Friday, August 11, 2017

Surat Cinta untuk yang Tercinta 💜

Bismillahirrahmanirrahim..semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada kita semua dan juga senantiasa mengucurkan rasa kasih dan sayang di hati kita semua, sehingga kita dapat saling membagi dan menerima rasa kasih dan sayang, yang merupakan bagian dari sifat-Nya yang begitu mulia..
Saat ini, akan kutulis surat cinta ini, karena ketidakmampuanku untuk membendung lagi rasa yang semakin lama semakin menggelora di dalam dadaku..
Entah apa yang kurasakan, karena aku tahu tak ada yang pasti mengenai perasaan..tapi yang aku tahu, rasa ini memiliki banyak persamaan, dengan rasa yang biasa dikisahkan oleh mereka-mereka, yang menyebutnya dirinya para pecinta..
Cinta? mungkin belum, karena nyatanya aku belum mampu banyak berkorban untuk membuktikannya, aku juga belum mampu menggunakan seluruh waktuku untuk berusaha menjumpainya..
Bukan cinta? Juga jelas bukan, karena bahkan aku tidak mampu menahan air mataku untuk tidak jatuh, di setiap kata yang sedang kutulis ini..
Baiklah, cintaku..sebenarnya aku tahu aku belum pantas memanggilmu dengan panggilan semesra itu, tapi tak apa, biarlah itu menjadi pecutan dan pemacu, untuk pada akhirnya benar-benar mencintaimu..
Awalnya, aku mengira para pecinta itu, mereka mengada-ada mengenai apa yang sebenarnya mereka rasakan, mengenai begitu banyak air mata, pengorbanan, rindu, derita..
Awalnya, aku mengira para pecinta itu gila..terlebih kepada yang mengatakan cinta itu buta dan kepada mereka yang bahkan berkata cinta padahal belum pernah berjumpa dengan yang dicintainya..
Tapi duhai cintaku, karenamu, kini aku mulai mengerti bahwa mereka sama sekali tidak mengada-ada, apalagi gila..kini aku juga mengerti, tidak ada sedikitpun batas kewajaran dalam mencintai dan dicintai..dan mengenai tak kenal maka tak cinta, kini aku pun juga mengerti, karena semakin aku mengenalmu, aku juga semakin mencintaimu..
Awalnya, aku tidak mengerti apa itu dan bagaimana seseorang bisa merasa cemburu..tapi cintaku, karenamu, kini aku mulai mengerti, karena cemburu itu sendiri, kini sedikit demi sedikit mulai membakarku..
Awalnya aku tidak mengerti, mengapa para pecinta itu begitu antusias untuk menemui yang dicintainya, meskipun terkadang pada kenyataannya mereka tidak pernah benar-benar bertemu..
Cintaku, ketahuilah, bahwa aku memang belum pernah berjumpa denganmu, aku belum pernah berbincang denganmu, bahkan hanya melihat wajah dan mendengar suaramu pun aku juga belum pernah..tapi aku merasa cemburu dengan mereka-mereka yang pernah dekat ataupun masih tetap dekat denganmu, aku cemburu pada mereka-mereka yang mendedikasikan seluruh dari waktunya untuk meniru agar dapat berjumpa denganmu..aku cemburu pada mereka-mereka yang begitu mencintaimu, hingga dapat mematahkan segala bentuk kemustahilan..aku cemburu dengan mereka-mereka yang sudah lebih awal berjumpa denganmu..
Cintaku, para pecinta mengatakan, bahwa seseorang yang kita cintai akan terlihat sempurna bagi kita walaupun sebenarnya ia tidak..lalu bagaimana denganmu, cintaku? bagaimana lagi kau dapat terlihat bagiku, sedangkan kau memang benar-benar sempurna?
Alasan cemburuku bukan lagi bersekala perorangan, tetapi makhluk..di bumi ini, baik yang masih berjalan di atasnya maupun yang sudah terpendam di dalamnya, baik yang dapat dipandang mata manusia maupun yang tidak dapat, ada begitu banyak makhluk yang mencintaimu, lalu apa mungkin aku masih memiliki tempat di hatimu?
Tetapi mau bagaimana lagi, cintaku..engkau adalah rahmat bagi semesta alam..dan mencintaimu bukan lagi sebuah kemuliaan ataupun kekhususan bagi kami semua, tapi merupakan kewajiban bagi makhluk di seluruh alam..karena bahkan Tuhanmu pun begitu memuliakanmu, hingga menyandingkan namamu langsung dengan nama-Nya..
YaRasulallah, YaHabibullah...aku tak tahu apalagi yang dapat aku ungkapkan, aku tak tahu apalah lagi yang mampu aku luapkan, aku tidak tahu apalagi yang mampu aku tulis dan lukiskan,akan perasaan di hatiku yang begitu menggelora padamu...aku tak tahu apakah aku sudah pantas berkata bahwa aku mencitaimu, tetapi yang pasti aku ini malu, aku rindu, aku cemburu..
Aku malu karena aku mengaku mencintaimu, tapi aku baru sangat sedikit dalam meniru perilakumu..aku rindu padamu, tapi aku takut dengan sedikitnya sunnah-sunnah mu yang kujalankan dan sedikitnya amal-amal yang kupunya, kelak engkau akan menolak untuk bertemu dengankuu, jangan yaRasulallah, aku tidak mampuuu, aku tidak mauuuu...aku cemburu, dengan para wali-walimu, dengan umat-umat mu yang bahkan sudah mampu berjumpa denganmu, sebelum kematian mereka..
YaRasulallah...berilah aku kesempatan, izinkanlah aku berziarah ke makam mu, ke makam yang engkau masih tetap hidup dan membalas shalawat dari umat mu..ke tanah kelahiran dan tanah hijrahmu..ke tempat yang begitu istimewa dan yang begitu muliah yang pernah ada di muka bumi ini..Madinah al Munawwarah dan Makkah Al Mukarramah..
YaRasulallah..temuilah aku dalam mimpi-mimpiku, bahkan dalam keadaan sadar, sebelum kematianku..perkenanlah aku memandang wajahmu yang begitu elok nan sempurna, menyentuh kedua tangan lembutmu dan memeluk erat tubuh muliamu..
YaAllahh..bimbinglah aku, agar senatiasa tetap berjalan di jalanMu dan RasulMu, agar aku dapat memenuhi perintahmu, yaitu mengikuti segala hal yang dibawa oleh insan termuliaMu..yaAllah, jadikanlah kedekatan tanpa batas denganMu dan juga dengannya, tidak lagi mustahil bagiku..yaAllahh, aku mencintainya, karna cintaMu padanya dan cintaku padaMu..kelak kumpulkanlah kami bersama, di surga firdausMu..amiiiin, YaAllaaahhh...
YaRasulullaaahhhh, aku mencintaimuu, aku merindukanmuuu...cintailah akuuu dan jumpailah akuuu...jadikan lah aku umatmu yang tak hanya bangga denganmu tapi juga dapat membanggakanmu...
I love you so much, YaRasulullah..semoga Allah berkenan menyampaikan aku ke tanahmu, sesegera mungkin, amiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnn <3 <3 <3 <3

Sunday, July 2, 2017

Syifa' 💜

Suatu ketika nenekku dari ayah (yang biasa aku panggil umik), pernah bertanya kepadaku saat kami sedang duduk berdua, “Karimah tau bedanya dawa’ (obat) dan syifa’ (penyembuh) ?”. Waktu itu aku yang masih duduk di bangku SMP berpikir keras untuk dapat mengetahui beda dari kedua hal tersebut. Setelah berpikir agak lama, aku menjawab “tidak tau, kayaknya sama aja, sama-sama buat ngilangin penyakit”. Kemudian umikku menjelaskan “obat itu digunakan dalam usaha untuk menyembukan, namun masih belum tentu sembuh..tetapi yang namanya penyembuh, pasti dapat menyembuhkan..oleh karena itu, dikatakan bahwa AlQur’an itu adalah “penyembuh bagi penyakit hati” bukan ‘’obat bagi penyakit hati”...karena dengan AlQu’an, bukan hanya mungkin tetapi sudah pasti dapat menyembuhkan penyakit hati”. Aku selalu mengingat jawaban itu, karena menurutku itu adalah sebuah analogi yang keren B)
Lalu apa sih yang  sebenernya mau aku bahas dipostinganku yang kali ini ? sebenernya, aku mau sedikit curhat, tentang usaha menyembuhkan. Ada waktu-waktu, atau mugkin banyak waktu, dimana hal-hal kecil yang berbau dunia, hal-hal sepele yang berbau dunia bahkan hal-hal tidak masuk akal yang berbau dunia, dapat melukai hati kita dari mulai sedikit hingga sangat parah. Lalu usaha penyembuhannya pun tentu juga berbeda-beda, dan tidak jarang hingga berlarut-larut karena mengalami banyak kegagalan. Dan beberapa waktu terakhir ini, aku mencari ketenangan hatiku di banyak tempat, mencari jawaban dari banyak keraguan dan kegelisahanku di banyak hal. Ketika perasaanku tidak kunjung membaik dengan adanya “ice cream”, maka kuanggap hal itu bukan lagi masalah yang sederhana.
Aku seseorang yang hobi tertawa, yang kata orang-orang itu karena selera humorku rendah. Aku juga bukan orang yang ekspresif *sudah sering sekali kukatakan bagian ini*, karena ketika aku sedih, sangat jarang yang dapat melihatnya dari raut wajahku atau gerak gerikku, yang nyatanya tetep aja *absurd* walaupun katanya lagi galau berat. Makanya kadang aku ngerasa harus bikin pengumuman kalo lagi sedih, biar orang-orang tau  dan gak bikin masalah sama aku. Tetapi beberapa waktu ini, aku bener-bener hzz banget dan aku penasaran apa sebenernya yang bisa bikin aku ngerasa baikan dan tenanglagi.
AlQur’an adalah penyembuh bagi penyakit hati. Aku duduk, setiap hari aku duduk dan membaca AlQur’anku, tetapi bahkan untuk menghadirkan hati dalam membacanya saja, seringkali aku gagal karena kondisi hatiku yang sedang tidak fit. Lalu bagaimana aku bisa sembuh, saat aku tidak benar-benar membaca dalam membacanya? Mungkin aku merasa lebih baik, tetapi aku masih belum merasa baikan seutuhnya, masih tetap ada yang terasa mengganjal. Tetapi Allahku tercinta Yang Maha Tau, Ia selalu ada dan menyaksikan setiap hambaNya, dan tidak pernah meninggalkan hambaNya sendirian kehilangan arah dan kesepian.
Saat itu beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan, aku merasa begitu sedih dan lelah karena hal-hal dunia yang kecil, yang hingga awal-awal masuk Ramadhan aku juga belum merasa baikan. Aku tidak duduk diam, aku berusaha untuk menenangkan diriku dari tangisku yang tak kunjung reda *eaaaaa*. Kemudian aku coba lagi, membaca buku-buku ku, berbagai buku tentang agama islam, dari mulai siroh Nabi SAW, Fiqh, dll, namun tetap aku belum merasa sembuh seutuhnya. Hingga akhirnya, tak lama setelah masuk Ramadhan, aku mulai bertemu dan menyadari, apa sebenarnya yang paling ampuh untuk menyembuhkan lukaku karena dunia. Kau tau apa itu ? duduk dan berguru. Ada seseorang yang sempat ada di hidupku untuk beberapa saat *semoga rahmat Allah selalu ada bersamanya dan seluruh orang yang mencintai dan dicintai*, ia pernah berkata kepadaku ketika aku bercerita bahwa aku gemar membaca buku, katanya “Terhadap sesuatu hal/bab yang sama, terdapat perbedaan yang sangat jauh yang kau dapat antara membacanya dari buku dan mendengarnya langsung dari para alim ulama’ (para guru), bahkan terhadap suatu perkara yang haq, yang kau baca hanya dari buku, itu tetap mungkin dapat menyesatkanmu. Sedangkan sebaliknya dengan duduk bersama para alim ulama’, kau bisa tetap mendapat banyak hal, bahkan sebelum mereka menyampaikan sepatah kata pun”. Saat dia mengatakan hal itu, aku merasa tidak percaya dulu, bahkan sedikit tersinggung. Saat aku mengatakan aku suka membaca buku agama, bukannya dia mengatakan itu hal yang baik dan memuji, tetapi justru mengatakan hal yang menurutku tidak masuk akal.
Tetapi saat ini, aku mempercayai hal itu 100%, karena aku telah membuktikannya sendiri. Aku merasa terluka karena dunia, dan katanya yang dapat menyembuhkan adalah ingat kepada akhirat. Namun sudah aku gelar sajadahku, aku buka AlQur’an ku dan aku pelajari buku-buku agamaku, dan tak kunjung membaik keadaanku dan belum terjawab pula banyak dari pertanyaanku, karenanya semua itu bagiku adalah obat namun beum kutemukan penyembuhnya. Hingga akhirnya aku duduk bersama teman-temanku, dan menimba ilmu dari guru kami. Semuanya begitu berbeda, duduk bersama dan mendengar ilmu agama dari ahlinya memang jauh berbeda rasanya. Yang dibacanya adalah siroh Nabi SAW yang sama dengan yang kubaca di bukuku, tetapi darinya aku baru merasa benar-benar runtuh karena kerinduan kepada Nabiku Sang Kekasih. Yang dibacanya adalah ayat AlQur’an yang sama dengan yang ada di AlQur’anku, namun melalui penjelasan darinya, aku baru merasa paham dan mengerti makna syifa’ yang disematkan terhadap AlQur’an. Bagiku saat itu, inilah syifa’.
Berangsur-angsur aku merasa semakin baikan dan aku mendapatkan begitu banyak jawaban bahkan tanpa mengacungkan tangan. Aku mencari ketenangan hatiku di banyak tempat, dan di majelis kebaikanlah benar-benar terdapat banyak keberkahan dan rahmat, serta melalui lisan para guru-guru kami dengan keilmuannya yang bersambung kepada Rasul SAW lah, baru aku menemukan ketenangan. Hati adalah tempat / wadah bagi segala macam bentuk rasa. Maka ketika hati sedang tidak baik, akan berkurang bahkan hilang rasa dari berbagai macam hal. Dari shalat, mengaji, berdzikir, semua terasa kosong dengan hati yang kering dari ilmu dan peringatan. Namun setelah hati tersebut mulai baikan, maka rasa dari segala sesuatu tersebut juga berangsur-angsur mulai muncul kembali. Karena sungguh merupakan suatu musibah yang sangat besar, ketika kita mampu beribadah namun kehilangan rasa nikmat darinya.
Maka sesungguhnya Allah kita begitu dekat, sangat dekat dan selalu ada. Ketika kita berusaha mencari dan menghampiriNya, maka tidak lain Ia akan memeluk kita dengan erat hingga kita kembali merasa tenang. Dan semoga rahmat Allah selalu bersama mereka-mereka para guru yang keilmuannya bersambung dengan Sang Kekasih, Nabi Muhammad SAW. Yang mereka dengan akhlak dan adabnya, kita melihat cerminan pribadi Nabi SAW. Yang memandang wajah mereka, dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Yang melalui lisan mereka, kita yang sudah mulai lengah kembali digiring ke toriqoh (jalan) yang mulia. Semoga Allah memanjangkan usia guru-guruku yang darinya aku menemukan ketenangan hatiku, semoga Allah selalu menjaga dan memudahkan dakwah mereka, mengampuni dosa-dosanya dan selalu menjaga mereka dalam lindunganNya. Dan semoga orang-orang awam seperti aku, yang masih sangat kering dari ilmu, masih selalu diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk dapat duduk bersama mereka di dunia, dan kelak juga di akhirat kelak, amiiiiin.

- Karimah Umar Aidid -


Saturday, March 11, 2017

BERTUDUNG CINTA 💜

Kisah nyataku tak jauh-jauh dari kehidupan kuliah yang berlatarkan kampus atau halte bis dan Bis Batik Solo Trans yang akrab disebut Bis BST. Kali ini aku akan bercerita mengenai salah satu pengalaman di perjalanan dengan Bis BST yang menurutku sangat menarik. Kegiatan praktikum semester 4 ini belum dimulai, jadi aku masih pulang siang hari dengan menggunakan Bis BST seperti biasa. Cuaca di kotaku saat ini sama sekali tidak menentu, jika tidak hujan deras pastilah matahari menyengat begitu panas. Kali itu begitu panas dan itu membuat aku berharap bis yang ku tunggu datang lebih cepat dari biasanya. Ketika bis itu sudah datang, aku cepat-cepat masuk untuk segera merasakan dinginnya AC bis dan juga untuk memilih kursi di bagian depan agar bisa lebih jelas melihat-lihat jalan.
Aku sangat mudah mabuk perjalanan terlebih jika supir bisnya kurang handal, jadi aku harus selalu mencari kegiatan agar pikiranku dapat teralihkan. Dan seperti biasa, pertama-tama aku memilih untuk mengamati orang yang ada di sekitarku satu per satu. Aku mencoba-coba untuk menebak karakter dan kehidupan seseorang melalui penampilannya, seperti yang biasa dilakukan Sherlock Holmes (tokoh fiktif detektif). Tetapi tentu saja tebakan itu tidak akan tepat, karena itu hanya sekedar iseng untuk membunuh waktu. Disinilah hal menarik yang aku ingin ceritakan. Di depanku ada seorang nenek-nenek, yang kira-kira umurnya sudah 60 an. Ia mengenakan baju yang juga dilengkapi dengan kerudung. Namun ia sama sekali tidak terlihat rapi, kerudungnya pun juga tidak menutupi rambutnya dengan sempurna karena sebagian rambutnya masih terlihat jelas. Kemudian aku berfikir, “apakah nenek ini ada yang mengurus?jika ada, mengapa ia dibiarkan memakai pakaian yang kurang rapi?lalu apakah nenek itu tahu bahwa rambutnya masih tetap terlihat berantakan meskipun telah menggunakan kerudung? Apa mungkin Allah akan menghukuminya dalam hal menutup aurat sama dengan kita yang masih muda ini?”.
Di tengah-tengah lamunanku itu, nenek yang sedang kuperhatikan tadi berusaha mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Nenek itu sepertinya pengelihatannya sudah kurang jelas, karena aku melihatnya cukup lama untuk menemukan yang ia cari di dalam tasnya. Aku mengira dia akan mengeluarkan minyak nyong-nyong yang biasa digunakan nenek-nenek agar tidak mabuk perjalanan *yang biasanya justru bikin orang di sekitarnya makin mabuk*. Namun ternyata aku salah, yang ia keluarkan adalah secarik kertas yang dilipat-lipat menjadi kecil. Ia mengeluarkan lalu mencium kertas itu. Pikiran dramaku kembali menerka-nerka, “apa yang tertulis di kertas itu? Apa itu surat dari suaminya yang kini sudah tiada? Apa mungkin dari anaknya yang tinggal jauh darinya?”. Untung saja rasa penasaranku itu tidak berlangsung lama, karena ia segera membuka lipatan kertas yang telah diciumnya itu.
Dia membukanya dengan begitu perlahan, hingga akhirnya terbuka sempurna. Aku yang duduk di sebrangnya, tidak butuh banyak usaha untuk dapat melihat apa isi dari kertas lusuh yang telah dilipat-lipat itu. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat isi di kertas itu, karena aku sama sekali tak menyangkanya. Kau tahu apa isinya? Ya, bait-bait doa. Ternyata kertas yang ia keluarkan dan cium tadi adalah kertas yang berisikan beberapa doa yang diawali dengan shalawat Nabi. Doa itu ditulis dalam bahasa arab, namun dibawahnya terdapat cara membacanya dalam bahasa indonesia. Ia membaca yang dalam Bahasa Indonesia itu dengan penuh kekhusukan, dengan agak sedikit kesulitan karena sepertinya pengelihatannya yang sudah mulai kabur. Setelah ia selesai membacanya, kemudian ia melipat kembali kertas itu dan menciumnya lagi sebelum dikembalikan ke tasnya.
Aku yang sama sekali tidak menyangka, hanya bisa diam termenung saat itu, karena rasanya Sherlock Holmes pun tidak akan berhasil menebak apa sekiranya isi dari kertas itu. Kejadian kecil dengan hikmah yang sangat luar biasa. Seketika udara yang masih terasa panas walaupun sudah di ruang AC, langsung menyejuk melihat hubungan cinta yang luar biasa. Betapa kita memang sama sekali tidak mampu menilai seseorang dari bagaimana ia terlihat. Pertanyaan-pertanyaanku semula tentang bagaimana hukum dari caranya menutup aurat dengan kerudungnya, pun rasanya telah terjawab sempurna. Ya, dialah wanita yang bertudung cinta. Dia mungkin memang tidak lagi dapat menutupi auratnya dengan sempurna, tetapi bagaimana kita tahu apa saja usaha yang sudah dilakukannya dan bagaimana ia telah merubah sebagian dari masa lalunya. Berkerudung memang bukanlah hal biasa bagi wanita Indonesia zaman dahulu walaupun beragama islam. Aku jadi teringat cerita nenekku, yang mengatakan bahwa di zamannya dulu hanya orang-orang tertentu dan amat sangat sedikit yang menggunakan kerudung. Sehingga apa yang salah dari nenek ini yang telah berusaha untuk menutup auratnya. Berbeda dengan kita yang masih sempurna akal dan fisiknya, dalam menutup aurat tentu kita harus tetap melakukannya dengan sesempurna mungkin.  Mungkin dia baru saja belajar, mungkin dia sudah mulai lupa dan lemah tubuhnya, tetapi iman dan cintanya ternyata begitu besar. Di usia yang sudah tua dengan kondisi yang renta, yang ia lakukan didalam perjalanannya bukanlah istirahat tidur, tetapi justru memanjatkan doa.
Apa sekiranya yang membuat ia mencium kertas itu dan baru mulai berdoa? Karena ia melakukannya dengan penuh cinta dan penghormatan. Walaupun matanya sudah mulai kabur dan ia tidak mampu membaca doa dalam bahasa arab, hal tersebut sama sekali tidak dijadikannya penghalang untuk tetap memanjatkan doa. Ia mungkin tidak memiliki banyak pengetahuan agama, tetapi keyakinan dan cintanya begitu besar. Ia mungkin tidak begitu mengerti, tetapi ia memiliki rasa yang begitu besar hingga meluluhkan hati pengamatnya. Betapa banyak orang-orang yang mengumumkan dirinya berilmu, hafal Al-Qur’an dan Hadits, tetapi masih tetap krisis rasa, keyakinan dan penghormatan terhadap islamnya? Bukan, bukan berarti mencari ilmu atau menghafal Al-Qur’an itu buruk, tentu saja itu sangat mulia. Namun itu saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dalam beragama, jika tidak ada “ruh” dalam ibadahnya tersebut. Kuantitas itu penting, tetapi kualitas itu juga sangat tidak kalah penting. Berapa banyak saat ini orang yang memakai surban dan baju taqwa, namun beragama hanya mengikuti hawa nafusnya untuk kepentingan dunia?
Maka sebagai manusia jelas sekali keterbatasan kita dalam menilai seseorang. Lalu apa? Apa berati ketika kita melihat seseorang dengan baju taqwa, berarti kita tidak boleh meyakini bahwa dia adalah seseorang yang baik dalam agamanya? Tentu saja bukan begitu. Hal ini berarti, kita harus menjadikan diri kita mampu terus berkhusnudhon tanpa batas. Dalam melihat bagaimana saja penampilan seseorang, kita harus mampu yakin bahwa dalam dirinya terdapat begitu banyak kebaikan yang tidak kita miliki. Jika untuk langsung meyakini itu masih sulit bagi akal sehat kita, maka dapat kita mulai dari menghadirkan fantasi-fantasi baik yang mungkin ada dalam diri setiap orang. Selain berkhusnudhon, ada hal lain yang dapat kita ambil dari cerita tadi. Ya, ladang untuk berdoa. Setiap orang yang kita temui di jalan, di kantor, di kampus atau dimanapun itu, merupakan ladang untuk berdoa. Bagaimana bisa disebut ladang untuk berdoa sedangkan kita tidak mengenalnya? Tentu saja bisa, karena kita relah mengenal yang namanya khusnudhon sebelumnya. Setelah melihat apa yang dilakukan nenek tersebut, tentu saja kesempatan berdoa tidak boleh dilewatkan. Bagaimana jika ternyata dia memanglah salah satu dari Wali Allah? Maka merupakan kesempatan baik bagi kita mendoakan baginya seluruh kebaikan di dunia ini dan di akhirat kelak, dan kita juga meminta kepada Allah agar jika dia memang lebih baik dari kita, maka kita dapat disampaikan bahkan dilebihkan dari kedudukannya dari sisi Allah. Mendoakan bagi kebaikan siapa saja itu sangat besar pahalanya, terlebih jika memang yang kita doakan itu adalah salah seorang kekasihNya.
Semoga Allah senatiasa memperbaiki urusan dunia dan akhirat kita, menjadikan kita salah satu kekasihnya dan menganugerahi kita kemampuan untuk selalu berkhusnudhon dan berdoa untuk orang lain. Semoga Allah menjadikan kita hambanya yang hidup bernafaskan cinta atas islam yang merupakan rahmat bagi semua. Semoga Allah menjadikan kita orang yang mengetahui, berakhlak dan berkeyakinan dengan sempurna. Amin, amin, Ya Rabbal ‘Alamin. Dan hikmah terakhir dari perjalananku kali itu adalah aku jadi tidak mabuk perjalanan, karena sibuk terheran-heran..

Tuesday, February 7, 2017

New love story 💕


Kali ini akan kutulis suatu kisah cinta. Dimulai dari bagaimana pertemuannya, jatuh cintanya, berikut ungkapan-ungkapan cinta untuk yang tercinta. Aku selalu bertanya-tanya tentang segala sesuatu, dan cinta adalah yang paling tidak dapat kumengerti. Perasaan memang tidak sejelas pikiran, tetapi banyak dari perasaan tidak serumit cinta. Ada batas yang cukup jelas, antara rasa sedih dan bahagia, iba dan bangga, dan lain sebagainya. Namun cinta ? adakalanya, aku merasa bahwa segala hal tentang cinta adalah keputusan sang hati, tetapi di lain waktu aku merasa bahwa pikiran kita juga sangat mempengaruhinya. Intinya, cinta itu memberi ketenangan, kebahagian, dan menambah rasa di segala sesuatu yang semula biasa.
Kisah cintaku kali ini mungkin sedikit tidak biasa. Memang ada banyak sekali cinta yang mungkin ada di dunia ini. Cinta ibu kepada anaknya, cinta suami atau istri pada kekasihnya, cinta orang kikir kepada hartanya, dan lain sebagainya. Cinta adalah anugerah yang diliputi kebaikan. Segala sesuatu yang dikira cinta namun tidak melibatkanNya, rasanya tak pantas disebut cinta. Karena hal baik yang dicapai dengan cara buruk tetaplah keburukan dan hal buruk yang dicapai dengan cara baik pun tetaplah keburukan. Sedangkan cinta adalah segala sesuatu yang begitu mulia tanpa hadirnya keburukan.
Cinta sama sekali bukan sesuatu yang dapat kau bayangkan. Kau masih mungkin membayangkan dirimu dalam kesedihan, atau dalam suatu kesenangan, namun mustahil dapat membayangkan dirimu terbuai dalam lautan cinta. Cinta, cinta dan cinta. Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama, kau tahu kenapa? Karena tidak ada cinta yang benar-benar cinta, tanpa mengenal yang dicintainya. Tertarik ataupun suka pada pandangan pertama itu mungkin, tetapi cinta ? ah, tentu saja tidak. Dan kisahku ini telah membuktikannya.
Aku sudah mengenalnya sejak lama, sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku banyak melalui hari-hariku bersamanya. Tetapi, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Aku tidak mengerti kebaikannya, kekhususannya, maupun hal-hal lain yang memungkinkan aku untuk jatuh cinta padanya.
Ketika aku tumbuh dewasa, aku semakin sering mendengar tentang keutamaan-keutamaannya. Tetapi aku tidak pernah percaya ataupun menganggap semua itu nyata. Banyak yang menjelaskan dan mengatakan kemuliaannya, namun bagiku itu hanya bagai angin lalu karena aku belum mampu merasakan apapun padanya.
Mungkin ini yang disebut takdir, bahwa pasti ada masa untuk segala hal, bahkan untuk rasa cinta terhadap sesuatu. Selama ini aku hanya mendengar dari orang lain, tanpa mencari tahu dan berusaha untuk mengerti lebih lanjut tentangnya. Selama ini aku terlanjur sudah berkeyakinan, bahwa sebenarnya itu hanya hal biasa yang dibesar-besarkan oleh sebagaian kecil orang. Aku tumbuh dengannya, namun tanpa adanya rasa.
Tetapi seiring berjalannya waktu, semua mulai berubah adanya. Entah bagaimana yang pasti awal mulanya, hingga kini aku jatuh cinta padanya. Semua itu tidak terjadi begitu saja dengan serta merta, namun membutuhkan proses yang tak terencana namun nyata. Mungkin karena aku mulai percaya tentang kebaikannya, kala yang menyampaikan juga orang-orang yang juga makin aku percaya. Awalnya aku hanya coba-coba, untuk menjalaninya dengan sedikit lebih dengan rasa. Aku yang nyatanya mulai jauh darinya, juga memulai lagi untuk menghampirinya dengan cara dan rasa yang sedikit lebih berbeda. Dan ternyata benar yang kudengar selama ini, aku merasakan hal yang semula hanya kuanggap angin lalu dan mustahil untuk kurasakan. Ketika ia mulai menjadi alasan untuk senyumku, salah satu penghibur hatiku dan obat bagi kegelisahanku. Aku selalu beranggapan, bahwa luka atau beban dari suatu masalah hanya akan sembuh dan hilang dari cara yang sama seperti luka itu datang, namun ia menggugurkan anggapan lama ku itu. Kau tahu kenapa ? karena entah apa masalah dan bebanku, semua terasa jadi jauh lebih ringan karenanya. Hatiku yang gelap rasanya terang kembali. Semangatku yang pudar rasanya penuh kembali. Pikiranku yang kacau rasanya pulih kembali. Dan semua itu karenanya. Dari situ aku mengerti, bahwa inilah yang disebut mereka sebagai “cinta”.
Apa kau mengerti siapa yang sedang kubicarakan ? seorang kekasih atau lainnya? Bukan, aku tidak sedang bicara tentang “siapa”, tetapi “apa”. Aku tidak sedang membicarakan seseorang, tetapi sesuatu. Mungkin kini kau akan menganggapku tidak waras, namun ya inilah kenyataanya. Aku jatuh cinta pada duduk dan menghadiri majelis-majelis ilmu dan majelis kebaikan lainnya. Aku jatuh cinta. Sejak kecil aku sudah mengenalnya, aku habiskan banyak waktu di sekolah belajar ilmu agama, tetapi aku belum benar-benar mengenal kekhususannya sehingga belum terasa ni’matnya. Namun seiring berjalannya waktu, aku semakin sering mendengar mengenai keutamaan hadir di majelis ilmu. Guru-guruku banyak mengatakan mengenai kemuliaannya, namun tetap saja aku belum mampu benar-benar merasakannya. Aku sempat dipisahkan, karena aku tidak lagi bersekolah di sekolah islamku dulu. Namun ternyata perpisahan itu, justru membuatku rindu dan penasaran dengan kata-kata guruku.
Lalu aku mulai melangkahkan kakiku untuk mencari, berusaha hadir dan mendengar. Aku membuka lebar hatiku untuk merasakan segala yang mampu dirasakan di tempat-tempat mulia itu. Dan kini, aku jatuh cinta. Kau tahu apa yang aku pikirkan dan rasakan ? duduk bersama dengan orang-orang yang bahkan ketulusan mampu terpancar jelas dari matanya, yang begitu bersemangat menggali luas ilmuNya. Betapa kecilnya aku ternyata, betapa beruntungnya aku dapat duduk diantara mereka, dan disitu pula kutemui nilai dari silaturahmi. Lalu pengajaran dari guru-guru yang begitu tulus, yang menyampaikannya berangkat dari hati maka akan sampai pula ke hati. Dan lisannya terdengar semangat untuk menyadarkan, untuk menggugah keimanan dan untuk menebar benih cinta kepada Allah dan RasulNya. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka memanglah mulia. Yang mewarisi ilmu Nabi SAW, maka ketulusannya dapat kau dengar dan kau rasa. Semakin tinggi ilmunya, semakin mereka merasa rendah dan kurang, bukan justru menganggap dirinya paling mulia. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta ? bait-bait do’a tak pernah luput untuk dilantunkan, karena katanya tempat mulia menjadi syarat lebih terkabulnya doa. Semua itu mengundang rindu, semakin mengundah rindu pada keindahan dari kekasihNya, Nabi besar Muhammad SAW. Saat ajarannya disampaikan, sunnahnya dikibarkan dan shalawat padanya dihaturkan, maka bagaimana bisa aku menolak untuk jatuh cinta? Apa aku berlebihan ? awalnya aku juga berpikir begitu bagi orang yang merasa telah mencicipi besarnya kenimatan menghadiri majelis-majelis yang demikian. Namun tak lagi setelah aku mencicipi sendiri bagian dari kelezatannya. Aku belum mampu untuk mendedikasikan hidupku untuk hal ini, karena segala keterbatasanku sebagai manusia biasa. Aku masih kosong dan tidak mengerti apa-apa. Aku baru saja benar-benar mengenal dan masih berusaha menjalaninya. Namun aku sangat percaya, bahwa terdapat tanganNya pada segala hal baik di dunia.
Aku percaya pada rencana dan kuasa Nya. Aku mencintai dan jatuh cinta hanya karena Nya. Aku sebagai manusia begitu terbatas, namun itu bukan alasan untuk berhenti mengejarnya. Banyak yang beranggapan bahwa menghari majelis-majelis ilmu hanya sebatas kewajiban yang harusnya hanya dengan mudah didapat, namun nyatanya ini adalah suatu hak yang harus kita perjuangan. Ini merupakan sesuatu yang harus kita cari dan dapatkan, karena ini adalah suatu kebutuhan. Maka hanya kepadaNya aku meminta segala bentuk kemudahan, baik yang dhohir maupun yang batin. Hanya kepadaNya aku bersyukur, karena telah diizinkan mencicipi ni’mat besar dari arah yang tak pernah kusangka. Kepada kekasihNya pembawa risalah yang mulia, semoga shalawat dan salam selalu dihaturkan kepadanya, karena melaluinya, kita dapat mengenal dan merasakan semua cinta dan kasihNya. Semoga semua kebahagiaan yang mungkin ada di dunia ini dan di akhirat kelak, dilimpahkan kepada mereka-mereka yang berdakwah di jalanNya dan juga kepada semua yang berusaha menggali ilmuNya. Semoga hati ini dipenuhi dengan cinta kepadaNya, RasulNya dan para waliNya <3

Thursday, February 2, 2017

BIARKAN AKU BICARAKAN DULU SEMUANYA, SEBELUM AKU LUPA APA-APA YANG SEBENARNYA SEORANG MURID HARAPKAN DAN APA-APA YANG TERNYATA SEORANG MURID DAPATKAN

BIARKAN AKU BICARAKAN DULU SEMUANYA, SEBELUM AKU LUPA APA-APA YANG SEBENARNYA SEORANG MURID HARAPKAN DAN APA-APA YANG TERNYATA SEORANG MURID DAPATKAN

Written By : Karimah Umar Aidid

Pertama, perkenalkan saya Karimah Umar Aidid, gadis berusia 17 tahun, yang baru saja lulus SMA. Sebentar lagi InsyaAllah saya akan jadi seorang Mahasiswi jurusan Farmasi, di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Apa yang saya tulis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil, melainkan apa yang menjadi ketertarikan saya secara khusus yang sudah sejak lama mengganggu pikiran, yang baru saat ini benar-benar memaksa saya menulis karangan sederhana ini.

Entah kepada siapa saya sebenarnya saya berbicara, ada atau tidak yang membaca itu tidak terlalu penting, belum terlalu penting lebih tepatnya. Karena pada dasarnya saya menulis karangan ini untuk menata semua yang ada dipikiran saya terlebih dahulu agar lebih jelas, rapi dan sistematis, baru saya dapat menyampaikannya kepada orang lain syukur-syukur dapat di realisasikan apa yang sekiranya memang tepat dan bisa sangat bermanfaat.

Baiklah langsung saja saya mulai, yang akan saya tulis disini dan telah menyita perhatian dan fokus saya adalah sebuah cara atau sistem belajar dalam arti sempit dan pendidikan dalam arti luasnya. Saya kadang merasa sangat jenuh dan geregetan, dengan kemonotonan sistem pendidikan di Indonesia yang menurut saya masih sangat boros dan kurang efektif. Iya, efektif adalah sesuatu yang sangat menjadi perhatian saya, sebuah kualitas  yang akan menghemat banyak kuantitas.

Begini, sebelum bicara mengenai hal yang lebih luas tentang pendidikan dengan sistemnya, saya akan sedikit bercerita mengenai hubungan saya dengan sesuatu yang namanya belajar. Kebetulan sekali saya bukan anak yang rajin atau tekun dalam belajar, lebih tepatnya dalam banyak hal saya kurang suka dengan hal-hal yang terikat apalagi membosankan yaitu salah satunya belajar. Menurut saya, belajar itu ialah ketika saya tidak mengerti lalu saya ingin mengerti kemudian saya mencari apa yang saya ingin mengerti, itu belajar yang tidak membuat saya bosan. Minat dan bakat adalah dua hal yang menurut saya sangat penting dan berpengaruh sangat besar dalam belajar saya. Untuk hal yang saya minati, saya akan lebih bersemangat dan lebih mudah untuk melakukan yang namanya belajar. Tetapi kerennya, sekolah disini memaksa saya dan teman-teman untuk mempelajari semuanya, yang kami suka maupun tidak suka, yang kami mampu maupun kami tidak mampu, intinya semuanya.

Untuk menggapai apa yang sebenarnya saya minati yaitu dapat duduk diperguruan tinggi dengan jurusan yang sudah khusus, ada serangkaian proses yang mau tidak mau harus saya lalui. Saya harus belajar disekolah dengan mata pelajaran dan materinya yang begitu banyak, melalui berbagai macam tes, dsb. Yang intinya mengharuskan saya untuk belajar. Saya ingin sukses tapi saya tidak betah belajar lama-lama dan itu kenyataannya, kenyataan pahit lebih tepatnya. Untuk itu, sejak kecil dan sejak dulu, saya ribut mengotak atik bagaimana caranya.

Jujur kadang saya heran dengan teman-teman saya yang mampu berlama-lama belajar, menghafal, merangkum, dan kegiatan membosankan lainnya. Dan itu bukan minoritas, melainkan mayoritas dari teman-teman saya memang seperti itu. Tetapi nyatanya, banyak dari mereka yang ternyata mendapatan hasil yang kurang atau bahkan tidak memuaskan. Kecerdasan memang ia berperan tetapi tidak sepenuhnya, cara belajar juga sangat memengaruhi kesuksesan dari belajar. Menurut saya, yang namanya belajar itu tidak perlu lama-lama yang penting efektif. Dan yang namanya efektif itu tidak datang begitu saja, tapi memang harus dicari dan diusahakan supaya dapat terwujud apa yang namanya efektif itu.

Saya kurang suka mencatat, karena jujur  tulisan saya kurang bagus atau lebih tepatnya sangat jelek. Saya tidak menulis semuanya, yang menurut saya tidak perlu saya tulis ya tidak saya tulis, toh ada buku pendamping atau apapun yang membuat mencatat semua hal itu tidak lagi penting. Dan dalam banyak kasus, mencatat yang sekedar mencatat tanpa ada sistem atau pemahaman, justru akan membuat semuanya menjadi jauh lebih ribet dan sulit dimengerti.

Saya bukan seorang penghafal yang bagus, jadi untuk materi-materi yang memang sudah tercipta untuk tidak dapat difahami saya sedikit kesusahan. Tetapi untungnya tidak banyak, jadi masih bisa saya paksa kadang-kadang. Tetapi untuk materi-materi yang memang bisa difahami ya akan saya fahami, bukan sekedar dihafal karena mengahafal itu susah.

Begini, saya sedikit kesusahan bagaimana membahasakannya, tapi intinya pada mind map. Iya mind map, peta pikiran. Sebagai contoh, materi sistem peredaran darah pada pelajaran biologi. Anak-anak pada umumnya ketika belajar, akan langsung memulainya, membaca dan menghafalnya dari depan urut kebelakang. Jadi semisal yang pertama di buku itu membahas sub bab mengenai komponen darah, ya mereka akan baca masuk keluar sub bab sesuai alur pada buku itu. Tetapi saya tidak karena menurut saya itu kurang efektif, itu hanya mengandalkan hafalan dan akan sangat menyulitkan pemahaman.

Kalau saya, saya akan membacanya dengan urut-urutan sebagaimana sebuah mind map. Saya harus mengerti alurnya yang jelas terlebih dahulu, baru masuk ke setiap detail-detailnya. Seperti contoh sistem peredaran darah tadi, saya tidak akan langsung membacanya urut dari depan sampai akhir bab. Tetapi saya akan lihat dulu, apa yang sebenarnya akan saya pelajari. Saya lihat dulu sub bab-sub bab nya dan keterkaitannya satu sama lain. Seperti bahwa pada bab sistem peredaran darah ada sub bab komponen darah, alat peredaran darah, dan kelainan pada sistem peredaran darah misalnya. Dan komponen darah itu sendiri di bagi 3 jenis, alat peredaran darah ada 2 macam, kelainannya juga ada dua sebab, pokoknya intinya seperti itu. Jadi ketika saya menghafal, saya tahu benar apa dan bagian dari apa yang sebenarnya sedang saya pelajari.

Jadi suatu materi pelajaran itu saya umpamakan sebuah bangunan di mana di situ ada ruangan-ruangan, yang di dalam ruangannya ada ruangan-ruangan lagi. Pelajar pada umumnya, ketika disuruh mempelajari sebuah materi, ia akan langsung masuk dari pintu depan bangunan tersebut, masuk keluar ruangan sampai mereka lupa atau bahkan tidak tahu lagi mereka ada di bagian mana dari bangunan tersebu. Ada di anak ruangan, atau ruangan utama, ruang depan sendiri, atau sudah di ujung yang pada akhirnya mereka ujug-ujug keluar dari bangunan. Mereka mungkin memerhatikan dan mengahafal setiap isi atau sudut dari ruangan-ruangan tersebut, tapi bisa jadi tertukar dengan yang lain atau lupa, karena mereka tidak memahaminya. Tetapi kalau saya, tidak demikian. Saya lebih suka meihat denahnya terlebih dahulu, bagian-bagiannya dan bagian-bagian dari bagiannya. Setelah saya fahami saya baru akan masuk, jadi ketika saya sudah masuk atau sedang berada dalam sebuah ruangan, saya tahu benar saya ada di bagian mana dari bangunan tersebut. Baru disitu saya hafalkan detail masing-masing ruangan, dan saya tidak akan kebingungan atau lebih sedikit kebingungannya.

Kalau kita melihat bangunannya dari atas maka semua akan terlihat jelas bagian-bagiannya dan tidak sulit untuk mengingatnya. Tetapi jika kita langsung masuk kita akan kebingungan kita ada dimana, bagian ruangan yang mana, pokoknya semuanya semu tidak jelas.

Hal ini, tidak hanya berlaku bagi seseorang yang mengajar. Karena bicara tentang sebuah kefektifan tidak hanya ada belajar efektif, tetapi ada juga mengajar efektif. Guru pada umumnya ada dua macam, yaitu yang malas mengajar jadi hanya mengulur-ulur waktu tanpa benar-benar mengajar dan gurunya yang pada dasarnya semngat sekali mengajar tetapi jatuhnya justru sangat membosankan dan yang semacam ini justru akan lebih tidak disenangai murid.

Oh iya saya sampai lupa, bahwa disini saya bicara sebagai seorang murid, tetapi sesekali saya juga akan berpura-pura menjadi guru. Sosok guru yang di harapkan seorang murid adalah yang mau menerangkan dan mudah difahami. Bukan yang malah buang-buang waktu apalagi mengajar membabi buta tanpa tahu arah dan tujuan. Kami sebagai murid ini sangat jarang menemui sosok guru yang kami harapkan, padahal masalah sosok guru idola,kami selalu punya selera yang seragam. Jadi jarang ada guru yang hanya di benci atau disenangi sebagian murid, biasanya ya di senangi atau dibenci hampir seluruh murid.

Jangan heran, bukan bermaksud kurang ajar atau apa. Tapi memang saya kadang heran dengan orang yang menasehati kita harus menerima guru apa adanya, apapun karakter dan cara mengajarnya. Nah, ini kecacatan sistem. Kadang ada waktu dimana saya ini benar-benar ingin mengumpulkan guru-guru dalam satu ruangan. Kemudian menumpahkan seluruh kesah kami. Mereka bekerja untuk mengajar dan memahamkan, jadi mengapa mereka anti sekali mengoreksi diri, mengoreksi cara mengajar mereka. Dan kadang justru heran kalau murid-muridnya tidak faham. Satu atau dua murid yang tidak faham dengan apa yang diterangkannya, itu kesalahan ada pada murid tersebut. Tetapi jika satu atau dua murid saja yang faham dengan apa yang diterangkannya, nah guru itu harus belajar mengajar karena dia sudah jelas gagal. Dan ironinya, banyak dari guru seperti itu tetapi tidak pernah ada pembaruan maupun evaluasi. Ini sangat-sangat menyedihkan.

Sekarang saya akan menganggap saya akan membangun sebuah sekolah sendiri yang saya mulai dari nol dengan semua hal termasuk mengajar, saya yang handle. Saya hanya akan bicarakan apa-apa saja yang perlu di rubah dari yang biasanya ada pada sekolah-sekolah.

Yang pertama, cara mengajar guru. Hampir semua materi yang dipelajari di sekolah, ada kaitannya dengan kehidupan nyata dan kehidupan sehari-har. Dan untuk tertarik kita perlu tahu itu, setidaknya yang bisa diberi tahu. Karena dengan begitu kita akan semacam “ooooalaahh..iyaaa2”. Ya, setiap materi pada semua pelajaran butuh dikenalkan terlebih dahulu, baru masuk pada inti bahasan. Kemudian setelah dikenalkan, baru dijelaskan dari atas. Kita ajak para murid liat bagunan itu dari atas terlebih dahulu sebelum mengajaknya berkeliling pada bangunan tersebut. Jadi saat berkeliling nanti, para murid kita tidak bingung. Dan lebih baiknya lagi kalau memang diperlukan untuk mencatat, kita catatkan di papan tulis dengan spidol beberapa warna untuk membedakan mana sub bab, anak sub bab, cucu sub bab dan mana isinya. Ini terlihat sederhana dan tidak bermutu, tapi ini punya efek yang sangat besar karena dengan pewarnaan juga kita turut melibatkan otak kanan yang biasanya tidak berperan dalam hafalan ataupun logika. Padahal otak kanan punya jangka waktu memori yang lebih lama, jadi dengan pewarnaan tersebut membantu lebih mudah dan lebih awetnya hafalan.

Itu tadi masalah penyampaian materi, kemudian masalah sikap dalam mengajar. Kita harus membuat para siswa tertarik. Jika sampai seisi kelas itu ramai dan tidak ada yang memerhatikan kita sebagai guru, jelas saja itu karena kita sangat membosankan dan memang tidak penting untuk diperhatikan. Untuk membuat murid diam dan fokus, jangan buat murid ketakutan dan tertekan,. Sudah bosan tertekan pula, buyar, tidak satupun materi yang kita sampaikan akan mereka fahami apalagi ingat. Tidak perlu menyeramkan, jika kita menarik dan menyenangkan secara otomatis kita akan diperhatikan dan ini yang banyaaakk guru tidak tahu. Selama ini banyak guru marah-marah karena kita ramai dan bilang kita tidak niat belajar, padahal dia itu yang sebenarnya tidak niat mengajar. Menerangkan dan nyerocos tidak jelas, tapi memaksa untuk diperhatikan.

Yang kedua, mengenai pekerjaan rumah yang akrab disapa dengan pr. Pekerjaan rumah yang banyak dan sangat berlimpah membuat saya seorang murid yang tadinya sudah berniat untuk mengerjakannya benar-benar di rumah, berubah pikiran dan akhirnya lebih memilih melihat pekerjaan teman saya yang mungkin dia memang tidak ada kerjaan lain di rumah. Pekerjaan rumah memang diperlukan untuk lebih memahami materi yang sudah guru sampaikan di sekolah dan untuk latihan atau pendalaman. Tetapi semua ada batasnya, jangan memberi pekerjaan rumah yang sampai kita bludrek dan ingin membakar semua buku pelajaran dan kadang sampai membuat kita menyesal terlahir di dunia * ini versi alay nya*. Bukan murid saja, tetapi guru juga dituntut untuk cerdas yaitu bisa mengira-ngira dan juga melibatkan perasaan. Kami bukan robot, kami butuh refreshing yang rasanya semakin kalian rengguut dari hidup kami.Yang lebih tragisnya, kebanyakan dari pr adalah tidak ada manfaatnya karena niat kalian memberi pr yang memang ingin merepotkan, maka yang kami dapat ya memang hanya repot bukan ilmu. Jadi sebagai seorang guru, kita harus perhitungkan semua detail esensinya.

Yang ketiga, ulangan harian atau test lainnya. Ini hal yang paling para murid takuti dan membuat kita ketakutan. Saya gugup kalau ulangan jika saya belum menguasai materi. Dan tidak terkuasainya materi juga bukan sepenuhnya salah saya, karena kesalahan juga sudah ada dari awal yaitu guru yang tidak tahu cara mengajar yang benar. Kalau guru sudah bisa memahamkan kami sebenarnya kita sudah tidak butuh lagi belajar sendiri di rumah, kalaupun masih butuh itu hanya sangat sedikit. Ya sudah, lanjut soal ulangan. Soal ulangan itu juga harus wajar, jangan mengajarnya apa tapi memberi tesnya soal apa,. Jangan bangga menjadi guru yang dapat membuat soal sulit sampai seisi kelas tidak ada yang bisa mengerjakan, itu kesalahan.

Yang namanya soal ulangan itu untuk menguji seberapa besar pemahaman para murid terhadap apa yang para guru sampaikan. Jadi ya harus sesuai dengan apa yang para guru sampaikan. Kemudian ini, bagian yang paling penting yang harus mendapat perhatian besar yaitu evaluasi setelah ulangan. Ini yang sangat jarang ada, padahal sangat amat penting. Kebanyakan para guru hanya memberi kita soal ulangan, mengoreksinya, kemudian memberi tahu nilainya, terkadang hanya membagikan hasilnya namun kemudian lanjut saja ke bab selanjutnya.

Padahal kami ini para murid, kadang sudah berusaha mati-matian untuk ulangan dan merasa bisa mengerjakan, tapi tahu-tahu ketika dibacakan hasilnya jauh dari harapan dan kita tidak tahu salahnya dimana *serius, sakitnya tuh disini*. Setelah ulangan, sangat diperlukan adanya evaluasi agar kita tahu mana kesalahan kita, mana yang belum kita fahami. Apa susahnya membagikan hasil ulangan, membahasnya terlebih dahulu kemudian baru menginjak ke materi selanjutnya? Waktu yang terbatas? Nah itu masalahnya. Karena semua saling berkaitan, mereka para guru yang mengajar tidak jelas itu sangat buang-buang waktu, yang akhirnya kehabisan waktu untuk bisa evaluasi setelah ulangan harian. Tetapi kalau kita sebagai seorang guru dapat mengajar dengan efektif, kita akan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat yaitu murid paham dan senang dengan kita, belajar mereka di rumah jadi tidak berat, mereka tidak akan ketakutan dengan yang namanya ulangan, ulangan akan dilaluinya dengan baik insyaAllah, dan karena itu kita juga akan punya waktu untuk membahas lagi hasil ulangan yang keuntungannya akan kita unduh di pertengahan semester atau semesteran. Kenapa bisa gitu? Ya, karena materi ulangan itu nanti kan akan diujikan lagi pada testing, kalo kita dapat nilai jelek dan tidak tahu salahnya dimana kita akan dapat nilai jelek lagi atau bisa jadi lebih jelek ketika testing. Tetapi jika sudah ada evaluasi maka kita akan tahu kesalahan dimana, kita sebagai para murid akan termotivasi dan insyaAllah nanti pada tes berikutnya kita sudah bisa lebih baik dari sebelumnya.

Yang keempat yaitu refresing. Kita sebagai murid yang jelas masih muda bahkan kecil, sangat mudah bosan dan kadang juga butuh hiburan. Kalau kita sebagai seorang guru dapat mengajar tidak bertele-tele, kita bisa adakan semacam game atau kuis, karena jujur kami para murid sangat menyukainya. Ini dapat memiliki banyak manfaat, diantaranya guru dengan murid akan lebih akrab dan materi pelajaran yang di buat game atau kuis akan lebih mudah diingat karena ini juga melibatkan otak kanan. Sebagai seorang guru kita jangan mau terkekang dengan kewajaran, kebiasaan, takut akan perubahan, negara dan agama ini butuh revolusi, butuh gebrakan, butuh sesuatu baru. Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan takutnya akan perubahan, sedikit sentuhan akan menghasilkan hal yang sangat besar dan gemilang. Ada banyak hal kecil yang kalau saja mereka para guru lakukan, akan berakibat besar pada keberhasilan mengajarnya.

Yang kelima adalah perhatian. Seorang murid itu sangat senang diperhatikan, asalkan tidak berlebihan. Dengan perhatian ini akan menimbulkan rasa percaya diri, semangat dan hal positif lainnya.  Di sekolah pada umumnya ada dua tipe guru secara garis besar, terlalu perhatian dan sangat tidak perhatian yang kedua-duanya adalah hal yang tidak baik. Lebihnya perhatian seperti menerangkan dan menuntun murid dalam segala hal yang akan membuat murid malas, malas bergerak karena biasa dimanjakan. Toh semua sudah disediakan, jadi murid tidak perlu mencari dan hanya dicekoki materi. Tetapi kurang memperhatikan juga tidak baik, guru tidak mengajar lalu menyuruh murid belajar sendiri, membuat presentasi dan sebaginya, sehingga murid bisa tersesat karena dilepaskan begitu saja. Jadi sebagai guru kita tidak boleh menuntunnya terus atau hanya melepaskannya begitu saja, tapi kita perlu membimbing dan mengarahkannya. Kita sampaikan materi yang perlu kita sampaikan dengan cara mengajar seperti diatas, kemudian sisanya kita tantang para murid untuk mecari sendiri, berusaha tapi ya tetap kita pantau, pokoknya tidak mengekang tapi tetap under control.

Itu hal-hal yang akan saya wujudkan jika saya punya sekolahan. Mengajar dengan mind maping, bersikap yang menarik bukan menyeramkan, memberi pekerjaan rumah yang bermafaat, mengadakan ulangan yang sesuai dan evaluasi yang tepat, adanya game atau refreshing, dan yang terahir perhatian yang cukup.

Saya menulis ini, karena sesuai dengan judul karangan ini, saya takut kalau saya sudah semakin dewasa saya akan lupa apa rasanya menjadi seorang murid dan saya takut saya akan bersikap sebagai pendidik yang monoton. Walaupun mungkin nanti saya tidak menjadi guru, tapi bagi anak-anak saya kelak tentu saya akan menjadi madrasah pertamanya dan hal-hal diatas juga sangat bisa direlasikan dengan mendidik seorang anak.

Wednesday, January 25, 2017

Dear Parents,


Dear Parents,

By: Karimah Umar Aidid

Tulisan ini dibuat, untuk memberikan gambaran kepada para orang tua, yang mengalami dilema dan kebingungan dalam mendidik anak, terutama terhadap pergaulan anak remaja nya, yang mana tulisan ini di tulis dari sudut pandang seorang ibu dan juga dari kacamata islam, namun artikel ini ditulis oleh seorang anak yang sudah melalui masa remajanya dan mulai memahami kekhawatiran seorang ibu. Kenapa tulisan ini dibuat? Karena ternyata, selama ini kurang tepatnya cara mendidik seorang anak sebagian besar diakibatkan karena kurangnya komunikasi antara anak pada usia remaja dan orang tua, sehingga orang tua tidak dapat mengerti benar keinginan, pemikiran dan juga perasaan anaknya. Kurangnya komunikasi ini dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, sedangkan sebenarnya inilah kunci keberhasilan dari mendidik anak, disamping juga terus memberinya arahan hidup yang tepat dan pengetahuan agama yang benar. Dan mengapa tulisan cara mendidik anak ini justru ditulis oleh seorang anak? Karena tidak ada yang lebih mengetahui benar cara menyelesaikan masalah, lebih dari orang yang menciptakan masalah itu sendiri dan tidak ada yang lebih bisa memahami seorang anak kecuali juga orang yang masih memilki pemikiran dan perasaan yang tidak jauh beda dengan mereka.

Sebagai orang tua, anak adalah segala-galanya. Apapun akan kita lakukan demi kesejahteraan dan kebahagiaan anak kita. Namun terkadang, dalam mendidik anak terutama di usia remaja, kita banyak mengalami kendala yang akhirnya benar-benar menimbulkan kekhawatiran, atau lebih parahnya lagi ketika kita tidak menyadari bahwa kita sudah salah didik. Usia remaja, adalah usia yang sangat sensitif. Kenapa bisa begitu ? karena pada usia ini, seseorang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa remaja ini, anak-anak tidak lagi mudah dikendalikan dan menuruti semua keinginan orang tua seperti sebelumnya, karena pada usia ini anak akan mulai mencari jati dirinya sendiri yang akan dibawa seterusnya menjadi sebuah karakter. Oleh karena itu, sering kali timbul berbagai macam masalah. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan anak kita menjadi pemuda ataupun pemudi yang baik. Baik akhlaknya, prestasi, agamanya dan semua-muanya. Kita ingin anak kita taat dalam beragama, mampu menjaga batas dengan lawan jenisnya, berprestasi dengan baik di sekolahnya, memiliki perilaku/akhlak yang baik, tidak bergantung pada televisi ataupun gadget terutama pada hal-hal negatifnya dan lain-lain.

Masalah yang sering dihadapi para orang tua, karena anak remaja nya diantaranya yaitu : masalah pergaulan mereka dengan lawan jenis, masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah, masalah ketergantungan / kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi, dan terkadang juga masalah mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya dalam beragama. Disini akan dibahas poin demi poin dari masalah tersebut, mengenai apa penyebabnya dan juga bagaimana kira-kira solusinya.

Masalah yang pertama yaitu masalah pergaulan dengan lawan jenis. Sebelum menanamkan hal ini kepada anak kita, sebagai orang islam kita harus mengerti benar batasan-batasan yang islam berikan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Seharusnya, sejak kecil kita sudah mendidik dan menanamkan pada mereka mengenai batasan-batasan ini dengan jelas, sehingga pada usia remaja nya sudah otomatis terbentuk prinsip dari diri anak itu sendiri. Dalam menjaga pergaulan anak terutama dengan lawan jenisnya, tidak dapat dilakukan dengan hanya memberi pengertian ataupun hanya dengan membatasi ruang geraknya saja, namun kedua hal ini harus berjalan beriringan. Hal utama yang harus ada yaitu komunikasi yang baik dan keterbukaan antara anak dan ibu, kita harus dapat membuat mereka selalu menjadikan kita tempat untuk curahan hati mereka, karena tanpa adanya ini maka akan terbentuk penghalang besar yang membuat mereka menolak semua nasehat dan arahan dari kita. Jika kita memiliki seorang putri, masalah pergaulan ini akan menjadi sangat lebih berbahaya, terutama jika usia nya sudah akil baligh. Di sekolah, jika ia bersekolah di negeri dimana laki-laki dan perempuan di campur dalam satu ruang kelas, berbeda pembatasannya dengan anak yang bersekolah di sekolah dimana laki-laki dan perempuan di pisahkan dalam ruang kelas yang berbeda.  Kita tidak bisa melarang begitu saja mereka untuk bergaul, tanpa memberi tahu dengan jelas alasannya dan tanpa memberikan pengertian. Kepada putri kita, kita harus selalu tanamkan bahwa mereka sebagai seorang muslimah itu diibarakan sebagai sebuah mutiara yang harus di jaga dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka harus menjaga batasan yang jelas pada pergaulan dengan lawan jenisnya. Penjagaan dan pembatasan ini harus seketat mungkin, yaitu dengan memberi pengertian pada mereka mengenai tidak perlunya komunikasi kepada lawan jenis kecuali benar-benar diperlukan. Karena dimulai dari hal dasar seperti ini, mereka akan terhindar dari hal-hal yang lebih besar, seperti bercanda dengan lawan jenis ataupun hingga berpacaran. Namun, apabila penanaman prinsip ini pada mereka tidak dilakukan dengan tepat, maka bisa jadi mereka justru menjadi minder dan kuper dalam pergaulannya, dan ini juga bukan hal yang baik. Karena yang kita harapkan untuk terjadi adalah mereka tetap dapat bergaul dengan luwes dengan teman-teman sesama wanita nya tetapi juga dapat menjaga batas dengan teman lawan jenisnya. Disamping itu, kita juga perlu memberi tahunya bahwa ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang wajar namun tidak perlu di ekspresikan, karena tanpa memberi pengertian kepada mereka mengenai hal ini, mereka akan menjadi malu dan takut untuk curhat kepada orang tua nya, sedangkan hal ini justru dapat memicu hilangnya kendali kita atas mereka. Kita harus dapat membuat anak kita mau dan mampu menceritakan seluruh kegiatannya, dan juga isi hatinya pada kita, karena hanya dengan begitu kita dapat mengetahui jika adanya masalah dan dapat menanganinya. Bersikap keras, galak dan terlalu tegas sama sekali bukan solusinya, karena hal ini justru dapat menghilangkan kenyamanan mereka pada kita, dan membuat mereka mencari tempat lain untuk mencurahkan isi hati dan salah-salah dengan jalan berpacaran. Pada usia remaja, baik pada anak laki-laki maupun perempuan, terkadang yang menjadikan mereka salah  bergaul dengan lawan jenis bukan hanya karena ketertarikan tetapi juga karena lingkungan. Terkadang, mereka berada pada lingkungan yang mayoritas tidak memiliki batasan seperti yang mereka miliki, maka anak kita bisa saja merasa terkucilkan dan malu akan hal itu. Oleh karena itu, kita harus terus memberi dukungan, dan hal ini bukan dilakukan sekali saja, tetapi terus menerus secara intensif. Kita juga harus mengerti benar dengan siapa anak kita bergaul, dan untuk hal ini relasi juga sangat dibutuhkan untuk dapat terus mengawasi anak kita. Pengawasan karena kekhawatiran kita itu wajar, tetapi jangan terlalu ditunjukkan kepada anak kita, karena sikap overprotektif, justru menimbulkan keinginan besar pada diri seorang anak untuk melawan atau memberontak bahkan membangkang dengan cara sembunyi-sembunyi. Jika kita sudah mampu menanamkan hal tersebut pada anak kita, maka seiring berjalannya waktu hal tersebut akan tumbuh menjadi prinsip yang telah mendarah daging pada diri mereka, yang secara otomatis akan timbul rasa risih dan perlindungan terhadap diri mereka sendiri dalam bergaul dengan lawan jenis. Lama kelamaan mereka sendiri akan merasa tidak nyaman jika harus berkomunikasi dan berurusan dengan lawan jenis, dan selalu berusaha melindungi diri mereka dengan sebaik-baiknya. Pada anak yang sekolah di sekolah islam yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan, tentu masalah komunikasi sehari-hari di dalam kelas dengan lawan jenis tidak ada. Namun masalah lain yang biasa timbul itu rasa penasaran. Rasa penasaran inilah yang menyebabkan mereka mencoba untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan lawan jenis di luar lingkungan sekolah atau kegiatan pelajaran. Dan biasanya, mereka akan merasa jauh lebih tertarik, karena ini merupakan hal baru bagi mereka. Dan masalah yang biasa timbul yaitu karena sudah adanya sosmed yang dapat menghubungkan satu orang dengan lainnya tanpa harus bertemu. Mengenai hal ini, akan dibahas lebih lanjut pada poin kecanduan televisi maupun gadget. Intinya, kita sebagai orang tua harus menaruh perhatian besar mengenai pergaulan anak kita, baik pergaulan dengan teman-temannya yang bisa saja merupakan anak nakal maupun pergaulan dengan lawan jenis yang dalam islam harus sangat dibatasi, komunikasi dan penanaman nilai-nilai harus terus dilakukan yang diikuti pengawasan dan tidak menampakkannya secara berlebihan, keterbukaan anak pada kita merupakan kunci penting yang harus dipertahankan untuk tetap memegang kendali atas mereka, kesalahan didik dalam hal ini sangat mungkin menjadi masalah yang sangat serius di masa mendatang.

Masalah kedua yang juga sering timbul yaitu masalah prestasi mereka yang tidak maksimal di sekolah. Sebagai orang tua, tentu akan menginginkan anaknya sukses dan berprestasi di sekolah, karena dengan begitu anak kita akan lebih mudah mencapai cita-cita nya dan dapat duduk di perguruan tinggi favorit sehingga kelak akan mendapat pekerjaan yang layak dan hidup sejahtera. Semua orang tua tentu juga akan bangga apabila dapat melihat anaknya berprestasi. Oleh sebab itu, para orang tua tidak bosan-bosannya mendorong anak-anak mereka agar dapat berprestasi. Namun ternyata, tidak sedikit dari mereka menempuh jalan yang salah sehingga hal tersebut gagal dan dicapai dan anak mereka justru merasa tertekan. Hal dasar yang perlu setiap ibu ketahui adalah bahwa setiap anak memilki minat, bakat dan kecerdasan yang berbeda. Ya, memang benar bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh, tetapi pernyataan ini bukan berarti dapat menjamin bahwa setiap anak dapat beprestasi di sekolahnya. Biasanya untuk dapat mendorong agar anaknya dapat berprestasi, orang tua lebih memilih untuk terus menutun mereka dan memerintahkan anak-anak mereka untuk belajar ini itu, dan juga mengikutkan mereka ke berbagai macam pelajaran tambahan baik privat maupun bimbel. Sejak duduk di sekolah dasar, seorang anak seharusnya sudah diberi tanggung jawab untuk mengurus urusan sekolahnya sendiri. Mereka harus mampu menjadikan belajar mereka merupakan suatu kebutuhan yang akan mereka jalani bukan karena keterpaksaan. Tetapi orang tua yang cenderung ambisius dan kurang mengerti anaknya, biasanya mereka takut unuk melepaskan anak mereka untuk dapat mandiri, mereka berasumsi bahwa anak mereka tidak dapat berprestasi dengan baik tanpa tuntunan seutuhnya dari mereka. Asumsi-asumsi seperti inilah yang justru membuat seorang anak tidak dapat maju dengan kaki mereka sendiri. Mungkin pada awalnya mereka akan sedikit terpeleset-terpeleset, tapi lama kelamaan mereka dapat berjalan sendiri bahkan berlari dengan kedua kaki mereka sendiri, tanpa kita harus menuntunnya secara berlebihan. Tingkat kesadaran dan rasa tanggungjawab dari tiap anak terhadap pendidikan memang tidak sama, tetapi bukan berarti tidak dapat diusahakan. Dan kenyataannya, inilah yang sering terjadi. Seorang anak begitu malas belajar, tetapi orang tua terus memaksa mereka belajar, sehingga terkadang mereka sudah mengahadapi buku selama berjam-jam, namun tidak ada hasilnya. Kemudian orang tua mereka memberkan fasilitas belajar tambahan di luar jam sekolah/les, dimana kebanyakan anak sudah sangat lelah dengan sekolah mereka, akhirnya mereka tetap tidak fokus, dan sia-sia saja pelajaran tambahan tersebut. Seperti yang kita ketahui, bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum lah efektif, dimana ada begitu banyak mata pelajaran yang diberikan bahkan sejak sekolah dasar, selain itu juga jam belajar yang juga sangat lama yaitu hingga lewat dari tengah hari. Pada dasarnya ini bukanlah hal yang baik untuk tumbuh kembang mereka, sehingga seharusnya kita meminimalisir beban mereka bukan justru menambah lagi beban mereka dengan memaksa mereka mengikuti les setelah pulang sekolah, dan masih dipaksa belajar lagi pada malam harinya. Orang tua seharusnya dapat mengenali anak mereka dengan baik, dan memahai cara belajar yang efektif bagi anak mereka. Karena belajar yang baik itu bukan dilihat dari kuantitas lamanya belajar, tetapi kualitas dari belajar tersebut. Jadi untuk dapat membuat anak kita mampu belajar dengan baik, hal yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran pada diri mereka akan pentingnya belajar, dan mencarikan cara belajar yang efektif bagi mereka. Jangan pernah memaksa seorang anak untuk belajar, karena jujur itu sangat menjengkelken bagi mereka. Tidak semua anak ekspresif dan dapat meluapkan betapa lelah dan tersiksanya mereka dengan serangkaian kegiatan sekolah tersebut, oleh karena itu pengertian dan maklum orang tua sangatlah dibutuhkan. Jangan sampai, untuk berusaha memberi masa depan yang baik bagi mereka, kita justru memporak-porandakan masa kecilnya. Bahkan kesuksesan pun tidak hanya dapat ditempuh melalui jalan itu. Dan nyatanya, jika seorang anak telah sadar mengenai pentingnya belajar dan prestasi bagi mereka, dan telah menemukan cara belajar yang efektif bagi mereka, hanya dengan mendengarkan guru menerangkan di sekolah, mereka sudah dapat menguasai lebih dari 90% materi, hal ini sama sekali tidak mustahil. Bahkan jika diperlukan lagi belajar di rumah ketika menjelang ujian, seorang anak dapat belajar kurang dari satu jam saja, namun efektif dan dapat menguasai materi dengan baik. Dengan begitu, mereka tidak perlu terbebani dengan omelan orang tua mereka setiap hari, atau terbebani karena takut dimarahi jika mendapat nilai  jelek. Pada masa remaja khususnya, kebanyakan anak akan lebih fokus pada pergaulan, fashion, dll, yang juga dapat mengurangi fokus mereka untuk belajar. Selain itu, masa remaja juga merupakan masa-masa seorang anak gemar berontak, sehingga akan lebih sulit untuk menyuruh mereka belajar. Tetapi seorang anak bukanlah robot, tidak ada yang tidak dapat diselesaikan dengan bicara dari hati ke hati, dan berusaha mengerti dan memaklumi setiap kedilemaan mereka. Pendidikan memanglah penting, tetapi kebahagian dan kenyamanan anak kita juga sama sekali tidak kalah penting. Selain itu untuk dapat menumbuhkan semangat belajar anak, kita juga memacunya dengan “reward and punishment “ atau “penghargaan dan hukuman”. Maksudnya yaitu kita dapat menumbuhkan semangat belajar anak dengan memberi mereka penghargaan atas apa yang dicapainya dan juga hukuman apabila mereka tidak mampu. Tetapi, akan jauh lebih baik jika hanya berfokus pada penghargaan saja, karena nyatanya hukuman apalagi yang berlebihan akan sangat menyulitkan anak dan membuat mereka merasa tertekan bahkan trauma. Meskipun mereka sudah menginjak usia remaja, dan tidak lagi tertarik kepada hadiah seperti anak kecil pada umumnya, namun cara ini masih sangat bisa digunakan. Kembali lagi pada seberapa jauh kita mampu mengenal anak kita, karena pada usia tersebut tentu anak remaja juga masih memiliki keinginan-keinginan. Kita dapat menjanjikan untuk memenuhinya, selama apa yang diinginkannya itu tidak bersifat negatif. Sebagai ibu yang baik, kita juga harus mulai mengarahkan anak kita sejak remaja, tentang apa yang ingin dicapai nya. Dengan begitu, strategi dalam belajar juga dapat ditempuh secara opimal. Karena nyatanya, tidak semua anak berbakat dan memiliki minat pada bidang pelajaran formal. Seorang anak dengan otak kanan yang lebih dominan, dapat memilki ketertarikan yang berbeda. Dan bukan berarti mereka tidak akan sukses, karena banyak juga anak yang memilki ketertarikan seperti menjadi seorang designer, dan dengan tidak memaksa mereka bersekolah pada sekolah umum, tetapi lebih ke sekolah yang sesuai dengan bakat dan minatnya, tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan menjadi sukses besar.

Masalah yang ketiga yaitu ketergantungan / kecanduan mereka terhadap gadget ataupun televisi. Di era globalilsasi ini dimana kemajuan teknologi dan komunikasi semakin menignkat, hampir semua kalangan dari berbagai lapisan masarakat sudah merasakan dampaknya. Dampak dari kemajuan ini, dapat berupa hal negatif maupun positif. Hal ini juga tidak hanya dirasakan oleh anak-anak muda saja, tetapi orang dewasa pun juga merasakannya. Efek dari kemajuan teknologi dan komunikasi yang dapat dengan mudah diamati yaitu semakin meningkat dan menjamurnya penggunaan gadget dan juga konsumsi siaran televisi. Tidak sedikit dari masyarakat yang sudah benar-benar mengalami kecanduan terhadap gadget maupun televisi, karena kecanggihan dan hiburan yang ditawarkan oleh kedua hal tersebut memanglah menggiurkan. Namun, tentu saja efek yang terjadi karena kecanduan tersebut berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa. Orang dewasa pada umumnya tentu lebih  bijak dalam menyaring hal-hal negatif yang diberikan oleh televisi maupun gadget. Fungsi utama dari gadget dan televisi adalah sebagai hiburan dan juga alat komunikasi, tetapi penyalahgunaannya akan menjadi hal yang mengkhawatiran khusunya bagi anak-anak.

Hampir setiap anak dari usia dini sudah dibiarkan menonton televisi. Hal ini tidak terlalu menjadi masalah jika tayangan yang dilihat dapat dikontrol, seperti kartun yang mendidik. Dan ini juga tidak mudah, karena nyatanya banyak dari kartunpun amat sangat tidak mendidik. Membiarkan mereka melihat tv sebagai selingan atau hiburan bukanlah kesalahan, namun akan menjadi salah besar jika kita tidak mengawasi. Pada anak usia remaja, mereka akan mulai menyukai tanyang-tanyangan seperti drama-drama percintaan, sinetron, dll. Banyak dari para orang tua yang mengabaikan dan membiarkan anak-anak mereka untuk mengonsumsi tayangan-tayangan tersebut baik sendiri atau bersama orang tua. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik, karena memang ada masa untuk segala sesuatu. Masa remaja adalah masa peralihan. Ketika mereka melihat suatu tayangan atau adegan, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan merasa penasaran untuk meniru, tidak masalah jika itu tanyangan yang positif, tetapi jika negatif? Ada baiknya anak pada usia remaja, tidak sering dibiarkan melihat tv, karena akhirnya akan tumbuh menjadi kebiasaan. Karena pada dasarnya tv sifatnya adalah hiburan, dan jika berlebih maka akan membuang waktu bahkan merusak seorang anak. Tidak sedikit dari anak yang menjadi malas belajar dan beribadah karena asyik menonton tv. Untuk tidak membiasakan hal ini, tentu kita sebagai orang tua juga tidak boleh terbiasa. Karena kadang kita melarang mereka untuk menonton tv dan menyuruh mereka belajar, tetapi kita justru menonton tv keras-keras hingga mengganggu mereka. Wajar jika kita ingin mencari hiburan dengan melihat tv, tetapi ada baiknya jika dilakukan ketika anak-anak sedang sekolah atau sedang tidur, agar mereka tidak ikut tertarik. Atau kita juga dapat mencarikan mereka film-film khusus yang mendidik agar mereka tidak harus mencari hiburan di tv yang memilki tanyangan berbagai macam.

Kenyataan yang lain saat ini, hampir seluruh anak usia remaja memiliki gadget mereka masing-masing bahkan sejak dari sekolah dasar. Handphone memang memiliki peran yang sangat penting jika diberikan kepada anak, karena hal tersebut akan memudahkan orang tua untuk dapat terus berkomunikasi kepada mereka dengan tujuan untuk dapat terus memantau dan menjaga keamanan mereka. Namun, fitur yang ada di hanphone-handphone yang dimiliki anak-anak zaman sekarang ini, jelas tidak hanya sebatas untuk komunikasi, tetapi juga memfasilitasi koneksi ke internet. Nah, internet inilah yang merupakan hal yang amat sensitif bagi anak remaja. Seperti yang kita ketahui, bahwa internet memilki banyak sekali manfaat, dalam hal ini khususnya bagi anak remaja. Bagi anak sekolah, internet seolah membuka jendela yang lebar bagi berbagai informasi dan juga pengetahuan yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun di samping itu, intenet juga memiliki dampak negatif yang tidak kalah banyak bagi anak remaja. Banyak anak yang kecanduan gadget, dan kita tahu pasti bahwa makna kecanduan disini tentu berkonotasi negatif, karena memang kenyataannya banyak anak remaja yang ketagihan gadget bukan untuk dimaksimalkan penggunaannya secara positif tetapi justru sebaliknya. Apa sih sebenarnya yang membuat mereka terus memegang gadgetnya? Lalu kenapa itu dapat membuat semangat belajar nya menurun dan sikapnya juga menjadi beurubah? Mengapa anak remaja sekarang tidak ingin gadget mereka di pegang kedua orang tuanya? Pertanyaan-pertanyan ini sudah seharusnya timbul di benak setiap orang tua, karena melarang saja tanpa mengetahui benar apa yang terjadi, justru dapat memperburuk keadaan.

Ketika seorang anak begitu lekat dengan gadgetnya, ini dapat di sebabkan karena beberapa hal, bisa jadi karena mereka senang chatting dengan kawannya, atau karena mereka yang eksis di media sosialnya, bisa juga karena mereka sudah kecanduan dengan situs-situs yang dilarang. Biasanya, ketika anak di usia remaja terus bermain dengan gadgetnya ini disebabkan karena mereka begitu asyik dengan aplikasi-aplikasi chatting. Hal ini berbeda antara satu anak dengan lainnya, ada yang hanya asik dengan teman-teman sesama wanita atau sesama laki-lakinya dan aja juga yang lebih asyik untuk berkomunikasi dengan lawan jenisnya, baik dengan status pacaran maupun tidak. Meskipun di dunia nyata anak-anak sudah memiliki teman dan dapat berkomunikasi, tentu sensasi yang ditawarkan berbeda dengan melalui dunia maya. Di dalam dunia maya, semua menjadi lebih fleksible, yang jauh menjadi dekat, yang sulitpun juga menjadi lebih mudah. Hal ini yang menyebabkan banyak dari anak remaja lebih banyak menghabiskan waktu di balik layar gadgetnya ketimbang berinteraksi dengan sesama secara langsung. Akhirnya, hal ini terkadang membuat mereka justru terasing dari dunia nyatanya dan tidak jarang juga kelewat batas karena memang keluasan komunikasi yang diberikan oleh adanya internet. Dan memang terdapat beberapa tipe anak yang kurang baik dalam komunikasi secara langsung, sehingga mereka sangat nyaman ketika dapat bersembunyi di balik tulisan. Selain itu, media sosial yang tidak hanya dapat digunakan sebagai wadah untuk berkomunikasi tetapi juga unjuk diri, membuat banyak anak merasa sangat senang. Meraka dapat benar-benar berekspresi dengan adanya fasilitas ini. Status, post foto dan video, moment, dll, membuat banyak anak menjadi begitu tertarik. Dan kenyataannya, orang-orang yang aktif di media sosial nya, terkadang jadi lebih dramatis, kurang realistis dan tidak sedikit yang menjadi lebih banyak bermasalah. Terutama bagi anak-anak, penggunaan media sosial ini pada umumnya belum ke arah yang positif. Karena anak pada usia remaja, belum benar-benar menemukan jati dirinya dan emosinya pun belum stabil. Jadi tidak sedikit dari mereka yang mengumbar perasaannya secara berlebihan dan tentu ini sama sekali bukan hal yang positif. Dan yang tidak kalah penting adalah fakta bahwa banyak sekali anak-anak remaja bahkan di bawah usia remaja yang kecanduan situs porno dan mayoritas orang tua tidak mengetahuinya.

Kecanduan adalah kata yang tepat digunakan ketika seseorang terus menginginkan sesuatu sedangkan sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah hal yang buruk. Pada dasarnya, yang kita butuhkan untuk mereka adalah alat komunikasi dan akses internet untuk belajar. Maka sebenarnya tidak perlu memberikan smartphone kepada anak sekolah dasar bahkan sampai sekolah menegah pertama. Jika memang mereka harus ada alat komunikasi karena memilki banyak kegiatan di luar, maka cukup memberikan handphone yang sebatas untuk alat komunikasi. Sedangkan untuk akses internet, kita dapat meminjamkan gadget kita kepada mereka, sehingga jauh lebih aman dan terawasi. Namun, jika hal ini tidak dilakukan bersamaan dengan memberikan kepada mereka pengertian yang tepat, maka bisa saja mereka justru berontak untuk meminta gadget atau lebih parahnya lagi jika diam-diam mengakses internet di belakang kita seperti ke warnet tanpa izin. Karena sangat mungkin bagi mereka akan merasa malu, dengan teman-teman mereka yang mayoritas sudah memegang gadget mereka sendiri. Disinilah peran komunikasi dari orang tua sangat diperlukan, kita harus dapat meyakinkan anak kita bahwa yang kita lakukan ini adalah keputusan yang tepat, dan juga membiarkan alasan tersebut transparan bagi anak kita. Namun, apabila anak-anak tersebut sudah terlanjur kecanduan tentu penanganannya berbeda.

Untuk anak-anak yang lebih terarik kepada chatting, kita harus mengerti benar dengan siapa dan apa yang membuatnya begitu tertarik. Apakah karena mereka berpacaran, atau karena mereka ternyata sulit bersosialisasi di dunia nyata, mungkin juga karena keasyikan mereka mendapat teman-teman bar. Kita harus mampu membuat mereka mengerti bahwa kita memiliki hak untuk dapat mengakses ke handphone mereka dan membatasi waktu mereka bermain handphone. Kita harus membuat mereka disibukkan dengan kegiatan positif yang menyenangkan sehingga pembatasan ini tidak justru menimbulkan berontak. Disamping itu, kita juga terus memberi pengertian kepada mereka tentang baik buruknya hal yang sedang mereka gemari tersebut.

Lalu bagi anak yang kecanduan untuk berkspresi di dunia maya, hal ini biasa nya lebih bagi anak-anak remaja yang merasa kesepian dan kurang bisa menyalurkan emosi mereka. Mereka merasa puas dengan berekspresi di media sosial, yang akhirnya justru buruk ketika melanggar batas privacy mereka. Disini juga karena kesalahan orang tua dan kurang dekatnya mereka dengan anak. Ketika kita tidak mampu menjadi tempat curahan hati yang baik dan nyaman bagi anak kita, tentu mereka akan mencari tempat yang jauh lebih nyaman, dan akhinya justru kita yang kewalahan. Kita harus punya waktu untuk benar-benar mendengarkan mereka, keluhan dan keinginan mereka, dan membuat mereka bahwa ada dan selalu ada kita disini yang siap mendengarkan mereka.

Dan untuk kecanduan situs negatif yang berbau pornografi, memang ternyata telah dinyatakan memilki efek candu dan dapat merusak otak bahkan lebih dari pecandu minuman keras. Selain buruk bagi otak, hal ini tentu sangat dilarang dalam islam. Para orang tua, ketahuilah hal ini..anak-anak kalian sangat membutuhkan pengawasan kalian, karena nyatanya mereka membutuhkan jaringan internet, jangan buta melarang mereka untuk sama sekali tidak menggunakan internet, tetapi kenalkan dan dampingilah di awal-awal penggunaan mereka itu. Karena nyatanya saat ini, bahkan ketika kita membuka situs pendidikan tetap saja dapat muncul laman-laman yang menawarkan tentang situs-situs yang berbau pornografi. Anak-anak remaja memilki rasa penasaran yang tinggi, mereka tidak sepenuhnya salah. Banyak dari mereka yang awalnya memang ingin belajar, tetapi kemudian timbullah rasa penasaran, dan yang bermula dari rasa penasaran ini maka jadilah kecanduan. Sebagai orang tua, kita harus dan sangat wajib memberikan gambaran kepada mereka mengenai hal-hal buruk apa saja yang mungkin ada di internet, karena meskipun kita telah berusaha mengawasi tetap ada kemungkinan mereka lepas dari pengawasan kita. Namun, jika kita telah memberi gambaran ada mereka tentu rasa penasaran itu sudah jauh lebih tertutup dan memperkecil kemungkinan buruk. Anak-anak kalian akan malu mengatakan hal ini kepada kalian, karena bisa jadi sebenarnya mereka juga terbebani akan hal ini, dimana mereka ingin berhenti tetapi belum mampu.

Jangan bersikap kasar dan berlebihan dengan anak yang kecanduan gadget, toh ini juga merupakan kesalahan orang tua. Namun, peluk dan bimbinglah mereka, karena tidak ada yang tidak akan luluh dengan kasih sayang dan perhatian. Bicaralah baik-baik, salurkan hobi positif mereka sehingga tidak banyak menganggur. Dan kunci dari semua ini, tentu pendidikan moral dan agama. Jadikan mereka anak-anak yang bukan hanya memilki agama, tetapi juga hidup dengan agama, sehingga akan sangat lebih mungkin mereka terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Dan semua ini, juga tidak akan terwujud jika kita sebagai orang tua belum mampu bahkan enggan untuk memberikan tauladan yang baik bagi anak-anak kita. Karena kita adalah cermin yang paling lebar bagi seorang anak.

Masalah terakhir yang akan dibahas yaitu mereka yang masih belum dapat bertanggung jawab menjalankan kewajibannya terutama dalam beragama. Masalah yang terakhir ini adalah yang paling penting dan sudah seharusnya menjadi perhatian setiap orang tua, karena kurang tertanamnya nilai-nilai agama pada diri seorang anak merupakan akar dari setiap masalah yang dihadapinya dalam mengarungi hidup di dunia ini. Yang dimaksud dengan penanaman nilai agama kepada seorang anak, bukan hanya memberinya pengetahuan tetapi juga membuat hal tersebut benar-benar tertanam pada diri dan menyatu dalam setiap hembusan nafasnya. Terlahir sebagai seorang muslim adalah suatu anugerah dan nikmat yang sangat besar, bahkan paling besar. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjaga nikmat tersebut dengan memaksimalkan pengamalan dalam hidup dengan islam. Semua hal baik yang akan kita tanamkan pada diri seorang anak, tentu terlebih dahulu sudah ada pada diri kita, khususnya mengenai agama ini. Mustahil anak kita akan solat lima waktu dengan teratur jika kita saja belum mampu, begitu juga dengan hal-hal keagamaan lainnya. Agama islam memiliki banyak aspek, yang semuanya harus diusahakan untuk dapat dijalankan semaksimal mungkin. Hubungan baik dengan manusia dan hubungan baik dengan Sang Pencipta adalah dua kunci utama dalam berislam. Hubungan yang baik dengan manusia akan di dapat jika seseorang memilki akhlak yang baik dan ketulusan di dalam hatinya, dan hal ini juga tidak akan di dapat dengan serta merta melainkan harus terus diusahakan, dibiasakan dan dididik hatinya. Lalu hubungan dengan Sang Pencipta tidak akan terjalin sempurna jika kita tidak mengetahui dan tidak mematuhi perintahNya dan juga tidak mengetahui dan tidak menjauhi laranganNya, dan tentu saja pengetahuan dan pengamalan ini tidaklah akan didapat kecuali dengan berguru.

Untuk mendidik anak menjadi bertanggung jawab terhadap agamanya, tidak dapat dilakukan dengan serta  merta. Memang semua beban kewajiban dalam islam, jatuh di pundak seseorang ketika mereka sudah mencapai usia akil baligh. Tetapi bukan berarti mereka dapat mempelajarinya dan langsung baru memulainya hanya ketika sudah mencapai usia tersebut. Orang tua sudah seharusya mengenalkan anak-anaknya dengan Sang Pencipta sejak usia dini, dengan cara-cara yang tentu dapat dipahamai oleh mereka. Penanaman ini tidak dapat hanya dilakukan dengan cara memaksa, karena dapat membuat seorang anak tumbuh dengan menjalankan syariat agama penuh keterpaksaan. Setiap orang tua, sudah semestinya memahami setiap anaknya dengan baik, dan penanaman nilai-nilai agama ini sangat bergantung dengan karakter masing-masing anak, sehingga para orang tua harus memiliki metode khusus untuk mendidiknya.

Ketika seorang anak remaja sudah memilki nilai-nilai dan prinsip agama yang kuat, mereka akan jauh lebih mudah terhindar dari pengaruh negatif apapun dari lingkungan luar. Sehingga para orang tua akan dapat merasa jauh lebih tenang, meskipun itu juga bukan berarti dapat membebaskan mereka dari berbagai bentuk pengawasan. Namun, jika ternyata hal ini belum ada pada seorang anak yang berusia remaja, dimana dia masih mengabaikan dan menganggap remeh kewajiban-kewajibannya dalam beragama, ini akan menjadi lebih sulit. Karena pada usia ini, seorang anak akan menjadi lebih kritis dan tidak akan menerima arahan dan nasehat orang tua semudah sebelumnya. Sehingga untuk mengarahkan mereka dibutuhkan pendekatan yang jauh lebih dari sebelumnya. Dalam hal ini, tidak ada cara yang lebih efektif dari meletakkannya pada lingkungan yang baik dan mendukung. Dan jika memang mungkin, seorang anak juga bisa dimasukkan ke asrama agama (yang jelas kualitasnya) apabila orag tua memang sudah tidak lagi merasa mampu untuk mendidik mereka dan merasa tidak cukup memilki pengetahuan agama yang baik untuk dapat membimbing mereka menjadi anak yang berkarakter baik.

Intinya, bagaimana seorang anak akan hidup dengan agamanya sangat bergantung dari bagaimana arahan dan didikan dari orang tuanya. Dimana hal ini sangat menetukan kualitas hidup dari seorang anak. Pada usia remaja, dimana seorang anak menjadi lebih rentan dan lebih mudah terkena pengaruh buruk, hal ini tidak akan mengkhawatirkan bagi anak-anak yang telah memiliki prinsip yang jelas dan kuat dalam beragama. Jadi, jangan sampai kita terlalu meributkan bagaimana pendidikan umum dan sekolah anak kita, hingga kita mengabaikan pendidikan karakter dan juga agamanya. Karena sejatinya hidup di dunia ini hanyalah sementara, sehingga tidak ada yang lebih penting selain hidup dan melakukan segala sesuatu di jalanNya dan hanya karenaNya. Jangan sampai kita sebagai orang tua, justru mempersulit anak-anak kita untuk dapat menjalankan syariat agama dengan lebih sempurna. Kita harus mengerti benar, bahwa orang tua tidak selalu benar, karena nyatanya memang sangat mungkin anak kita mengetahui apa yang belum kita ketahui dan menjalankan sesuatu lebih benar dari kita. Jangan sampai, hanya karena menjaga gengsi dan wibawa kita, kita menjadi buta dalam membedakan mana yang memang benar dan mana yang ternyata memang buruk. Karena sejatinya, kebaikan tetaplah kebaikan dan kebenaran pun tetaplah kebenaran, tidak peduli siapa yang membawanya. Anak-anak adalah amanah dari Allah SWT, dan juga dapat menjadi amal jariyah kita jika kita mampu menjadikannya anak yang soleh ataupun solehah. Tetapi seorang anak juga dapat mencelakakan kita, jika kita tidak mampu mendidiknya dengan benar, karena kelak kita pasti dimintai pertanggung jawaban. Jadi, para orang tua, jangan pernah berhenti belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan juga kita tidak boleh lupa untuk selalu mendoakan anak kita, karena tanpa bimbingan dan anugerah dariNya, mustahil segala hal baik dapat terwujud.

Terimakasih telah membaca artikel ini, sekali lagi, artikel ini ditulis bukan oleh seorang ibu, melainkan oleh seorang anak. Karena sudut pandang yang terbaik untuk dapat mengetahui bagaimana cara mendidik yang benar bukanlah dari sesama orang tua saja, tetapi dengan mengetahui keluhan seorang anak dan bagaimana sebenarnya perasaan seorang anak,sehingga  semua akan menjadi jauh lebih jelas dan lebih pasti. Semoga Allah SWT senatiasa melindungi anak-anak kita dan menjadikan mereka semua anak-anak yang sukses dunia akhirat. Dan semoga Allah SWT juga selalu menjadikan kita anak yang berbakti pada orang tua kita, dan selalu memuliakan mereka atas semua jasa dan usaha mereka yang luar biasa dalam mendidik kita. Amiiiiin :)

Thursday, January 12, 2017

MENULIS (LAGI)


Assalamu’alaikum..halo lagi, udah lama ya aku gak nulis di blog..padahal sekarang udah banyak waktu luang karena lagi libur..tapi, tiap mau nulis di blog itu rasanya males banget karena terlalu banyak memori yang untuk saat ini kadang lebih pilih untuk tak hindari..tapi lagi, makin banyak hal-hal di kepalaku yang rasanya udah makin numpuk dan pingin aku tulis, jadi ya aku putuskan untuk tidak kalah dengan kenangan, dan memberanikan diri untuk kembali menulis..hmm, btw itu tadi opening yang agak sedikit dramatis ya, tapi ga masalah, karna ternyata drama itu banyak menghibur orang (orang Indonesia khusunya), terbukti dengan banyaknya yang suka liat film-film “drama”..oke, abaikan juga yang barusan, langsung ke topik utama aja, dan ada baiknya ganti paragraf aja ya, biar lebih sistematis..

Jadi ada beberapa hal yang pengen banget aku tau, dengan cara cari tau, kira-kira dan terus nanti aku tulis..diantaranya yang bikin aku tertarik itu....yang pertama tentang pergaulan anak remaja di zaman sekarang ini..cepat atau lambat aku bakal jadi orang tua, insyaAllah, jadi menurutku hal ini, yaitu dalam mendidik anak, amat sangat penting..dan lebih spesifiknya lagi, yaitu anak pada usia remaja..di zaman sekarang ini, didikan dan pengawasan “yang efektif dan tepat” terhadap anak-anak remaja itu sangat diperlukan..why? karena banyak alasan, dan yang paling utama itu karena pada usia remaja, apa yang mereka yakini, prinsip mereka, sangat menentukan karakter seseorang yang akan terus dibawa sampai dewasa..masa remaja adalah masa pencarian dan penemuan jati diri seseorang, jadi masa-masa ini sangatlah sensitif..dan pergaulannya sangat mempengaruhi karakter yang akan terbentuk itu, dan banyak orang tua berasumsi bahwa pengekangan atau pembatasan yang berlebihan itu cara yang efektif untuk menjaga anak mereka dari pergaulan yang salah atau pemahaman yang tidak tepat..dan dilain sisi, kebanyak orang tua justru berfikir sebaliknya, yaitu bahwa seorang anak pada masa tersebut seharusnya dibiarkan bebas memilih, karena pembatasan dianggap melanggar hak mereka..dan dua asumsi inilah yang paling dominan, yang kecondongan terhadap keduanya ini juga yang menyebabkan banyaknya timbul orang-orang atau anak-anak generasi muda dengan karakter yang kurang baik..dan menurutku, pada usiaku saat ini, dimana aku bukan lagi seorang anak remaja yang masih duduk dibangku SMP ataupun SMA tetapi aku juga belum menjadi seorang ibu, adalah posisi yang paling tepat untuk membicarakan hal ini..dimana aku masih ingat benar apa yang aku rasakan dan fikirkan sebagai seorang anak remaja, namun aku juga sudah mulai mengerti dengan baik kekhawatiran orang dewasa tentang pergaulan anaknya..oleh karena itu, membahas hal ini akan sangat baik bagi aku di kemudian hari, atau syukur-syukur juga dapat bermanfaat bagi orang lain juga..itu tadi baru garis besarnya sih, jadi rencananya aku pengen bikin dua tulisan tentang ini..yaitu yang untuk dibaca pendidik dan yang dididik, baru rencana sih..

Yang kedua, yang pengen aku tulis lagi itu tentang gimana sih sikap yang harus kita ambil dalam menghadapi beragam karakter orang, gimana cara mengekspresikan dengan tepat sesuatu yang kita yakini apabila itu ternyata tidak sesuai dengan orang lain..terus tentang apa aja sih manfaatnya tau bagaimana deal dan damai dengan banyak orang, terutama dengan orang-orang disekitar..kalo ini lebih ke belajar sih, soalnya ini juga jadi ketertarikanku, tentang gimana bergaul yang efektif di masyarakat atau lingkungan kita..

Yang ketiga, aku pengen nulis sesuatu yang berbau religi..alesannya, karena aku baru-baru ini dengerin lagu nya Maher Zain yang judulnya Ummati, dan beberapa hari ini jadi rindu banget sama sosok luar biasa yang digambarkan di lagu itu, jadi aku pengen banget nulis tentang beliau.bukan tentang biografi sih, tapi lebih ke ungkapan-ungkapan dan perasaan yang sifatnya lebih subjektif..disamping itu, tentang yang berbau religi ini juga aku pengen banget nulis tentang pengaruh modernisasi dan inteletktualitas terhadap keyakinan dalam beragama..yaitu tentang gimana pengaruh itu terhadap mayoritas orang, dan tentunya itu dari sudut pandangku juga, rencanya akan aku kasi pendapat..

Mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan bahas tentang itu dulu..terutama poin satu dan tiga, aku pengen lebih fokus kesitu..dan rasanya udah gak sabar banget pengen nulis itu wkwkw dan rasanya pengen ada trialnya sih, terutama yang di poin satu, tapi nanti coba tak atur dulu mau gimana..ah, i miss it so much..rindu banget sama sensasi dari nulis yang berusaha tetep pada jalur, menghubungkan satu poin dan poin lainnya, trus bercanda dan nulis gak jelas di tengah-tengah..kadang suka heran juga sih, kenapa aku bisa suka nulis, walaupun nyatanya ini lebih bisa disebut hobi daripada bakat, karena fokusnya emang lebih ke kepuasanku dalam berekspresi daripada ke kualitasnya untuk dibaca orang umum, maka dari itu publisitas juga aku batesi karena rasanya ini belum terlalu wort to be read wkwkw agak aneh sih, padahalkan sebenernya aku hidup dengan hal-hal yang terlalu pasti, yaitu berkecimpung dengan dunia farmasi yang merupakan ilmu pasti, jadi hobi nulis itu aslinya kurang umum..mungkin ini lebih ke bentuk pelampiasan dan pengalihan dari kejenuhan terhadap kemonotonan yang harus sehari-hari tak hadapi..but, apapun itu, selama yang tak lakuin ini bukan penyaluran rasa dengan cara yang negatif, ya gak masalah dong yaaa..yaudah kalo gitu, silahkan tunggu tulisan-tulisanku yang selanjutnya..mohon doanya semoga sukses dan bisa bermanfaat untuk banyak orang khususnya aku sendirii hehehehe love you