat meminjamkan gadget kita kepada mereka, sehingga jauh lebih aman dan terawasi. Namun, jika hal ini tidak dilakukan bersamaan dengan memberikan kepada mereka pengertian yang tepat, maka bisa saja mereka justru berontak untuk meminta gadget atau lebih parahnya lagi jika diam-diam mengakses internet di belakang kita seperti ke warnet tanpa izin. Karena sangat mungkin bagi mereka akan merasa malu, dengan teman-teman mereka yang mayoritas sudah memegang gadget mereka sendiri. Disinilah peran komunikasi dari orang tua sangat diperlukan, kita harus dapat meyakinkan anak kita bahwa yang kita lakukan ini adalah keputusan yang tepat, dan juga membiarkan alasan tersebut transparan bagi anak kita. Namun, apabila anak-anak tersebut sudah terlanjur kecanduan tentu penanganannya berbeda.

Untuk anak-anak yang lebih terarik kepada chatting, kita harus mengerti benar dengan siapa dan apa yang membuatnya begitu tertarik. Apakah karena mereka berpacaran, atau karena mereka ternyata sulit bersosialisasi di dunia nyata, mungkin juga karena keasyikan mereka mendapat teman-teman bar. Kita harus mampu membuat mereka mengerti bahwa kita memiliki hak untuk dapat mengakses ke handphone mereka dan membatasi waktu mereka bermain handphone. Kita harus membuat mereka disibukkan dengan kegiatan positif yang menyenangkan sehingga pembatasan ini tidak justru menimbulkan berontak. Disamping itu, kita juga terus memberi pengertian kepada mereka tentang baik buruknya hal yang sedang mereka gemari tersebut.

Lalu bagi anak yang kecanduan untuk berkspresi di dunia maya, hal ini biasa nya lebih bagi anak-anak remaja yang merasa kesepian dan kurang bisa menyalurkan emosi mereka. Mereka merasa puas dengan berekspresi di media sosial, yang akhirnya justru buruk ketika melanggar batas privacy mereka. Disini juga karena kesalahan orang tua dan kurang dekatnya mereka dengan anak. Ketika kita tidak mampu menjadi tempat curahan hati yang baik dan nyaman bagi anak kita, tentu mereka akan mencari tempat yang jauh lebih nyaman, dan akhinya justru kita yang kewalahan. Kita harus punya waktu untuk benar-benar mendengarkan mereka, keluhan dan keinginan mereka, dan membuat mereka bahwa ada dan selalu ada kita disini yang siap mendengarkan mereka.

Dan untuk kecanduan situs negatif yang berbau pornografi, memang ternyata telah dinyatakan memilki efek candu dan dapat merusak otak bahkan lebih dari pecandu minuman keras. Selain buruk bagi otak, hal ini tentu sangat dilarang dalam islam. Para orang tua, ketahuilah hal ini..anak-anak kalian sangat membutuhkan pengawasan kalian, karena nyatanya mereka membutuhkan jaringan internet, jangan buta melarang mereka untuk sama sekali tidak menggunakan internet, tetapi kenalkan dan dampingilah di awal-awal penggunaan mereka itu. Karena nyatanya saat ini, bahkan ketika kita membuka situs pendidikan tetap saja dapat muncul laman-laman yang menawarkan tentang situs-situs yang berbau pornografi. Anak-anak remaja memilki rasa penasaran yang tinggi, mereka tidak sepenuhnya salah. Banyak dari mereka yang awalnya memang ingin belajar, tetapi kemudian timbullah rasa penasaran, dan yang bermula dari rasa penasaran ini maka jadilah kecanduan. Sebagai orang tua, kita harus dan sangat wajib memberikan gambaran kepada mereka mengenai hal-hal buruk apa saja yang mungkin ada di internet, karena meskipun kita telah berusaha mengawasi tetap ada kemungkinan mereka lepas dari pengawasan kita. Namun, jika kita telah memberi gambaran ada mereka tentu rasa penasaran itu sudah jauh lebih tertutup dan memperkecil kemungkinan buruk. Anak-anak kalian akan malu mengatakan hal ini kepada kalian, karena bisa jadi sebenarnya mereka juga terbebani akan hal ini, dimana mereka ingin berhenti tetapi belum mampu.

Jangan bersikap kasar dan berlebihan dengan anak yang kecanduan gadget, toh ini juga merupakan kesalahan orang tua. Namun, peluk dan bimbinglah mereka, karena tidak ada yang tidak akan luluh dengan kasih sayang dan perhatian. Bicaralah baik-baik, salurkan hobi positif mereka sehingga tidak banyak menganggur. Dan kunci dari semua ini, tentu pendidikan moral dan agama. Jadikan mereka anak-anak yang bukan hanya memilki agama, tetapi juga hidup dengan agama, sehingga akan sangat lebih mungkin mereka terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Dan semua ini, juga tidak akan terwujud jika kita sebagai orang tua belum mampu bahkan enggan untuk memberikan tauladan yang baik bagi anak-anak kita. Karena kita adalah cermin yang paling lebar bagi seorang anak.

Masalah terakhir yang akan dibahas yaitu mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya terutama dalam beragama. Masalah yang terakhir ini adalah yang paling penting dan sudah seharusnya menjadi perhatian setiap orang tua, karena kurang tertanamnya nilai-nilai agama pada diri seorang anak merupakan akar dari setiap masalah yang dihadapinya dalam mengarungi hidup di dunia ini. Yang dimaksud dengan penanaman nilai agama kepada seorang anak, bukan hanya memberinya pengetahuan tetapi juga membuat hal tersebut benar-benar tertanam pada diri dan menyatu dalam setiap hembusan nafasnya. Terlahir sebagai seorang muslim adalah suatu anugerah dan nikmat yang sangat besar, bahkan paling besar. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjaga nikmat tersebut dengan memaksimalkan pengamalan dalam hidup dengan islam. Semua hal baik yang akan kita tanamkan pada diri seorang anak, tentu terlebih dahulu sudah ada pada diri kita, khususnya mengenai agama ini. Mustahil anak kita akan solat lima waktu dengan teratur jika kita saja belum mampu, begitu juga dengan hal-hal keagamaan lainnya. Agama islam memiliki banyak aspek, yang semuanya harus diusahakan untuk dapat dijalankan semaksimal mungkin. Hubungan baik dengan manusia dan hubungan baik dengan Sang Pencipta adalah dua kunci utama dalam berislam. Hubungan yang baik dengan manusia akan di dapat jika seseorang memilki akhlak yang baik dan ketulusan di dalam hatinya, dan hal ini juga tidak akan di dapat dengan serta merta melainkan harus terus diusahakan, dibiasakan dan dididik hatinya. Lalu hubungan dengan Sang Pencipta tidak akan terjalin sempurna jika kita tidak mengetahui dan tidak mematuhi perintahNya dan juga tidak mengetahui dan tidak menjauhi laranganNya, dan tentu saja pengetahuan dan pengamalan ini tidaklah akan didapat kecuali dengan berguru.

Untuk mendidik anak menjadi bertanggung jawab terhadap agamanya, tidak dapat dilakukan dengan serta  merta. Memang semua beban kewajiban dalam islam, jatuh di pundak seseorang ketika mereka sudah mencapai usia akil baligh. Tetapi bukan berarti mereka dapat mempelajarinya dan langsung baru memulainya hanya ketika sudah mencapai usia tersebut. Orang tua sudah seharusya mengenalkan anak-anaknya dengan Sang Pencipta sejak usia dini, dengan cara-cara yang tentu dapat dipahamai oleh mereka. Penanaman ini tidak dapat hanya dilakukan dengan cara memaksa, karena dapat membuat seorang anak tumbuh dengan menjalankan syariat agama penuh keterpaksaan. Setiap orang tua, sudah semestinya memahami setiap anaknya dengan baik, dan penanaman nilai-nilai agama ini sangat bergantung dengan karakter masing-masing anak, sehingga para orang tua harus memiliki metode khusus untuk mendidiknya.

Ketika seorang anak remaja sudah memilki nilai-nilai dan prinsip agama yang kuat, mereka akan jauh lebih mudah terhindar dari pengaruh negatif apapun dari lingkungan luar. Sehingga para orang tua akan dapat merasa jauh lebih tenang, meskipun itu juga bukan berarti dapat membebaskan mereka dari berbagai bentuk pengawasan. Namun, jika ternyata hal ini belum ada pada seorang anak yang berusia remaja, dimana dia masih mengabaikan dan menganggap remeh kewajiban-kewajibannya dalam beragama, ini akan menjadi lebih sulit. Karena pada usia ini, seorang anak akan menjadi lebih kritis dan tidak akan menerima arahan dan nasehat orang tua semudah sebelumnya. Sehingga untuk mengarahkan mereka dibutuhkan pendekatan yang jauh lebih dari sebelumnya. Dalam hal ini, tidak ada cara yang lebih efektif dari meletakkannya pada lingkungan yang baik dan mendukung. Dan jika memang mungkin, seorang anak juga bisa dimasukkan ke asrama agama (yang jelas kualitasnya) apabila orag tua memang sudah tidak lagi merasa mampu untuk mendidik mereka dan merasa tidak cukup memilki pengetahuan agama yang baik untuk dapat membimbing mereka menjadi anak yang berkarakter baik.

Intinya, bagaimana seorang anak akan hidup dengan agamanya sangat bergantung dari bagaimana arahan dan didikan dari orang tuanya. Dimana hal ini sangat menetukan kualitas hidup dari seorang anak. Pada usia remaja, dimana seorang anak menjadi lebih rentan dan lebih mudah terkena pengaruh buruk, hal ini tidak akan mengkhawatirkan bagi anak-anak yang telah memiliki prinsip yang jelas dan kuat dalam beragama. Jadi, jangan sampai kita terlalu meributkan bagaimana pendidikan umum dan sekolah anak kita, hingga kita mengabaikan pendidikan karakter dan juga agamanya. Karena sejatinya hidup di dunia ini hanyalah sementara, sehingga tidak ada yang lebih penting selain hidup dan melakukan segala sesuatu di jalanNya dan hanya karenaNya. Jangan sampai kita sebagai orang tua, justru mempersulit anak-anak kita untuk dapat menjalankan syariat agama dengan lebih sempurna. Kita harus mengerti benar, bahwa orang tua tidak selalu benar, karena nyatanya memang sangat mungkin anak kita mengetahui apa yang belum kita ketahui dan menjalankan sesuatu lebih benar dari kita. Jangan sampai, hanya karena menjaga gengsi dan wibawa kita, kita menjadi buta dalam membedakan mana yang memang benar dan mana yang ternyata memang buruk. Karena sejatinya, kebaikan tetaplah kebaikan dan kebenaran pun tetaplah kebenaran, tidak peduli siapa yang membawanya. Anak-anak adalah amanah dari Allah SWT, dan juga dapat menjadi amal jariyah kita jika kita mampu menjadikannya anak yang soleh ataupun solehah. Tetapi seorang anak juga dapat mencelakakan kita, jika kita tidak mampu mendidiknya dengan benar, karena kelak kita pasti dimintai pertanggung jawaban. Jadi, para orang tua, jangan pernah berhenti belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan juga kita tidak boleh lupa untuk selalu mendoakan anak kita, karena tanpa bimbingan dan anugerah dariNya, mustahil segala hal baik dapat terwujud.

Terimakasih telah membaca artikel ini, sekali lagi, artikel ini ditulis bukan oleh seorang ibu, melainkan oleh seorang anak. Karena sudut pandang yang terbaik untuk dapat mengetahui bagaimana cara mendidik yang benar bukanlah dari sesama orang tua saja, tetapi dengan mengetahui keluhan seorang anak dan bagaimana sebenarnya perasaan seorang anak,sehingga  semua akan menjadi jauh lebih jelas dan lebih pasti. Semoga Allah SWT senatiasa melindungi anak-anak kita dan menjadikan mereka semua anak-anak yang sukses dunia akhirat. Dan semoga Allah SWT juga selalu menjadikan kita anak yang berbakti pada orang tua kita, dan selalu memuliakan mereka atas semua jasa dan usaha mereka yang luar biasa dalam mendidik kita. Amiiiiin :)

Thursday, January 12, 2017

MENULIS (LAGI)


Assalamu’alaikum..halo lagi, udah lama ya aku gak nulis di blog..padahal sekarang udah banyak waktu luang karena lagi libur..tapi, tiap mau nulis di blog itu rasanya males banget karena terlalu banyak memori yang untuk saat ini kadang lebih pilih untuk tak hindari..tapi lagi, makin banyak hal-hal di kepalaku yang rasanya udah makin numpuk dan pingin aku tulis, jadi ya aku putuskan untuk tidak kalah dengan kenangan, dan memberanikan diri untuk kembali menulis..hmm, btw itu tadi opening yang agak sedikit dramatis ya, tapi ga masalah, karna ternyata drama itu banyak menghibur orang (orang Indonesia khusunya), terbukti dengan banyaknya yang suka liat film-film “drama”..oke, abaikan juga yang barusan, langsung ke topik utama aja, dan ada baiknya ganti paragraf aja ya, biar lebih sistematis..

Jadi ada beberapa hal yang pengen banget aku tau, dengan cara cari tau, kira-kira dan terus nanti aku tulis..diantaranya yang bikin aku tertarik itu....yang pertama tentang pergaulan anak remaja di zaman sekarang ini..cepat atau lambat aku bakal jadi orang tua, insyaAllah, jadi menurutku hal ini, yaitu dalam mendidik anak, amat sangat penting..dan lebih spesifiknya lagi, yaitu anak pada usia remaja..di zaman sekarang ini, didikan dan pengawasan “yang efektif dan tepat” terhadap anak-anak remaja itu sangat diperlukan..why? karena banyak alasan, dan yang paling utama itu karena pada usia remaja, apa yang mereka yakini, prinsip mereka, sangat menentukan karakter seseorang yang akan terus dibawa sampai dewasa..masa remaja adalah masa pencarian dan penemuan jati diri seseorang, jadi masa-masa ini sangatlah sensitif..dan pergaulannya sangat mempengaruhi karakter yang akan terbentuk itu, dan banyak orang tua berasumsi bahwa pengekangan atau pembatasan yang berlebihan itu cara yang efektif untuk menjaga anak mereka dari pergaulan yang salah atau pemahaman yang tidak tepat..dan dilain sisi, kebanyak orang tua justru berfikir sebaliknya, yaitu bahwa seorang anak pada masa tersebut seharusnya dibiarkan bebas memilih, karena pembatasan dianggap melanggar hak mereka..dan dua asumsi inilah yang paling dominan, yang kecondongan terhadap keduanya ini juga yang menyebabkan banyaknya timbul orang-orang atau anak-anak generasi muda dengan karakter yang kurang baik..dan menurutku, pada usiaku saat ini, dimana aku bukan lagi seorang anak remaja yang masih duduk dibangku SMP ataupun SMA tetapi aku juga belum menjadi seorang ibu, adalah posisi yang paling tepat untuk membicarakan hal ini..dimana aku masih ingat benar apa yang aku rasakan dan fikirkan sebagai seorang anak remaja, namun aku juga sudah mulai mengerti dengan baik kekhawatiran orang dewasa tentang pergaulan anaknya..oleh karena itu, membahas hal ini akan sangat baik bagi aku di kemudian hari, atau syukur-syukur juga dapat bermanfaat bagi orang lain juga..itu tadi baru garis besarnya sih, jadi rencananya aku pengen bikin dua tulisan tentang ini..yaitu yang untuk dibaca pendidik dan yang dididik, baru rencana sih..

Yang kedua, yang pengen aku tulis lagi itu tentang gimana sih sikap yang harus kita ambil dalam menghadapi beragam karakter orang, gimana cara mengekspresikan dengan tepat sesuatu yang kita yakini apabila itu ternyata tidak sesuai dengan orang lain..terus tentang apa aja sih manfaatnya tau bagaimana deal dan damai dengan banyak orang, terutama dengan orang-orang disekitar..kalo ini lebih ke belajar sih, soalnya ini juga jadi ketertarikanku, tentang gimana bergaul yang efektif di masyarakat atau lingkungan kita..

Yang ketiga, aku pengen nulis sesuatu yang berbau religi..alesannya, karena aku baru-baru ini dengerin lagu nya Maher Zain yang judulnya Ummati, dan beberapa hari ini jadi rindu banget sama sosok luar biasa yang digambarkan di lagu itu, jadi aku pengen banget nulis tentang beliau.bukan tentang biografi sih, tapi lebih ke ungkapan-ungkapan dan perasaan yang sifatnya lebih subjektif..disamping itu, tentang yang berbau religi ini juga aku pengen banget nulis tentang pengaruh modernisasi dan inteletktualitas terhadap keyakinan dalam beragama..yaitu tentang gimana pengaruh itu terhadap mayoritas orang, dan tentunya itu dari sudut pandangku juga, rencanya akan aku kasi pendapat..

Mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan bahas tentang itu dulu..terutama poin satu dan tiga, aku pengen lebih fokus kesitu..dan rasanya udah gak sabar banget pengen nulis itu wkwkw dan rasanya pengen ada trialnya sih, terutama yang di poin satu, tapi nanti coba tak atur dulu mau gimana..ah, i miss it so much..rindu banget sama sensasi dari nulis yang berusaha tetep pada jalur, menghubungkan satu poin dan poin lainnya, trus bercanda dan nulis gak jelas di tengah-tengah..kadang suka heran juga sih, kenapa aku bisa suka nulis, walaupun nyatanya ini lebih bisa disebut hobi daripada bakat, karena fokusnya emang lebih ke kepuasanku dalam berekspresi daripada ke kualitasnya untuk dibaca orang umum, maka dari itu publisitas juga aku batesi karena rasanya ini belum terlalu wort to be read wkwkw agak aneh sih, padahalkan sebenernya aku hidup dengan hal-hal yang terlalu pasti, yaitu berkecimpung dengan dunia farmasi yang merupakan ilmu pasti, jadi hobi nulis itu aslinya kurang umum..mungkin ini lebih ke bentuk pelampiasan dan pengalihan dari kejenuhan terhadap kemonotonan yang harus sehari-hari tak hadapi..but, apapun itu, selama yang tak lakuin ini bukan penyaluran rasa dengan cara yang negatif, ya gak masalah dong yaaa..yaudah kalo gitu, silahkan tunggu tulisan-tulisanku yang selanjutnya..mohon doanya semoga sukses dan bisa bermanfaat untuk banyak orang khususnya aku sendirii hehehehe love you