Sunday, July 2, 2017

Syifa' πŸ’œ

Suatu ketika nenekku dari ayah (yang biasa aku panggil umik), pernah bertanya kepadaku saat kami sedang duduk berdua, “Karimah tau bedanya dawa’ (obat) dan syifa’ (penyembuh) ?”. Waktu itu aku yang masih duduk di bangku SMP berpikir keras untuk dapat mengetahui beda dari kedua hal tersebut. Setelah berpikir agak lama, aku menjawab “tidak tau, kayaknya sama aja, sama-sama buat ngilangin penyakit”. Kemudian umikku menjelaskan “obat itu digunakan dalam usaha untuk menyembukan, namun masih belum tentu sembuh..tetapi yang namanya penyembuh, pasti dapat menyembuhkan..oleh karena itu, dikatakan bahwa AlQur’an itu adalah “penyembuh bagi penyakit hati” bukan ‘’obat bagi penyakit hati”...karena dengan AlQu’an, bukan hanya mungkin tetapi sudah pasti dapat menyembuhkan penyakit hati”. Aku selalu mengingat jawaban itu, karena menurutku itu adalah sebuah analogi yang keren B)
Lalu apa sih yang  sebenernya mau aku bahas dipostinganku yang kali ini ? sebenernya, aku mau sedikit curhat, tentang usaha menyembuhkan. Ada waktu-waktu, atau mugkin banyak waktu, dimana hal-hal kecil yang berbau dunia, hal-hal sepele yang berbau dunia bahkan hal-hal tidak masuk akal yang berbau dunia, dapat melukai hati kita dari mulai sedikit hingga sangat parah. Lalu usaha penyembuhannya pun tentu juga berbeda-beda, dan tidak jarang hingga berlarut-larut karena mengalami banyak kegagalan. Dan beberapa waktu terakhir ini, aku mencari ketenangan hatiku di banyak tempat, mencari jawaban dari banyak keraguan dan kegelisahanku di banyak hal. Ketika perasaanku tidak kunjung membaik dengan adanya “ice cream”, maka kuanggap hal itu bukan lagi masalah yang sederhana.
Aku seseorang yang hobi tertawa, yang kata orang-orang itu karena selera humorku rendah. Aku juga bukan orang yang ekspresif *sudah sering sekali kukatakan bagian ini*, karena ketika aku sedih, sangat jarang yang dapat melihatnya dari raut wajahku atau gerak gerikku, yang nyatanya tetep aja *absurd* walaupun katanya lagi galau berat. Makanya kadang aku ngerasa harus bikin pengumuman kalo lagi sedih, biar orang-orang tau  dan gak bikin masalah sama aku. Tetapi beberapa waktu ini, aku bener-bener hzz banget dan aku penasaran apa sebenernya yang bisa bikin aku ngerasa baikan dan tenanglagi.
AlQur’an adalah penyembuh bagi penyakit hati. Aku duduk, setiap hari aku duduk dan membaca AlQur’anku, tetapi bahkan untuk menghadirkan hati dalam membacanya saja, seringkali aku gagal karena kondisi hatiku yang sedang tidak fit. Lalu bagaimana aku bisa sembuh, saat aku tidak benar-benar membaca dalam membacanya? Mungkin aku merasa lebih baik, tetapi aku masih belum merasa baikan seutuhnya, masih tetap ada yang terasa mengganjal. Tetapi Allahku tercinta Yang Maha Tau, Ia selalu ada dan menyaksikan setiap hambaNya, dan tidak pernah meninggalkan hambaNya sendirian kehilangan arah dan kesepian.
Saat itu beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan, aku merasa begitu sedih dan lelah karena hal-hal dunia yang kecil, yang hingga awal-awal masuk Ramadhan aku juga belum merasa baikan. Aku tidak duduk diam, aku berusaha untuk menenangkan diriku dari tangisku yang tak kunjung reda *eaaaaa*. Kemudian aku coba lagi, membaca buku-buku ku, berbagai buku tentang agama islam, dari mulai siroh Nabi SAW, Fiqh, dll, namun tetap aku belum merasa sembuh seutuhnya. Hingga akhirnya, tak lama setelah masuk Ramadhan, aku mulai bertemu dan menyadari, apa sebenarnya yang paling ampuh untuk menyembuhkan lukaku karena dunia. Kau tau apa itu ? duduk dan berguru. Ada seseorang yang sempat ada di hidupku untuk beberapa saat *semoga rahmat Allah selalu ada bersamanya dan seluruh orang yang mencintai dan dicintai*, ia pernah berkata kepadaku ketika aku bercerita bahwa aku gemar membaca buku, katanya “Terhadap sesuatu hal/bab yang sama, terdapat perbedaan yang sangat jauh yang kau dapat antara membacanya dari buku dan mendengarnya langsung dari para alim ulama’ (para guru), bahkan terhadap suatu perkara yang haq, yang kau baca hanya dari buku, itu tetap mungkin dapat menyesatkanmu. Sedangkan sebaliknya dengan duduk bersama para alim ulama’, kau bisa tetap mendapat banyak hal, bahkan sebelum mereka menyampaikan sepatah kata pun”. Saat dia mengatakan hal itu, aku merasa tidak percaya dulu, bahkan sedikit tersinggung. Saat aku mengatakan aku suka membaca buku agama, bukannya dia mengatakan itu hal yang baik dan memuji, tetapi justru mengatakan hal yang menurutku tidak masuk akal.
Tetapi saat ini, aku mempercayai hal itu 100%, karena aku telah membuktikannya sendiri. Aku merasa terluka karena dunia, dan katanya yang dapat menyembuhkan adalah ingat kepada akhirat. Namun sudah aku gelar sajadahku, aku buka AlQur’an ku dan aku pelajari buku-buku agamaku, dan tak kunjung membaik keadaanku dan belum terjawab pula banyak dari pertanyaanku, karenanya semua itu bagiku adalah obat namun beum kutemukan penyembuhnya. Hingga akhirnya aku duduk bersama teman-temanku, dan menimba ilmu dari guru kami. Semuanya begitu berbeda, duduk bersama dan mendengar ilmu agama dari ahlinya memang jauh berbeda rasanya. Yang dibacanya adalah siroh Nabi SAW yang sama dengan yang kubaca di bukuku, tetapi darinya aku baru merasa benar-benar runtuh karena kerinduan kepada Nabiku Sang Kekasih. Yang dibacanya adalah ayat AlQur’an yang sama dengan yang ada di AlQur’anku, namun melalui penjelasan darinya, aku baru merasa paham dan mengerti makna syifa’ yang disematkan terhadap AlQur’an. Bagiku saat itu, inilah syifa’.
Berangsur-angsur aku merasa semakin baikan dan aku mendapatkan begitu banyak jawaban bahkan tanpa mengacungkan tangan. Aku mencari ketenangan hatiku di banyak tempat, dan di majelis kebaikanlah benar-benar terdapat banyak keberkahan dan rahmat, serta melalui lisan para guru-guru kami dengan keilmuannya yang bersambung kepada Rasul SAW lah, baru aku menemukan ketenangan. Hati adalah tempat / wadah bagi segala macam bentuk rasa. Maka ketika hati sedang tidak baik, akan berkurang bahkan hilang rasa dari berbagai macam hal. Dari shalat, mengaji, berdzikir, semua terasa kosong dengan hati yang kering dari ilmu dan peringatan. Namun setelah hati tersebut mulai baikan, maka rasa dari segala sesuatu tersebut juga berangsur-angsur mulai muncul kembali. Karena sungguh merupakan suatu musibah yang sangat besar, ketika kita mampu beribadah namun kehilangan rasa nikmat darinya.
Maka sesungguhnya Allah kita begitu dekat, sangat dekat dan selalu ada. Ketika kita berusaha mencari dan menghampiriNya, maka tidak lain Ia akan memeluk kita dengan erat hingga kita kembali merasa tenang. Dan semoga rahmat Allah selalu bersama mereka-mereka para guru yang keilmuannya bersambung dengan Sang Kekasih, Nabi Muhammad SAW. Yang mereka dengan akhlak dan adabnya, kita melihat cerminan pribadi Nabi SAW. Yang memandang wajah mereka, dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Yang melalui lisan mereka, kita yang sudah mulai lengah kembali digiring ke toriqoh (jalan) yang mulia. Semoga Allah memanjangkan usia guru-guruku yang darinya aku menemukan ketenangan hatiku, semoga Allah selalu menjaga dan memudahkan dakwah mereka, mengampuni dosa-dosanya dan selalu menjaga mereka dalam lindunganNya. Dan semoga orang-orang awam seperti aku, yang masih sangat kering dari ilmu, masih selalu diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk dapat duduk bersama mereka di dunia, dan kelak juga di akhirat kelak, amiiiiin.

- Karimah Umar Aidid -


No comments:

Post a Comment