Saturday, June 9, 2018

Sayyidah Khadijah 💕 (PART 1)

SAYYIDAH KHADIJAH DENGAN NABI MUHAMMAD SAW


Khadijah binti Khuwailid, bagi kita semua sebagai seorang muslim dan juga muslimah, nama tersebut tentu tidak asing lagi. Ya, beliau adalah istri pertama sekaligus istri tercinta dari junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Benar-benar sebuah kebohongan apabila kita mengaku mencintai Nabi kita Muhammad SAW, tetapi belum atau bahkan enggan mencintai sosok Sayyidah Khadijah, yang merupakan seorang wanita yang begitu dicintai dan mencintai Nabi Muhammad SAW. Sehingga sudah tidak ada lagi alasan bagi kita, untuk menolak mengenal wanita mulia yang satu ini, karena sebagaimana kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Jadi, mustahil kita dapat cinta dan sayang kepada Sayyidah Khadijah, sedangkan kita hanya sedikit atau bahkan sama sekali belum mengenalnya.
Sayyidah Khadijah juga merupakan seseorang yang memiliki andil sangat besar dalam membantu dakwah Rasulullah SAW, memang tidak dalam bentuk terjun langsung ke medan perang, tetapi dengan terus memberi dukungan, semangat dan kenyamanan kepada sang kekasih. Untuk itu, mengetahui kisah hidupnya bukanlah sebuah pilihan bagi kita semua, tetapi sebuah keharusan, karena dari kisah-kisah insan mulia ini, kita dapat memetik berbagai macam pelajaran hidup, tetapi untuk mendapatkannya tentu tidak mungkin apabila kita hanya sekedar membaca kisahnya, tetapi kita harus benar-benaar meresapinya, sehingga kita dapat mengetahui hikmah dari setiap kisah Sayyidah Khadijah, mari kita simak kisah-kisahnya berikut ini!
Kisah mereka berawal ketika Sayyidah Khadijah mencari seseorang untuk diutusnya membawa dagangan ke Syam. Pada saat itu masyarakat Mekkah sedang ramai membicarakan Nabi Muhammad ibnu Abdullah, seorang pemuda yang sangat jujur dan memiliki budi yang sangat luhur di tengah-tengah rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya. Akhirnya Sayyidah Khadijah mempercayakan dagangannya kepada Nabi Muhammad, yang kala itu didampingi oleh budak laki-lakinya yang bernama Maysaroh. Sekembalinya dari perjalan, Maysaroh bercerita tentang keuntungan besar yang didapat dan juga hal-hal aneh yang dialami selama perjalanan berdagang bersama Nabi Muhammad tersebut.
“Muhammad sangatlah jujur dan santun dalam perniagaan dan bersamanya kami mendapat untung besar. Namun bukan itu saja yang akan kuceritakan kepadamu wahai Khadijah, kemana saja berjalan selalu ada awan yang menaungi kami, maaf, bukan kami tepatnya, tetapi dia, sebab tatkala aku tak berjalan bersamanya dialah ternyata yang dinaungi awan tersebut.
Dan kejadian lebih ajaib lagi terjadi saat perjalanan pulang, kami dihampiri oleh seorang pelayan yang tengah beristirahat di bawah sebatang pohon. Ia meminta kami datang menemui tuannya yaitu seorang pendeta  ahli kitab bernama Bukhaira yang kabarnya tak pernah keluar dari tempat beribadahnya di menara, akulah yang datang menemuinya. Dia bertanya kepadaku tentang Nabi Muhammad, aku jawab setahuku, namun saat aku berniat mengelabuhinya, dia ternyata telah mengetahui segala sesuatu tentangnya.
Tak hanya itu, pernah juga ada seorang lelaki yang berselisih dengan Muhammad. Aku menduga lelaki itu memang sengaja mencari-cari persoalan, dan lelaki itu memminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Latta dan Uzza. Namun  Muhammad menolaknya dan berkata bahwa ia tidak pernah bersumpah atas nama keduanya”
Sayyidah Khadijah mendengarkannya dengan saksama dan penuh kekaguman. Sayyidah Khadijah semakin yakin bahwa Nabi Muhammad memang bukanlah pemuda biasa. Akhirnya ia datang kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, yang merupakan seseorang yang tekun mempelajari kitab-kitab terdahulu. Sayyidah Khadija hmenceritakan apa yang disampaikan Maysaroh kepadanya dan jawaban sepupunya itu menambah gejolak di dalam hati Khadijah. Waraqah berkata, apabila semua kejadiaan itu benar, maka lelaki yang bernama Muhammad tersebut kelak akan menjadi Nabi.
Apa yang dikatakan oleh Waraqah, menambah ketertarikan Sayyidah Khadijah kepada Nabi Muhammad. Padahal bukan tidak ada, tetapi sebelum mengenal Nabi Muhammad, banyak lelaki yang meminang Sayyidah Khadijah dengan menawarkan sejumlah besar harta dan mas kawin, tetapi tanpa ragu Sayyidah Khadijah menolak semua pinangan itu. Karena memang bukan harta, tetapi akhlak dan budi yang luhur serta keistimewaan Nabi Muhammad lah yang membuat wanita mulia ini jatuh cinta. Tetapi Sayyidah Khadijah juga masih ragu, tentu saja karena usia nya yang terpaut sangat jauh dengan Nabi Muhammad.
Dalam suasana keresahan dan kebingungan yang melanda pikiran Sayyidah Khadijah, datanglah teman wanitanya yang bernama Nafisah binti Munayyah. Bagi Sayyidah Khadijah, Nafisah bukanlah sekedar teman biasa, bahkan lebih dari itu. Ia dianggap sebagai saudaranya sendiri. Karena itu tak ada soal-soal pribadi yang harus dirahasiakan kepadanya. Kini taulah sudah Nafisah apa yang bergejolak di dalah hati sahabatnya Khadijah. Ia rela menjembatani hubungan yang hendak dibangun  Sayyidah Khadijah dengan Nabi Muhammad.
Pada suatu kesempatan yang dianggapnya tepat, datanglah Nafisah kepada Nabi Muhammad. Kepada Nabi Muhammad ia menanyakan mengapa beliau lebih suka membujang, bukankah lebih baik dan lebih tentram jika beliau berumah tangga, hidup didampangi seorang istri yang akan menghilangkan kesepiannya? Nabi Muhammad beberapa saat tidak menyahut. Beliau menanggapi ucapan Nafisah tersebut dengan bertanya, “Dengan apa aku dapat beristri?” Belum selesai beliau mengucapkan kata-katanya, Nafisah cepat-cepat melanjutkan pertanyaannya, “Jika Anda dikehendaki oleh seorang wanita ruapawan, hartawan dan bangsawan, apakah Anda bersedia menerimanya?” Mendengar pertanyaan itu Nabi Muhammad segera mengerti wanita mana yag dimaksud oleh Nafisah. Wanita itu bukan lain tentu adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Wanita lain manakah yang rupawan, hartawan dan bangsawan kalau bukan dia?
Dapat kita ketahui bersama, begitu tegas dan cerdas sikap yang diambil Sayyidah Sayyidah Khadijah dalam memutuskan apa yang ia yakini dapat membuat hidupnya lebih bahagia. Tetapi jelas bukan hidup yang tanpa rintangan yang ia dambakan, karena saat itu Sayyidah Khadijah sendiri sudah mendapatkan rambu-rambudari sepupunya Waraqah ibnu Naufal, bahwa laki-laki yang membuatnya jatuh hati tersebut merupakan laki-laki pilihan, yang kelak akan mengemban tanggung jawab membawa risalah kenabian. Jadi ketika Sayyidah Khadijah memutuskan untuk memilih Nabi Muhammad sebagai pendamping hidupnya, itu artinya ia sudah siap dengan segala risikonya, mendampingi Nabi Muhammad dalam keadaan suka maupu duka.
Nabi Muhammad menyampaikannya kepada pamannya Abu Thalib, yang disambutnya penuh suka cita. Lalu Abu Thalib melamarkan Sayyidah Khadijah untuk beliau. Dan setelah semua pihak telah setuju, saat itulah Sayyidah Khadijah menyampaikan hal yang dianggapnya penting untuk diketahui oleh Nabi Muhammad :
“Wahai Muhammad..sungguh Demi Allah. Engkau harus tahu bahwa aku ingin menikah denganmu bukan karena berharap sesuatu. Aku melakukannya karena kukira engkau adalah Nabi yang akan diutus, Rasul yang kedatangannya ditunggu dan diberitakan oleh para Rahib dan pendeta. Dan jika itu benar, aku berharap engkau tidak menyia-nyiakan perbuatanku..ajaklah aku kepada Tuhan yang kelak akan mengutusmu itu.”
Nabi Muhammad menjawab :
“Aku tidak tahu kebenaran ucapanmu itu, wahai Khadijah. Namun Demi Allah, jika benar aku menjadi seperti yang kau kira aku tentu tidak akan menyia-nyiakanmu sampai kapanpun. Dan jika tidak, maka Tuhan yang engkau telah berbuat kebaikan ini karena-Nya Dia pasti tidak akan pernah menyia-nyiakanmu”
Percakapan yang begitu indah dan luar biasa, antara dua insan yang luar biasa pula. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Sayyidah Khadijah begitu percaya kepada Nabi Muhammad, berikut ajaran yang akan dibawanya kelak. Ia berani berkata demikian, tanpa adanya sedikitpun keraguan. Bahkan ia telah menyatakan akan beriman, sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi seorang Rasul. Padahal kelak banyak orang yang telah diseru tetapi tetap mendustakan Nabi Muhammad, sedangkan Sayyidah Khadijah, ia memang sungguh luar biasa.
Biasanya laki-laki menginginkan seorang gadis muda untuk diperistri, sama hal nya dengan wanita yang pada umumnya mengidamkan seorang lelaki kaya raya untuk menjadi suaminya. Tetapi lain halnya dengan pasangan istimewa ini, saat itu usia Nabi Muhammad 25 tahun dan Sayyidah Khadijah berusia 15 tahun diatas beliau, dan saat itu pula harta kekayaan Sayyidah Khadijah jauh di atas Nabi Muhammad yang semula hanyalah pegawai yang menjajakan dagangannya. Jadi sama sekali tidak diragukan lagi, bahwa rasa yang hadir di antara pernikahan dua insan ini, memang bukanlah nafsu duniawi, namun cinta yang hakiki.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa segala sesuatu tergantung pada niatnya, begitu juga halnya dengan pernikahan. Pernikahan akan berjalan dengan buruk, apabila yang mendasarinya hanyalah nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan duniawi, dan pernikahan hanya akan baik, apabila segala sesuatu yang mendorongnya untuk menikah adalah hal-hal yang baik yang tak lekang oleh waktu. Dan sama sekali tidak diragukan lagi, bahwa pernikahan antara Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah, adalah pernikahan yang didasari dengan sebaik-baik niat, maksud dan tujuan.
Maka berlangsunglah pernikahan keduanya, dan berjalanlah kehidupan rumah tangganya. Begitu bahagia dan nyaris sempurna, adalah kata-kata yang paling bisa mewakili kehidupan rumah tangga ini. Seorang suami yang begitu bijaksana dan istri yang begitu mulia di dalamnya. Sayyidah Khadijah sangat bahagia dengan pernikahannya. Ia merasa tidak perlu lagi mengurus usaha dagangannya. Semua ia serahkan kepada Nabi Muhammad, suaminya. Perhatian Sayyidah Khadijah sepenuhnya dipusatkan pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta menangani urusan-urusan rumah tangga lainnya.
Lalu bagaimana dengan muslim dan muslimah kita di zaman ini? Sudahkah mereka mengetahui bagaimana kisah cinta Nabi nya? Sudahkah mereka benahi niat ketika berencana untuk hidup berumah tangga? Tidak sedikit dari muslim dan muslimah saat ini, yang menikah hanya karena nafsu-nafsu duniawi, yang akibatnya pernikahan mereka tidaklah berkah. Karena nafsu duniawi itu sifatnya hanya sementara, semu, sehingga mustahil rumah tangga mereka dapat berjalan dengan baik seterusnya. Segala sesuatu yang hanya didasari oleh nafsu dunia sudah pasti bahwa ujungnya adalah kehancuran.
Dapat kita lihat dengan jelas, bahwa tingkat perceraian semakin lama semangkin meningkat. Benar-benar kondisi yang begitu memprihatinkan. Tetapi tentu hal itu sama sekali bukan sesuatu yang mengherankan, ketika artis-artis yang gemar mengumbar auratnya, artis-artis yang senang bermain-main dengan pernikahannya, lebih mereka idolakan ketimbang wanita-wanita yang sudah dijamin masuk surga. Karena seorang idola akan menjadi acuan atau panutan kita dalam bersikap, sehingga ketika kita memiliki seseorang yang kita idolakan, secara langsung maupun tidak langsung, kita akan mencontoh perilakunya.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita membuka mata dan menyadari siapa-siapa saja yang harus kita idolakan, agar perilaku kita dapat membawa kebaikan, yang tidak hanya di dunia tetapi juga membawa kebaikan hinga di akhirat. Dan untuk sosok seorang wanita, Sayyidah Khadijah merupakan sosok yang sangat sempurna untuk dijadikan idola, karena ia termasuk salah satu dari empat wanita yang telah dijamin masuk surga.