BIARKAN AKU BICARAKAN DULU SEMUANYA, SEBELUM AKU LUPA APA-APA YANG SEBENARNYA SEORANG MURID HARAPKAN DAN APA-APA YANG TERNYATA SEORANG MURID DAPATKAN
Written By : Karimah Umar Aidid
Pertama, perkenalkan saya Karimah Umar Aidid, gadis berusia 17 tahun, yang baru saja lulus SMA. Sebentar lagi InsyaAllah saya akan jadi seorang Mahasiswi jurusan Farmasi, di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Apa yang saya tulis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil, melainkan apa yang menjadi ketertarikan saya secara khusus yang sudah sejak lama mengganggu pikiran, yang baru saat ini benar-benar memaksa saya menulis karangan sederhana ini.
Entah kepada siapa saya sebenarnya saya berbicara, ada atau tidak yang membaca itu tidak terlalu penting, belum terlalu penting lebih tepatnya. Karena pada dasarnya saya menulis karangan ini untuk menata semua yang ada dipikiran saya terlebih dahulu agar lebih jelas, rapi dan sistematis, baru saya dapat menyampaikannya kepada orang lain syukur-syukur dapat di realisasikan apa yang sekiranya memang tepat dan bisa sangat bermanfaat.
Baiklah langsung saja saya mulai, yang akan saya tulis disini dan telah menyita perhatian dan fokus saya adalah sebuah cara atau sistem belajar dalam arti sempit dan pendidikan dalam arti luasnya. Saya kadang merasa sangat jenuh dan geregetan, dengan kemonotonan sistem pendidikan di Indonesia yang menurut saya masih sangat boros dan kurang efektif. Iya, efektif adalah sesuatu yang sangat menjadi perhatian saya, sebuah kualitas yang akan menghemat banyak kuantitas.
Begini, sebelum bicara mengenai hal yang lebih luas tentang pendidikan dengan sistemnya, saya akan sedikit bercerita mengenai hubungan saya dengan sesuatu yang namanya belajar. Kebetulan sekali saya bukan anak yang rajin atau tekun dalam belajar, lebih tepatnya dalam banyak hal saya kurang suka dengan hal-hal yang terikat apalagi membosankan yaitu salah satunya belajar. Menurut saya, belajar itu ialah ketika saya tidak mengerti lalu saya ingin mengerti kemudian saya mencari apa yang saya ingin mengerti, itu belajar yang tidak membuat saya bosan. Minat dan bakat adalah dua hal yang menurut saya sangat penting dan berpengaruh sangat besar dalam belajar saya. Untuk hal yang saya minati, saya akan lebih bersemangat dan lebih mudah untuk melakukan yang namanya belajar. Tetapi kerennya, sekolah disini memaksa saya dan teman-teman untuk mempelajari semuanya, yang kami suka maupun tidak suka, yang kami mampu maupun kami tidak mampu, intinya semuanya.
Untuk menggapai apa yang sebenarnya saya minati yaitu dapat duduk diperguruan tinggi dengan jurusan yang sudah khusus, ada serangkaian proses yang mau tidak mau harus saya lalui. Saya harus belajar disekolah dengan mata pelajaran dan materinya yang begitu banyak, melalui berbagai macam tes, dsb. Yang intinya mengharuskan saya untuk belajar. Saya ingin sukses tapi saya tidak betah belajar lama-lama dan itu kenyataannya, kenyataan pahit lebih tepatnya. Untuk itu, sejak kecil dan sejak dulu, saya ribut mengotak atik bagaimana caranya.
Jujur kadang saya heran dengan teman-teman saya yang mampu berlama-lama belajar, menghafal, merangkum, dan kegiatan membosankan lainnya. Dan itu bukan minoritas, melainkan mayoritas dari teman-teman saya memang seperti itu. Tetapi nyatanya, banyak dari mereka yang ternyata mendapatan hasil yang kurang atau bahkan tidak memuaskan. Kecerdasan memang ia berperan tetapi tidak sepenuhnya, cara belajar juga sangat memengaruhi kesuksesan dari belajar. Menurut saya, yang namanya belajar itu tidak perlu lama-lama yang penting efektif. Dan yang namanya efektif itu tidak datang begitu saja, tapi memang harus dicari dan diusahakan supaya dapat terwujud apa yang namanya efektif itu.
Saya kurang suka mencatat, karena jujur tulisan saya kurang bagus atau lebih tepatnya sangat jelek. Saya tidak menulis semuanya, yang menurut saya tidak perlu saya tulis ya tidak saya tulis, toh ada buku pendamping atau apapun yang membuat mencatat semua hal itu tidak lagi penting. Dan dalam banyak kasus, mencatat yang sekedar mencatat tanpa ada sistem atau pemahaman, justru akan membuat semuanya menjadi jauh lebih ribet dan sulit dimengerti.
Saya bukan seorang penghafal yang bagus, jadi untuk materi-materi yang memang sudah tercipta untuk tidak dapat difahami saya sedikit kesusahan. Tetapi untungnya tidak banyak, jadi masih bisa saya paksa kadang-kadang. Tetapi untuk materi-materi yang memang bisa difahami ya akan saya fahami, bukan sekedar dihafal karena mengahafal itu susah.
Begini, saya sedikit kesusahan bagaimana membahasakannya, tapi intinya pada mind map. Iya mind map, peta pikiran. Sebagai contoh, materi sistem peredaran darah pada pelajaran biologi. Anak-anak pada umumnya ketika belajar, akan langsung memulainya, membaca dan menghafalnya dari depan urut kebelakang. Jadi semisal yang pertama di buku itu membahas sub bab mengenai komponen darah, ya mereka akan baca masuk keluar sub bab sesuai alur pada buku itu. Tetapi saya tidak karena menurut saya itu kurang efektif, itu hanya mengandalkan hafalan dan akan sangat menyulitkan pemahaman.
Kalau saya, saya akan membacanya dengan urut-urutan sebagaimana sebuah mind map. Saya harus mengerti alurnya yang jelas terlebih dahulu, baru masuk ke setiap detail-detailnya. Seperti contoh sistem peredaran darah tadi, saya tidak akan langsung membacanya urut dari depan sampai akhir bab. Tetapi saya akan lihat dulu, apa yang sebenarnya akan saya pelajari. Saya lihat dulu sub bab-sub bab nya dan keterkaitannya satu sama lain. Seperti bahwa pada bab sistem peredaran darah ada sub bab komponen darah, alat peredaran darah, dan kelainan pada sistem peredaran darah misalnya. Dan komponen darah itu sendiri di bagi 3 jenis, alat peredaran darah ada 2 macam, kelainannya juga ada dua sebab, pokoknya intinya seperti itu. Jadi ketika saya menghafal, saya tahu benar apa dan bagian dari apa yang sebenarnya sedang saya pelajari.
Jadi suatu materi pelajaran itu saya umpamakan sebuah bangunan di mana di situ ada ruangan-ruangan, yang di dalam ruangannya ada ruangan-ruangan lagi. Pelajar pada umumnya, ketika disuruh mempelajari sebuah materi, ia akan langsung masuk dari pintu depan bangunan tersebut, masuk keluar ruangan sampai mereka lupa atau bahkan tidak tahu lagi mereka ada di bagian mana dari bangunan tersebu. Ada di anak ruangan, atau ruangan utama, ruang depan sendiri, atau sudah di ujung yang pada akhirnya mereka ujug-ujug keluar dari bangunan. Mereka mungkin memerhatikan dan mengahafal setiap isi atau sudut dari ruangan-ruangan tersebut, tapi bisa jadi tertukar dengan yang lain atau lupa, karena mereka tidak memahaminya. Tetapi kalau saya, tidak demikian. Saya lebih suka meihat denahnya terlebih dahulu, bagian-bagiannya dan bagian-bagian dari bagiannya. Setelah saya fahami saya baru akan masuk, jadi ketika saya sudah masuk atau sedang berada dalam sebuah ruangan, saya tahu benar saya ada di bagian mana dari bangunan tersebut. Baru disitu saya hafalkan detail masing-masing ruangan, dan saya tidak akan kebingungan atau lebih sedikit kebingungannya.
Kalau kita melihat bangunannya dari atas maka semua akan terlihat jelas bagian-bagiannya dan tidak sulit untuk mengingatnya. Tetapi jika kita langsung masuk kita akan kebingungan kita ada dimana, bagian ruangan yang mana, pokoknya semuanya semu tidak jelas.
Hal ini, tidak hanya berlaku bagi seseorang yang mengajar. Karena bicara tentang sebuah kefektifan tidak hanya ada belajar efektif, tetapi ada juga mengajar efektif. Guru pada umumnya ada dua macam, yaitu yang malas mengajar jadi hanya mengulur-ulur waktu tanpa benar-benar mengajar dan gurunya yang pada dasarnya semngat sekali mengajar tetapi jatuhnya justru sangat membosankan dan yang semacam ini justru akan lebih tidak disenangai murid.
Oh iya saya sampai lupa, bahwa disini saya bicara sebagai seorang murid, tetapi sesekali saya juga akan berpura-pura menjadi guru. Sosok guru yang di harapkan seorang murid adalah yang mau menerangkan dan mudah difahami. Bukan yang malah buang-buang waktu apalagi mengajar membabi buta tanpa tahu arah dan tujuan. Kami sebagai murid ini sangat jarang menemui sosok guru yang kami harapkan, padahal masalah sosok guru idola,kami selalu punya selera yang seragam. Jadi jarang ada guru yang hanya di benci atau disenangi sebagian murid, biasanya ya di senangi atau dibenci hampir seluruh murid.
Jangan heran, bukan bermaksud kurang ajar atau apa. Tapi memang saya kadang heran dengan orang yang menasehati kita harus menerima guru apa adanya, apapun karakter dan cara mengajarnya. Nah, ini kecacatan sistem. Kadang ada waktu dimana saya ini benar-benar ingin mengumpulkan guru-guru dalam satu ruangan. Kemudian menumpahkan seluruh kesah kami. Mereka bekerja untuk mengajar dan memahamkan, jadi mengapa mereka anti sekali mengoreksi diri, mengoreksi cara mengajar mereka. Dan kadang justru heran kalau murid-muridnya tidak faham. Satu atau dua murid yang tidak faham dengan apa yang diterangkannya, itu kesalahan ada pada murid tersebut. Tetapi jika satu atau dua murid saja yang faham dengan apa yang diterangkannya, nah guru itu harus belajar mengajar karena dia sudah jelas gagal. Dan ironinya, banyak dari guru seperti itu tetapi tidak pernah ada pembaruan maupun evaluasi. Ini sangat-sangat menyedihkan.
Sekarang saya akan menganggap saya akan membangun sebuah sekolah sendiri yang saya mulai dari nol dengan semua hal termasuk mengajar, saya yang handle. Saya hanya akan bicarakan apa-apa saja yang perlu di rubah dari yang biasanya ada pada sekolah-sekolah.
Yang pertama, cara mengajar guru. Hampir semua materi yang dipelajari di sekolah, ada kaitannya dengan kehidupan nyata dan kehidupan sehari-har. Dan untuk tertarik kita perlu tahu itu, setidaknya yang bisa diberi tahu. Karena dengan begitu kita akan semacam “ooooalaahh..iyaaa2”. Ya, setiap materi pada semua pelajaran butuh dikenalkan terlebih dahulu, baru masuk pada inti bahasan. Kemudian setelah dikenalkan, baru dijelaskan dari atas. Kita ajak para murid liat bagunan itu dari atas terlebih dahulu sebelum mengajaknya berkeliling pada bangunan tersebut. Jadi saat berkeliling nanti, para murid kita tidak bingung. Dan lebih baiknya lagi kalau memang diperlukan untuk mencatat, kita catatkan di papan tulis dengan spidol beberapa warna untuk membedakan mana sub bab, anak sub bab, cucu sub bab dan mana isinya. Ini terlihat sederhana dan tidak bermutu, tapi ini punya efek yang sangat besar karena dengan pewarnaan juga kita turut melibatkan otak kanan yang biasanya tidak berperan dalam hafalan ataupun logika. Padahal otak kanan punya jangka waktu memori yang lebih lama, jadi dengan pewarnaan tersebut membantu lebih mudah dan lebih awetnya hafalan.
Itu tadi masalah penyampaian materi, kemudian masalah sikap dalam mengajar. Kita harus membuat para siswa tertarik. Jika sampai seisi kelas itu ramai dan tidak ada yang memerhatikan kita sebagai guru, jelas saja itu karena kita sangat membosankan dan memang tidak penting untuk diperhatikan. Untuk membuat murid diam dan fokus, jangan buat murid ketakutan dan tertekan,. Sudah bosan tertekan pula, buyar, tidak satupun materi yang kita sampaikan akan mereka fahami apalagi ingat. Tidak perlu menyeramkan, jika kita menarik dan menyenangkan secara otomatis kita akan diperhatikan dan ini yang banyaaakk guru tidak tahu. Selama ini banyak guru marah-marah karena kita ramai dan bilang kita tidak niat belajar, padahal dia itu yang sebenarnya tidak niat mengajar. Menerangkan dan nyerocos tidak jelas, tapi memaksa untuk diperhatikan.
Yang kedua, mengenai pekerjaan rumah yang akrab disapa dengan pr. Pekerjaan rumah yang banyak dan sangat berlimpah membuat saya seorang murid yang tadinya sudah berniat untuk mengerjakannya benar-benar di rumah, berubah pikiran dan akhirnya lebih memilih melihat pekerjaan teman saya yang mungkin dia memang tidak ada kerjaan lain di rumah. Pekerjaan rumah memang diperlukan untuk lebih memahami materi yang sudah guru sampaikan di sekolah dan untuk latihan atau pendalaman. Tetapi semua ada batasnya, jangan memberi pekerjaan rumah yang sampai kita bludrek dan ingin membakar semua buku pelajaran dan kadang sampai membuat kita menyesal terlahir di dunia * ini versi alay nya*. Bukan murid saja, tetapi guru juga dituntut untuk cerdas yaitu bisa mengira-ngira dan juga melibatkan perasaan. Kami bukan robot, kami butuh refreshing yang rasanya semakin kalian rengguut dari hidup kami.Yang lebih tragisnya, kebanyakan dari pr adalah tidak ada manfaatnya karena niat kalian memberi pr yang memang ingin merepotkan, maka yang kami dapat ya memang hanya repot bukan ilmu. Jadi sebagai seorang guru, kita harus perhitungkan semua detail esensinya.
Yang ketiga, ulangan harian atau test lainnya. Ini hal yang paling para murid takuti dan membuat kita ketakutan. Saya gugup kalau ulangan jika saya belum menguasai materi. Dan tidak terkuasainya materi juga bukan sepenuhnya salah saya, karena kesalahan juga sudah ada dari awal yaitu guru yang tidak tahu cara mengajar yang benar. Kalau guru sudah bisa memahamkan kami sebenarnya kita sudah tidak butuh lagi belajar sendiri di rumah, kalaupun masih butuh itu hanya sangat sedikit. Ya sudah, lanjut soal ulangan. Soal ulangan itu juga harus wajar, jangan mengajarnya apa tapi memberi tesnya soal apa,. Jangan bangga menjadi guru yang dapat membuat soal sulit sampai seisi kelas tidak ada yang bisa mengerjakan, itu kesalahan.
Yang namanya soal ulangan itu untuk menguji seberapa besar pemahaman para murid terhadap apa yang para guru sampaikan. Jadi ya harus sesuai dengan apa yang para guru sampaikan. Kemudian ini, bagian yang paling penting yang harus mendapat perhatian besar yaitu evaluasi setelah ulangan. Ini yang sangat jarang ada, padahal sangat amat penting. Kebanyakan para guru hanya memberi kita soal ulangan, mengoreksinya, kemudian memberi tahu nilainya, terkadang hanya membagikan hasilnya namun kemudian lanjut saja ke bab selanjutnya.
Padahal kami ini para murid, kadang sudah berusaha mati-matian untuk ulangan dan merasa bisa mengerjakan, tapi tahu-tahu ketika dibacakan hasilnya jauh dari harapan dan kita tidak tahu salahnya dimana *serius, sakitnya tuh disini*. Setelah ulangan, sangat diperlukan adanya evaluasi agar kita tahu mana kesalahan kita, mana yang belum kita fahami. Apa susahnya membagikan hasil ulangan, membahasnya terlebih dahulu kemudian baru menginjak ke materi selanjutnya? Waktu yang terbatas? Nah itu masalahnya. Karena semua saling berkaitan, mereka para guru yang mengajar tidak jelas itu sangat buang-buang waktu, yang akhirnya kehabisan waktu untuk bisa evaluasi setelah ulangan harian. Tetapi kalau kita sebagai seorang guru dapat mengajar dengan efektif, kita akan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat yaitu murid paham dan senang dengan kita, belajar mereka di rumah jadi tidak berat, mereka tidak akan ketakutan dengan yang namanya ulangan, ulangan akan dilaluinya dengan baik insyaAllah, dan karena itu kita juga akan punya waktu untuk membahas lagi hasil ulangan yang keuntungannya akan kita unduh di pertengahan semester atau semesteran. Kenapa bisa gitu? Ya, karena materi ulangan itu nanti kan akan diujikan lagi pada testing, kalo kita dapat nilai jelek dan tidak tahu salahnya dimana kita akan dapat nilai jelek lagi atau bisa jadi lebih jelek ketika testing. Tetapi jika sudah ada evaluasi maka kita akan tahu kesalahan dimana, kita sebagai para murid akan termotivasi dan insyaAllah nanti pada tes berikutnya kita sudah bisa lebih baik dari sebelumnya.
Yang keempat yaitu refresing. Kita sebagai murid yang jelas masih muda bahkan kecil, sangat mudah bosan dan kadang juga butuh hiburan. Kalau kita sebagai seorang guru dapat mengajar tidak bertele-tele, kita bisa adakan semacam game atau kuis, karena jujur kami para murid sangat menyukainya. Ini dapat memiliki banyak manfaat, diantaranya guru dengan murid akan lebih akrab dan materi pelajaran yang di buat game atau kuis akan lebih mudah diingat karena ini juga melibatkan otak kanan. Sebagai seorang guru kita jangan mau terkekang dengan kewajaran, kebiasaan, takut akan perubahan, negara dan agama ini butuh revolusi, butuh gebrakan, butuh sesuatu baru. Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan takutnya akan perubahan, sedikit sentuhan akan menghasilkan hal yang sangat besar dan gemilang. Ada banyak hal kecil yang kalau saja mereka para guru lakukan, akan berakibat besar pada keberhasilan mengajarnya.
Yang kelima adalah perhatian. Seorang murid itu sangat senang diperhatikan, asalkan tidak berlebihan. Dengan perhatian ini akan menimbulkan rasa percaya diri, semangat dan hal positif lainnya. Di sekolah pada umumnya ada dua tipe guru secara garis besar, terlalu perhatian dan sangat tidak perhatian yang kedua-duanya adalah hal yang tidak baik. Lebihnya perhatian seperti menerangkan dan menuntun murid dalam segala hal yang akan membuat murid malas, malas bergerak karena biasa dimanjakan. Toh semua sudah disediakan, jadi murid tidak perlu mencari dan hanya dicekoki materi. Tetapi kurang memperhatikan juga tidak baik, guru tidak mengajar lalu menyuruh murid belajar sendiri, membuat presentasi dan sebaginya, sehingga murid bisa tersesat karena dilepaskan begitu saja. Jadi sebagai guru kita tidak boleh menuntunnya terus atau hanya melepaskannya begitu saja, tapi kita perlu membimbing dan mengarahkannya. Kita sampaikan materi yang perlu kita sampaikan dengan cara mengajar seperti diatas, kemudian sisanya kita tantang para murid untuk mecari sendiri, berusaha tapi ya tetap kita pantau, pokoknya tidak mengekang tapi tetap under control.
Itu hal-hal yang akan saya wujudkan jika saya punya sekolahan. Mengajar dengan mind maping, bersikap yang menarik bukan menyeramkan, memberi pekerjaan rumah yang bermafaat, mengadakan ulangan yang sesuai dan evaluasi yang tepat, adanya game atau refreshing, dan yang terahir perhatian yang cukup.
Saya menulis ini, karena sesuai dengan judul karangan ini, saya takut kalau saya sudah semakin dewasa saya akan lupa apa rasanya menjadi seorang murid dan saya takut saya akan bersikap sebagai pendidik yang monoton. Walaupun mungkin nanti saya tidak menjadi guru, tapi bagi anak-anak saya kelak tentu saya akan menjadi madrasah pertamanya dan hal-hal diatas juga sangat bisa direlasikan dengan mendidik seorang anak.
No comments:
Post a Comment