Kisah nyataku tak jauh-jauh dari kehidupan kuliah yang berlatarkan kampus atau halte bis dan Bis Batik Solo Trans yang akrab disebut Bis BST. Kali ini aku akan bercerita mengenai salah satu pengalaman di perjalanan dengan Bis BST yang menurutku sangat menarik. Kegiatan praktikum semester 4 ini belum dimulai, jadi aku masih pulang siang hari dengan menggunakan Bis BST seperti biasa. Cuaca di kotaku saat ini sama sekali tidak menentu, jika tidak hujan deras pastilah matahari menyengat begitu panas. Kali itu begitu panas dan itu membuat aku berharap bis yang ku tunggu datang lebih cepat dari biasanya. Ketika bis itu sudah datang, aku cepat-cepat masuk untuk segera merasakan dinginnya AC bis dan juga untuk memilih kursi di bagian depan agar bisa lebih jelas melihat-lihat jalan.
Aku sangat mudah mabuk perjalanan terlebih jika supir bisnya kurang handal, jadi aku harus selalu mencari kegiatan agar pikiranku dapat teralihkan. Dan seperti biasa, pertama-tama aku memilih untuk mengamati orang yang ada di sekitarku satu per satu. Aku mencoba-coba untuk menebak karakter dan kehidupan seseorang melalui penampilannya, seperti yang biasa dilakukan Sherlock Holmes (tokoh fiktif detektif). Tetapi tentu saja tebakan itu tidak akan tepat, karena itu hanya sekedar iseng untuk membunuh waktu. Disinilah hal menarik yang aku ingin ceritakan. Di depanku ada seorang nenek-nenek, yang kira-kira umurnya sudah 60 an. Ia mengenakan baju yang juga dilengkapi dengan kerudung. Namun ia sama sekali tidak terlihat rapi, kerudungnya pun juga tidak menutupi rambutnya dengan sempurna karena sebagian rambutnya masih terlihat jelas. Kemudian aku berfikir, “apakah nenek ini ada yang mengurus?jika ada, mengapa ia dibiarkan memakai pakaian yang kurang rapi?lalu apakah nenek itu tahu bahwa rambutnya masih tetap terlihat berantakan meskipun telah menggunakan kerudung? Apa mungkin Allah akan menghukuminya dalam hal menutup aurat sama dengan kita yang masih muda ini?”.
Di tengah-tengah lamunanku itu, nenek yang sedang kuperhatikan tadi berusaha mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Nenek itu sepertinya pengelihatannya sudah kurang jelas, karena aku melihatnya cukup lama untuk menemukan yang ia cari di dalam tasnya. Aku mengira dia akan mengeluarkan minyak nyong-nyong yang biasa digunakan nenek-nenek agar tidak mabuk perjalanan *yang biasanya justru bikin orang di sekitarnya makin mabuk*. Namun ternyata aku salah, yang ia keluarkan adalah secarik kertas yang dilipat-lipat menjadi kecil. Ia mengeluarkan lalu mencium kertas itu. Pikiran dramaku kembali menerka-nerka, “apa yang tertulis di kertas itu? Apa itu surat dari suaminya yang kini sudah tiada? Apa mungkin dari anaknya yang tinggal jauh darinya?”. Untung saja rasa penasaranku itu tidak berlangsung lama, karena ia segera membuka lipatan kertas yang telah diciumnya itu.
Dia membukanya dengan begitu perlahan, hingga akhirnya terbuka sempurna. Aku yang duduk di sebrangnya, tidak butuh banyak usaha untuk dapat melihat apa isi dari kertas lusuh yang telah dilipat-lipat itu. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat isi di kertas itu, karena aku sama sekali tak menyangkanya. Kau tahu apa isinya? Ya, bait-bait doa. Ternyata kertas yang ia keluarkan dan cium tadi adalah kertas yang berisikan beberapa doa yang diawali dengan shalawat Nabi. Doa itu ditulis dalam bahasa arab, namun dibawahnya terdapat cara membacanya dalam bahasa indonesia. Ia membaca yang dalam Bahasa Indonesia itu dengan penuh kekhusukan, dengan agak sedikit kesulitan karena sepertinya pengelihatannya yang sudah mulai kabur. Setelah ia selesai membacanya, kemudian ia melipat kembali kertas itu dan menciumnya lagi sebelum dikembalikan ke tasnya.
Aku yang sama sekali tidak menyangka, hanya bisa diam termenung saat itu, karena rasanya Sherlock Holmes pun tidak akan berhasil menebak apa sekiranya isi dari kertas itu. Kejadian kecil dengan hikmah yang sangat luar biasa. Seketika udara yang masih terasa panas walaupun sudah di ruang AC, langsung menyejuk melihat hubungan cinta yang luar biasa. Betapa kita memang sama sekali tidak mampu menilai seseorang dari bagaimana ia terlihat. Pertanyaan-pertanyaanku semula tentang bagaimana hukum dari caranya menutup aurat dengan kerudungnya, pun rasanya telah terjawab sempurna. Ya, dialah wanita yang bertudung cinta. Dia mungkin memang tidak lagi dapat menutupi auratnya dengan sempurna, tetapi bagaimana kita tahu apa saja usaha yang sudah dilakukannya dan bagaimana ia telah merubah sebagian dari masa lalunya. Berkerudung memang bukanlah hal biasa bagi wanita Indonesia zaman dahulu walaupun beragama islam. Aku jadi teringat cerita nenekku, yang mengatakan bahwa di zamannya dulu hanya orang-orang tertentu dan amat sangat sedikit yang menggunakan kerudung. Sehingga apa yang salah dari nenek ini yang telah berusaha untuk menutup auratnya. Berbeda dengan kita yang masih sempurna akal dan fisiknya, dalam menutup aurat tentu kita harus tetap melakukannya dengan sesempurna mungkin. Mungkin dia baru saja belajar, mungkin dia sudah mulai lupa dan lemah tubuhnya, tetapi iman dan cintanya ternyata begitu besar. Di usia yang sudah tua dengan kondisi yang renta, yang ia lakukan didalam perjalanannya bukanlah istirahat tidur, tetapi justru memanjatkan doa.
Apa sekiranya yang membuat ia mencium kertas itu dan baru mulai berdoa? Karena ia melakukannya dengan penuh cinta dan penghormatan. Walaupun matanya sudah mulai kabur dan ia tidak mampu membaca doa dalam bahasa arab, hal tersebut sama sekali tidak dijadikannya penghalang untuk tetap memanjatkan doa. Ia mungkin tidak memiliki banyak pengetahuan agama, tetapi keyakinan dan cintanya begitu besar. Ia mungkin tidak begitu mengerti, tetapi ia memiliki rasa yang begitu besar hingga meluluhkan hati pengamatnya. Betapa banyak orang-orang yang mengumumkan dirinya berilmu, hafal Al-Qur’an dan Hadits, tetapi masih tetap krisis rasa, keyakinan dan penghormatan terhadap islamnya? Bukan, bukan berarti mencari ilmu atau menghafal Al-Qur’an itu buruk, tentu saja itu sangat mulia. Namun itu saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang baik dalam beragama, jika tidak ada “ruh” dalam ibadahnya tersebut. Kuantitas itu penting, tetapi kualitas itu juga sangat tidak kalah penting. Berapa banyak saat ini orang yang memakai surban dan baju taqwa, namun beragama hanya mengikuti hawa nafusnya untuk kepentingan dunia?
Maka sebagai manusia jelas sekali keterbatasan kita dalam menilai seseorang. Lalu apa? Apa berati ketika kita melihat seseorang dengan baju taqwa, berarti kita tidak boleh meyakini bahwa dia adalah seseorang yang baik dalam agamanya? Tentu saja bukan begitu. Hal ini berarti, kita harus menjadikan diri kita mampu terus berkhusnudhon tanpa batas. Dalam melihat bagaimana saja penampilan seseorang, kita harus mampu yakin bahwa dalam dirinya terdapat begitu banyak kebaikan yang tidak kita miliki. Jika untuk langsung meyakini itu masih sulit bagi akal sehat kita, maka dapat kita mulai dari menghadirkan fantasi-fantasi baik yang mungkin ada dalam diri setiap orang. Selain berkhusnudhon, ada hal lain yang dapat kita ambil dari cerita tadi. Ya, ladang untuk berdoa. Setiap orang yang kita temui di jalan, di kantor, di kampus atau dimanapun itu, merupakan ladang untuk berdoa. Bagaimana bisa disebut ladang untuk berdoa sedangkan kita tidak mengenalnya? Tentu saja bisa, karena kita relah mengenal yang namanya khusnudhon sebelumnya. Setelah melihat apa yang dilakukan nenek tersebut, tentu saja kesempatan berdoa tidak boleh dilewatkan. Bagaimana jika ternyata dia memanglah salah satu dari Wali Allah? Maka merupakan kesempatan baik bagi kita mendoakan baginya seluruh kebaikan di dunia ini dan di akhirat kelak, dan kita juga meminta kepada Allah agar jika dia memang lebih baik dari kita, maka kita dapat disampaikan bahkan dilebihkan dari kedudukannya dari sisi Allah. Mendoakan bagi kebaikan siapa saja itu sangat besar pahalanya, terlebih jika memang yang kita doakan itu adalah salah seorang kekasihNya.
Semoga Allah senatiasa memperbaiki urusan dunia dan akhirat kita, menjadikan kita salah satu kekasihnya dan menganugerahi kita kemampuan untuk selalu berkhusnudhon dan berdoa untuk orang lain. Semoga Allah menjadikan kita hambanya yang hidup bernafaskan cinta atas islam yang merupakan rahmat bagi semua. Semoga Allah menjadikan kita orang yang mengetahui, berakhlak dan berkeyakinan dengan sempurna. Amin, amin, Ya Rabbal ‘Alamin. Dan hikmah terakhir dari perjalananku kali itu adalah aku jadi tidak mabuk perjalanan, karena sibuk terheran-heran..
Nice rimaaah, ini di tulis buat hobi sekaligus ngasih ilmu buat yang baca ��
ReplyDeleteIlmu yang kau dapat dari talim yaa kau masukkan juga ��
Dakwah lewat tulisan teruuss yaa rima,aku bisa jadi salah satu fans tulisan muu wkwkwk
Nice rimaaah, ini di tulis buat hobi sekaligus ngasih ilmu buat yang baca ��
ReplyDeleteIlmu yang kau dapat dari talim yaa kau masukkan juga ��
Dakwah lewat tulisan teruuss yaa rima,aku bisa jadi salah satu fans tulisan muu wkwkwk
Wheheheh amiiin, insyaAllah feb..
DeleteTerimakasih teman seperjuangan, love love 💜😘